Umat Islam, Buih atau Gelombang?

24

Jakarta, Seruji.com. Bahwa umat Islam pada akhir zaman diibaratkan seperti hidangan di atas piring yang diserbu para pelaku industri sekuler, ada banyak data yang mendukungnya. Secara demografi, dunia Islam dan negara-negara muslim memiliki jumlah penduduk besar, serta mendapatkan bonus demografi berupa melimpahnya usia muda (youth bulge).

The Global Islamic Economy Report 2015/2016 yang ditugaskan dan didukung oleh Pusat Pengembangan Ekonomi Islam Dubai (DIEDC) dan dalam kemitraan dengan Thomson Reuters dan DinarStandard merilis data,  umat Islam mengisi 23 persen populasi manusia di Bumi (sekitar 1,6 miliar jiwa), dengan usia tengah (median) di usia 24 tahun. Dari sisi populasi, muslim tumbuh 1,6 persen per tahun, lebih besar dibandingkan pertumbuhan populasi dunia yang berada pada kisaran 0,7 persen per tahun.

Secara lebih spesifik, OgilvyNoor, Konsultan branding dan pelayanan konsultasi global  yang dibentuk khusus untuk berhubungan dengan pangsa muslim mengunggah  data mengenai pasar muslim masa depan. Bahwa, satu di antara tiga muslim di dunia berusia di bawah 15 tahun, dua di antara tiga berusia di bawah 30 tahun. Jumlah tersebut melebihi satu milyar orang, yang berkontribusi 14% kepada populasi dunia. Di 81 negara, populasi Muslim akan melebihi 1 juta orang. Lebih dari 60% Muslim hidup di Asia dan 500 juta Muslim hidup sebagai minoritas di seluruh dunia. Di tempat-tempat seperti India—walau pun sekarang mereka adalah minoritas, mereka semakin banyak yang berada di kelas ekonomi menengah.

Data tersebut disampaikan bersamaan dengan peluncuran buku “Generation M: Young Muslims Changing the World,” Oktober  tahun lalu,  yang membahas mengenai peningkatan tren konsumerisme global dengan fokus generasi Muslim. Hal ini berkaitan semakin bertambahnya jumlah populasi Muslim dan peranannya yang penting bagi perekonomian dunia.

Kabar baiknya, seperti  disadari oleh penulisnya Shelina Janmohamed dalam buku itu, pengaruh keberadaaan Generasi Muslim   terhadap lingkungan bahkan hingga tingkat global, semakin terlihat di mana-mana. Dalam bukunya, Shelina mencatat lebih dari 90% konsumen muslim mengatakan konsumsi mereka terpengaruh kepercayaannya. Karena itu tidak heran kalau bisnis, produk dan brand yang melibatkan konsumen Muslim telah menarik perhatian yang sangat besar. Industri makanan halal dan gaya hidup, diestimasi memberikan kontribusi $US 1,8 triliun pada 2014, dan diprediksi akan meningkat ke$ 2,6 triliun pada 2020. Keuangan Islam juga diprediksi akan meningkat dari $1,3 triliun menjadi $2,6 trilliun.

Data Shelina sejalan dengan laporan The Global Islamic Economy Report 2015/2016. Research Project dari Pusat Pengembangan Ekonomi Islam Dubai (DIEDC) tersebut menyebutkan, sepanjang tahun 2014,  industri pangan halal food and beverages (F&B), pasar muslim global menghabiskan dana sebesar $1,128 triliun sepanjang tahun 2014, setara dengan 16,7% total nilai belanja dunia di tahun 2014. Jauh lebih besar dibanding pasar negara China $798 milyar dollar dan Amerika $741 milyar dollar.

Di bidang fashion, pasar konsumen muslim menghabiskan $230 Milyar di tahun 2014, setara dengan 11% total nilai belanja global, dan urutan ketiga dari pasar global untuk fashion setelah AS dan China. Pasar fashion muslim ini telah menarik perhatian dan investasi dari pemain fashion internasional seperti Uniqlo, DKNY, dan Tommy Hilfigher.

Di bidang farmasi dan kosmetik, wacana kosmetik dan obat halal juga terus menyedot perhatian. Muslim global menghabiskan 75 milyar dollar, setara dengan 6,7% total nilai belanja farmasi global. Untuk isu ini, Malaysia berhasil mengembangkan vaksin halal yang bisa menjadi pesaing perusahaan farmasi besar di Barat. Di sektor travel, pengeluaran muslim global untuk travel, mencapai 142 milyar dollar (diluar data perjalanan haji dan umrah), setara dengan 11% total nilai belanja dunia untuk bidang travel.

Di sektor finansial atau keuangan, aset keuangan islami mencapai 1,81 triliun dollar di tahun 2014. Meningkat dibandingkan dengan tahun 2013 sebesar 1,65 trilyun dollar. Tahun 2020, diproyeksikan, aset keuangan Islami mencapai 3,25 trilyun dollar. Sedangkan aset Bank Islam komersial tahun 2014 mencapai 1,35 trilyun dollar dengan proyeksi angka pertumbuhan 9,92%. Di tahun 2020, angka aset Bank Islam komersil diprediksi mencapai 2,6 trilyun dollar. Menurut Islamic Corporation for the Development (ICD), aset sukuk syariah global pada 2015 mencapai 1,8 triliun dolar AS dengan proyeksi pertumbuhan keuangan syariah global sebesar 10 persen per tahun (gross) dari tingkat pertumbuhan ekonomi syariah. Bahkan, pada 2020 nilai aset keuangan syariah global diproyeksikan mencapai 3 triliun dolar AS.

Bagaimana dengan Indonesia? Sebagai salah satu pusat pergerakan generasi Muslim, Shelina mengamati  pertumbuhan konsumerisme Muslim Indonesia terlihat bergerak naik sejak sekitar lima tahun lalu. Dari 750,000 usaha kecil dan menegah di bidang fesyen di Indonesia, 30% berada di dalam industri fesyen Muslim. Sedangkan dalam sektor pariwisata, Kementerian Pariwisata telah mencatat kenaikan wisatawan Muslim ke Indonesia dan terdapat peningkatan sebanyak 10% dari tahun 2014 ke 2015.

Maka tidak heran kalau pemerintah berani menargetkan kedatangan 5 juta wisatawan Muslim ke Indonesia pada 2019 atau meningkat dua kali lipat dari target 2016. Rencana ambisius ini dilakukan untuk memaksimalkan upaya Indonesia untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar dari pasar Muslim yang selama ini baru bisa menarik 1,2% dari total market share total dunia dari pariwisata halal, di saat Malaysia dan Thailand masing-masing telah mendapatkan 25% dan 24% pada tahun lalu.

Tapi apakah angka-angka tersebut sudah memperlihatkan bahwa umat Islam bukan sekadar buih?  Jelasnya, apakah  angka-angka yang besar itu sudah mampu  membawa umat  keluar dari kesulitan-kesulitan?  Satu tahun sebelum   umat bersatu dalam Aksi Damai 212, pengamat ekonomi syariah Syafi’i Antonio mengritisi kecilnya kontribusi produk domestik bruto negara-negara anggota OKI yang hanya sebesar $6,4 triliun atau hanya sekitar 9% dari nilai PDB dunia.   Padahal dengan jumlah populasi muslim mencapai 1,6 miliar jiwa atau sekira 25 persen dari total populasi  dunia, Syafi’i berpendapat  kontribusi PDB umat muslim mestinya juga mencapai angka minimal 25%.

Menurutnya, hal ini terjadi karena kita lebih banyak melakukan konsumsi daripada produksi. Contohnya adalah  nilai ekonomi saat ibadah haji yang bisa mencapai $151 miliar dolar, namun di sisi lain  bisnis layanan bis yang digunakan untuk transportasi bukan merupakan produk negara anggota OKI. Begitu juga dengan bisnis hotel hingga jirigen air zamzam.

“Jadi kita yang ibadah, orang lain yang pesta pora,” ujarnya. Kondisi ini, lanjutnya, terjadi karena negara-negara Islam lemah di manufaktur sehingga belum mampu memenuhi kualitas standar di berbagai negara.

“Ini bahaya karena kita menjadi target pasar dari negara-negara yang lebih produktif,” ujarnya mengingatkan. (nrb)

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama