Membangkitkan Peran Mahasiswa Mengawal Pemilu 2019

SERUJI.CO.ID – Momentum perhelatan Nasional Pemilu serentak, Pilpres dan Pileg, tahun 2019 tepatnya tanggal 17 April 2019 yang akan datang hanya tinggal hitungan hari. Berbagai permasalahan yang timbul jelang hari pencoblosan belum juga terselesaikan. Mulai dari permasalahan kesiapan penyelenggara ( KPU dan Bawaslu), netralitas dan kejujuran Aparatur Negara (TNI, Polri, ASN), Kepala Daerah, sampai kepada Lurah, Kepala Desa, Kepala Dusun/Kepala Lingkungan.

Juga persoalan kesiapan masyarakat, berupa pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang arti pentingnya Pemilu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta masa depan eksistensi negara dan bangsa ini, integritas dan kejujuran penyelenggara,

Selain itu berbagai isu yang berkembang dan beredar di berbagai media massa dan media sosial tentang praktek-praktek kecurangan proses pelaksanaan pemilu yang sampai saat ini belum pernah diklarifikasi oleh pihak-pihak yang berwenang maupun Pemerintah secara clear alias tuntas. Semua isu-isu yang muncul dan melanda informasi yang diterima publik dibiarkan semakin memperkeruh suasana.

Isu pemilih ganda, pemilih siluman, pemilih WNA yang mendapat e-KTP, bahkan dugaan praktek money politic dengan berbagai modus, tidak mendidik dan merendahkan martabat bangsa. Benar-benar telah jauh dari akal sehat.

Disamping itu praktek intimidasi, tekanan dengan berbagai cara termasuk penggunaan instrumen hukum kepada pihak-pihak yang dianggap berseberangan dengan rezim Petahana terus berkelanjutan. Semua ini telah menimbulkan gonjang-ganjing dalam kehidupan berbangsa dan bernegara… Mau kemana dibawa bangsa ini…???.

Apa Akar Persoalan Gonjang Ganjing Ini?

Melihat praktek berbangsa dan bernegara saat ini tentunya kita sudah masuk pada tahap yang mengkhawatirkan. Andaikan para Pendiri dan Pejuang Syuhada Bangsa ini masih hidup, tentunya mereka pasti menangis dan bersedih melihat para generasi penerusnya yang diberi amanah memimpin dan mengelola bangsa ini bukan lagi meneruskan dan melanjutkan cita-cita luhur sewaktu mereka mempertaruhkan jiwa, raga dalam merebut kemerdekaan dari tangan bangsa penjajah. Tidak lagi memegang teguh amanah, moral bangsa, nilai-nilai luhur, adab/akhlak kehidupan yang dibangun berdasarkan Idiologi Pancasila.

Diakui atau tidak, sejak Pemilu Tahun 2014 kondisi kehidupan Bangsa ini sudah terbelah, dan tak pernah ada usaha yang serius dari para Pemimpin Bangsa untuk menyatukan dalam suatu tatanan kerukunan hidup yang satu keluarga besar namanya “Persatuan dan Kesatuan Seluruh Bangsa Indonesia”. Kondisi pembelahan ini semakin menganga menjelang hari-hari pesta demokrasi 17 April 2019.

Pertanyaannya adalah apakah setelah Pemilu 2019 kondisi kehidupan dan terutama rajutan persatuan dan kesatuan sesama anak bangsa ini dapat kembali terjalin lebih baik, ataukah malah sebaliknya. Tentunya kita berharap Pemilu Serentak 17 April 2019 dapat menjadi “entry point” untuk merajut kembali keakraban, kekeluargaan, kehangatan dalam berbangsa dan bernegara.

Banyak kalangan mengutarakan pengalaman yang mereka rasakan selama jalan panjang kehidupan berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia tercinta ini dari satu rezim ke rezim yang lain, umumnya mengatakan pada fase saat ini merupakan kondisi dan ujian yang sangat berat dan cukup mengkhawatirkan. Terutama dari segi keutuhan dan eksistensi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sikap tersebut mungkin ada benarnya, oleh karena itu perlu mendapat perhatian semua pihak, semua elemen bangsa, meskipun masih perlu mendapat pengkajian yang lebih mendalam.

Siapa Yang Harus Menghentikan Gonjang Ganjing Ini?

Guna menjawab pertanyaan tersebut maka kita dapat melihat kembali sejarah perjalanan kehidupan bangsa ini. Berbagai peristiwa dan gejojolak yang pernah menghiasi perjalanan sejarah bangsa ini, maka salah satu elemen masyarakat yang tidak pernah alpa dan tetap hadir adalah mereka kelompok Mahasiswa Indonesia. Mahasiswa sebagai kaum terpelajar, kaum kritis, kaum idealis , sebagai agent of changes, agen perubahan terutama manakala ada kebuntuan, ada ketidak adilan, ada kesenjangan, ada kesewenang-wenangan, ada otoritarian, ada penyimpangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dari apa yang diamanahkan oleh konstitusi UUD 1945 dan Idiologi Bangsa yaitu Pancasila.

