Dinkes Kalbar: Banyak yang Keliru Pahami Stunting

0
32
stunting
Anak dengan kondisi stunting. (Foto: Istimewa)

PONTIANAK, SERUJI.CO.ID – Dinas Kesehatan Kalimantan Barat menyatakan masyarakat setempat masih banyak yang keliru memahami “stunting” dengan menganggap bahwa hal itu terjadi karena faktor keturunan dan sesuatu yang wajar.

“Kebutuhan gizi anak yang tidak tercukupi dapat menghambat pertumbuhan anak, bahkan bisa menyebabkan ‘stunting’,” kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kalbar, Yulsius Jualang, menanggapi masih adanya pemahaman yang keliru mengenai “stunting” di Pontianak, Kamis (7/12).

Ia menjelaskan “stunting” merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya.

Namun, ujarnya, masih banyak yang menganggap bahwa “stunting” terjadi karena faktor keturunan dan sesuatu yang wajar.

Jualang mengungkapkan tentang besaran masalah gizi balita Kalbar berdasarkan pantauan status gizi (PSG) 2016.

Dari indikator kurang atau buruk prevalensinya di Kalbar mencapai 27,5 persen lebih tinggi dari nasional, yakni 17,8 persen, sedangkan indikator pendek dan sangat pendek prevalensi di Kalbar 34,9 persen, sedangkan secara nasional 27,5 persen.

Indikator kurus dan sangat kurus mencapai 14,4 persen, secara nasional prevalensinya 11,1 persen. Indikator gemuk, prevalensinya di Kalbar mencapai 4,8 persen, dan secara nasional 4,3 persen.

Pada 2016, berdasarkan kelompok umur di Kalbar, tercatat balita yang berada pada usia 0-23 bulan yang mengalami gizi kurang 24,5 persen, pendek 32,5 persen, kurus 16,1 persen, dan gemuk 4,5 persen, sedangkan dari 0-59 bulan yang mengalami gizi kurang 27,5 persen, pendek 34,9 persen, kurus 14,4 persen, dan gemuk 4,8 persen.

“Itu sebabnya penanganan masalah gizi membutuhkan kerja sama antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah,” kata dia.

Komentar

BACA JUGA
garam

Tingkatkan Kualitas, Pemkab Kembangkan 75 Hektar Lahan Garam Terintegerasi

MAKASSAR, SERUJI.CO.ID - Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, mengembangkan 75 hektar lahan garam terintegrasi di dua kecamatan yaitu Labakkang dan Bungoro. "Tahun ini kami...

Legislator: Generasi Muda Lebih Suka Baca Status Daripada Buku

SEMARANG, SERUJI.CO.ID - Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Mujib Rohmat prihatin dengan generasi muda yang lebih senang membaca status di media...
akun ustadz Somad disuspend

Akun Ustadz Somad Raib, Ini Protes Kang Emil ke Instagram

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Jagad dunia maya dihebohkan dengan tiba-tiba lenyapnya akun instagram ulama terkemuka, ustadz Abdul Somad sejak hari ini, Ahad (25/2). Akun ustadz...

Drainase Buruk Sebabkan Jalan Protokol di Cianjur Banjir

CIANJUR, SERUJI.CO.ID - Sejumlah pengguna jalan menduga buruknya pembangunan drainase di sepanjang jalan protokol di Cianjur, Jawa Barat, sebagai penyebab banjir terutama ketika hujan...

BNPB: Bukit dengan Hutan Saja Tidak Cukup Cegah Longsor

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bencana longsor di Brebes, Jawa Tengah, harus...
loading...
Screenshot_20180115_194046

PKS Optimis Peroleh 5 Kursi DPRD Pasaman Barat pada Pileg 2019

SIMPANG EMPAT – PKS optimis lima kursi DPRD Kabupaten Pasaran Barat akan diperolehnya pada pileg 2019. Hal ini disampaikan oleh Fajri Yustian Ketua Tim...
images (5)

Garis 7: Sesat Nalar

Analogi adalah sebuah cara otak untuk memahami sesuatu. Analogi mirip dengan perumpamaan. Jika ada orang yang bertanya bagaimana cara membuat jelly, maka paling mudah...
IMG_20180224_110625_530

Mencari Logika di Balik Kasus Tuduhan ke Habib Rizieq Shihab

Habib Rizieq Shihab (RHS) juga ditetapkan sebagai tersangka, setelah sebelumnya FH dijerat pasal pornografi dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara. RHS bahkan...