Dinkes Kalbar: Banyak yang Keliru Pahami Stunting

Program kesehatan sejak ibu hamil hingga anak berusia dua tahun menjadi penting untuk mengatasi hal tersebut.

“Program 1000 Hari Pertama Kehidupan itu, menjadi kesempatan emas dalam memperbaiki gizi anak dan mencegah ‘stunting’,” kata dia

“Merupakan masa kritis untuk investasi gizi mencapai pertumbuhan dan perkembangan anak sehat,” imbuhnya.

Tak hanya kecerdasan, katanya, Program 1000 Hari Pertama Kelahiran dapat mengurangi penyebab kematian bayi, mendorong orang tua untuk aktif memantau pertumbuhan balita ke posyandu, serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

“Ini menurunkan anak pendek, kurus, dan berisiko lebih rendah menderita penyakit gula darah, diabetes, stroke, jantung koroner, serta obesitas,” katanya.

Selain itu, ujarnya, kemiskinan menjadi salah satu faktor yang mendorong munculnya kasus-kasus “stunting”. Kemiskinan tidak hanya dilihat dari faktor asupan gizi yang tidak mencukupi, namun juga karena akses terhadap fasilitas kesehatan, serta sanitasi lingkungan yang kurang.

Di sejumlah daerah, khususnya di desa-desa, masih ditemukan sarana sanitasi lingkungan yang tidak layak sehingga berpotensi menjadi penyebab “stunting”.

“Misalnya kondisi jamban, masih ada yang menggunakan jamban yang terdapat di pinggiran sungai yang mana dari sisi higienisitas tidak layak,” katanya.

Oleh karena itu, perlu peningkatan kesadaran masyarakat untuk melakukan aktivitas buang air di jamban yang layak serta memastikan akses terhadap air bersih tercukupi.

Direktur Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) Borneo Reni Hidjazi mengatakan tantangan untuk mengampanyekan gizi nasional, khususnya untuk mencegah “stunting”, tidak mudah, terutama mengajak orang untuk sadar dan paham tentang penyebab, gejala, dan akibat jangka panjang, serta pencegahan “stunting”.

Pihaknya melakukan pendampingan terhadap lima kecamatan di Kubu Raya dengan masuk ke desa-desa, melakukan kelas ibu hamil, kelas ibu balita, ke posyandu, hingga puskesmas.

“Partisipasi laki-laki juga diperlukan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman dalam mencegah ‘stunting’,” kata dia.

Suami sebagai pemberi nafkah, menurut dia, seringkali tidak mau terlalu tahu soal pencegahan “stunting”. Padahal keterlibatan para suami penting karena membantu sang istri, terutama soal pemberian asupan makanan bergizi dan mendorong untuk penerapan ASI ekslusif.

“Kita juga berharap para suami mau mengantar istri saat pemeriksaan dan mau mencari informasi dan mendengarkan informasi tentang ‘stunting’ ini,” katanya.

Reny mengatakan pengetahuan tentang “stunting” masih sedikit diterima perempuan, terutama di desa. Periode 1000 Hari Pertama Kehidupan juga berpengaruh bagi kesehatan ibu dan anak.

“Titik rawan ‘stunting’ itu satu di antaranya saat masa awal kehamilan. Ada masa mengidam, nah ini sangat rawan, biasanya perempuan malas makan. Makan ala kadarnya sehingga gizi tidak terpenuhi,” katanya. (Ant/SU03)

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER