Dinkes Kalbar: Banyak yang Keliru Pahami Stunting

0
84
  • 2
    Shares
stunting
Anak dengan kondisi stunting. (Foto: Istimewa)

PONTIANAK, SERUJI.CO.ID – Dinas Kesehatan Kalimantan Barat menyatakan masyarakat setempat masih banyak yang keliru memahami “stunting” dengan menganggap bahwa hal itu terjadi karena faktor keturunan dan sesuatu yang wajar.

“Kebutuhan gizi anak yang tidak tercukupi dapat menghambat pertumbuhan anak, bahkan bisa menyebabkan ‘stunting’,” kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kalbar, Yulsius Jualang, menanggapi masih adanya pemahaman yang keliru mengenai “stunting” di Pontianak, Kamis (7/12).

Ia menjelaskan “stunting” merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya.

Namun, ujarnya, masih banyak yang menganggap bahwa “stunting” terjadi karena faktor keturunan dan sesuatu yang wajar.

Jualang mengungkapkan tentang besaran masalah gizi balita Kalbar berdasarkan pantauan status gizi (PSG) 2016.

Dari indikator kurang atau buruk prevalensinya di Kalbar mencapai 27,5 persen lebih tinggi dari nasional, yakni 17,8 persen, sedangkan indikator pendek dan sangat pendek prevalensi di Kalbar 34,9 persen, sedangkan secara nasional 27,5 persen.

Indikator kurus dan sangat kurus mencapai 14,4 persen, secara nasional prevalensinya 11,1 persen. Indikator gemuk, prevalensinya di Kalbar mencapai 4,8 persen, dan secara nasional 4,3 persen.

Pada 2016, berdasarkan kelompok umur di Kalbar, tercatat balita yang berada pada usia 0-23 bulan yang mengalami gizi kurang 24,5 persen, pendek 32,5 persen, kurus 16,1 persen, dan gemuk 4,5 persen, sedangkan dari 0-59 bulan yang mengalami gizi kurang 27,5 persen, pendek 34,9 persen, kurus 14,4 persen, dan gemuk 4,8 persen.

“Itu sebabnya penanganan masalah gizi membutuhkan kerja sama antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah,” kata dia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU