Pelajaran yang paling sederhana adalah bahwa kurangnya ilmu membuat orang mudah tidak sabaran. Nabi Musa bukan orang yang sombong lagi angkuh, sehingga tidak mungkin ada niat menolak pembelajaran dari orang yang ditunjuk oleh Allah. Tetap saja, walau tidak ada sifat itu, rasa tidak sabaran tetap muncul dikala apa yang dipikirkan atau logikanya tidak bisa menerima.
Pelajaran lainnya dari apa yang dilakukan Khidhr, ada hal yang kemudian bisa dimengerti ketika sudah diterangkan, seperti melobangi kapal. Secara logika bisa diterima, melobangi kapal karena agar tidak dirampas oleh raja lalim. Artinya, ketika ilmu cukup, maka hal sebelumnya dianggap “tidak masuk akal” bisa menjadi “masuk akal”.
Namun, ketika Khidhr membunuh anak kecil yang dikhawatirkan akan menjadi fitnah orangtuanya, sama sekali tidak bisa masuk logika sedikitpun. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di masa depan kecuali Allah. Alasan yang tidak masuk akal ini mungkin memang disengaja oleh Allah, untuk menunjukkan bahwa manusia itu tetap terbatas kemampuan menyerap ilmunya walau dipaksakan sekuat apapun juga. Dan ini ditegaskan oleh Khidhr bahwa apa yang dilakukannya hanyalah perintah dariNya.
Dalam jamaah atau majelis ilmu, sebagai seorang yang dipimpin atau sebagai murid, tempatkanlah sebagai orang yang kurang ilmu seperti posisi Nabi Musa terhadap Khidhr. Bisa jadi apa yang dilakukan pimpinan dirasa cukup aneh, namun jangan segera diprotes atau dipertanyakan. Mungkin karena kurang ilmu sajalah maka terasa aneh atau janggal. Perlu kesabaran bahkan untuk memenuhi keingintahuan sekalipun.
Ada kalanya, suatu hal yang dilakukan pemimpin atau guru bahkan tidak pernah bisa dimengerti walau sudah dijelaskan berkali-kali. Barangkali, ini karena keterbatasan kemampuan seseorang memahami sesuatu. Jika terjadi demikian, perlu ada kepercayaan bukan atas hal yang tidak dimengerti, namun atas hal yang sudah dipahami bersama. Bisa jadi, Nabi Musa tetap tidak mengerti penjelasan Khidr, namun tetap percaya posisi Khidhr sebagai orang yang ditunjuk Allah.

Masalah nya, dimasa sekarang. Kapan kita tahu, bahwa Pemimpin kita itu layak nya seperti Nabi Khidir, yg harus kita ikuti, tanpa mikir. Atau pemimpin kita justru seperti Firaun, yg zhalim nggak ketulungan.