Belajar Akhlak Berjamaah dari Pertemuan Nabi Musa dengan Khidhr

Adapun sebagai pemimpin atau guru, cukuplah ayat Allah dalam surat Al A’raf ayat 119 sebagai pedoman :

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِين

Artinya : “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.”

Seorang pemimpin atau seorang guru hendaknya memahami bahwa orang yang dipimpin itu tidaklah selalu memiliki ilmu yang cukup untuk bisa mudah memahami ilmu baru. Dengan kesadaran ini, akan mudah memaafkan, tidak mudah memvonis. Cukup dengan menyuruh berbuat kebaikan, serta berpaling (tidak perlu menanggapi serius) orang-orang yang (maaf) masih bodoh.

Ketika pemimpin tidak diikuti anak buahnya, bukan berarti sudah hilang kepercayaan kepada pemimpin. Bisa jadi karena kekurangsabaran mereka saja. Bahkan, Nabi Muhammad pun pernah tak diacuhkan sahabat-sahabatnya sendiri, saat kerinduan mereka untuk mengunjungi Baitullah harus tertunda sebab keputusan politik Nabi paska perjanjian Hudaibiyah. Tak mengacuhkan bukan berarti tidak menaruh kepercayaan, karena kemudian ketika Nabi memberi teladan nyata, para sahabat tersadar dari emosi kerinduan untuk kembali ke kesatuan jamaah.

Benarlah firman Allah, “nasehat-menasehatilah dengan kesabaran”.

 

Muhammad Hanif Priatama
(Hrn)

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

1 KOMENTAR

  1. Masalah nya, dimasa sekarang. Kapan kita tahu, bahwa Pemimpin kita itu layak nya seperti Nabi Khidir, yg harus kita ikuti, tanpa mikir. Atau pemimpin kita justru seperti Firaun, yg zhalim nggak ketulungan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER