SERUJI.CO.ID – Nabi Musa, seorang utusan Allah yang mendapat amanah sangat berat, yakni menyelamatkan Bani Israil dari kekejaman Firaun sekaligus membimbing umatnya. Karena itu, Allah memerintahkan Nabi Musa untuk belajar kepada Khidhr, seseorang yang diberi ilmu khusus dari Allah.
Belajarnya Musa kepada Khidhr pun diabadikan dalam surat Al Kahfi ayat 60 hingga 82.
Kisah pertemuan Nabi Musa dan Khidhr bisa dikatakan eksotis, dimulai dari perjalanan Nabi Musa dengan seorang pendampingnya untuk mencari suatu lokasi yang diperintahkan, hingga pertemuan pembelajaran ala Khidhr yang Nabi Musa tidak sabar untuk mengikutinya. Jika dibaca dengan kacamata logika ilmu pengetahuan, niscaya kisah ini dikategorikan fiksi belaka. Namun, Allah maha berkuasa atas segala apa yang terjadi.
Sebelum pembelajaran dimulai, Khidhr sudah menyatakan bahwa Nabi Musa tidak akan sabar mengikutinya. Alasannya, ilmu Nabi Musa belum cukup. Dan benar, tatkala Khidhr melakukan sesuatu selalu diprotes oleh Nabi Musa. Tatkala akhirnya dinyatakan lagi bahwa Nabi Musa pasti tidak akan sabar, maka Nabi Musa berjanji tidak akan protes lagi.
Kalau ayat-ayat dalam Al Kahfi tersebut dibaca, yang dilakukan Khidr memang pantas diprotes secara logika. Bagaimana tiba-tiba kapal dilubangi, membunuh anak kecil tak berdosa, hingga mendirikan dinding-dinding rumah tanpa upah. Bahkan, mendengarkannya saja seperti mendengar dongeng yang dibuat-buat. Padahal, begitulah faktanya.
Mengapa peristiwa ini diceritakan dalam Al Quran? Apa maksud Allah? Tentu, ini sebuah pelajaran yang perlu diresapi karena tentu tidak ada ayat yang diturunkanNya melainkan sebagai pelajaran bagi manusia.

Masalah nya, dimasa sekarang. Kapan kita tahu, bahwa Pemimpin kita itu layak nya seperti Nabi Khidir, yg harus kita ikuti, tanpa mikir. Atau pemimpin kita justru seperti Firaun, yg zhalim nggak ketulungan.