Tampilnya peran-peran yang dilakukan para mahasiswa baik yang tegabung dalam organisasi internal kampus maupun organisasi eksternal kampus selama ini telah dicatat oleh sejarah bangsa sebagai bukti keteguhan dan komitmen mereka terhadapa tanggung jawab moral dan tanggung sosial dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran, kejujuran, keadilan, demokrasi yang dibimbing oleh sikap dan perilaku idealisme yang mereka junjung tinggi.

Persoalan yang mendera kehidupan bangsa saat ini telah menjalar hampir ke seluruh aspek kehidupan, namun disisi lain ternyata saat ini peran mahasiswa sangat meredup atau bahkan tidak berlebihan bila dikatakan, hilang dari pentas politik bangsa, hal ini ditandai dengan kurangnya respon yang mereka berikan terhadap kondisi kehidupan bangsa dan negara yang ada saat ini.

Berbagai persoalan yang cukup mengkhawatirkan yang sedang dihadapi bangsa ini, khususnya yang berkaitan dengan seluruh rangkaian tahapan pelaksanaan pesta demokrasi Pemilu 17 April 2019, hampir luput dari tanggapan dan apresiasi para Mahasiswa Indonesia.

Sungguh banyak isu-isu miring yang berkaitan dengan indikasi kecurangan dalam seluruh proses tahapan pelaksanaan Pemilu yang secara kasat mata diekspos bebagai media massa dan media sosial sebagaimana diuraikan di atas ternyata luput dari perhatian para Mahasiswa Indonesia. Publik menjadi bertanya, apakah Mahasiswa yang ada saat ini sudah berbeda dengan senio-senior mereka yang pernah menjadi mahasiswa pada masa yang lalu, yang penuh dengan sikap kritis, idealis, responsif dan patriotis. Ataukah memang mahasiswa yang sekarang sudah tidak perduli lagi tentang permasalahan kehidupan rakyat, bangsa dan negari ini…?. Mudah-mudahan mereka segera bangkit dan ikut menjadi lokomotif terdapan dalam mengawal jalannya Pemilu 17 April 2019.

Penutup.

Walaupun tinggal hitungan hari masa pelaksanaan Pemilu 17 April 2019, tentunya tidak menjadi alasan bagi para Mahasiswa Indonesia dimanapun anda berada untuk ikut mencatat sejarah pengabdian dan bakti anda dengan melakukan pengawalan terhadap seluruh proses pelaksanaan Pemilu 2019. Baik yang dilakukan secara individual, dan akan lebih baik dan lebih efektif bila dilakukan secara terorganisir di setiap TPS yang ada di seluruh Indonesia, minimal di TPS – TPS tempat tinggal atau domisili masing-masing. Sehingga, Pemilu 17 April 2019 benar-benar Pemilu yang dilaksanakan secara jujur, adil dan bermartabat, jauh dari praktek-praktek curang dan tak bermoral.

Mungkin kepada seluruh Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta yang ada di Indonesia dapat melakukan terobosan dan ide kreatif, langkah cerdas dengan memberikan penugasan atau paling tidak himbauan kepada seluruh mahasiswa masing-masing guna melaksanakan tugas pengabdian sosial melakukan pengawalan secara partisipatif dalam pelaksanaan Pemilu 17 April 2019, sehingga dapat terwujud Pemilu yang benar- benar Jujur, Adil dan Bermartabat serta bebas dari praktek-praktek curang, dan yang, manipulatif dapat dihindari.

”Mari Wujudkan Pemilu 2019 yang LUBER-JURDIL-HALAL & BERMARTABAT”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Mengarahkan Gerakan NKRI Bersyariah

Walau begitu, sekali lagi percayalah bahwa perjuangan Islam politik untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam tak akan pernah mati. Ia akan terus bermetamorfosa dan tersimpan rapi dalam memori kolektif kelompok Islam politik.

Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Bangsa

Walaupun telah merdeka secara politik sejak tahun 1945, akan tetapi RI masih terus tergantung produk perusahaan-perusahaan asing hingga saat ini. Mulai dari bangun pagi ke bangun pagi berikutnya kita menggunakan dan mengkonsumsi produk-produk perusahaan asing. Mulai dari urusan remeh temeh seperti semir sepatu dan jarum jahit sampai urusan canggih-canggih seperti pesawat terbang dan gadged.

Gus Ipul Mentransformasi Kota Pasuruan Menuju Smart City

Pemerintah cerdas adalah pemerintah yang mampu menggunakan teknologi untuk melayani masyarakat secara lebih cepat, lebih murah sekaligus lebih terukur. Dinamika perkembangan teknologi juga berpengaruh terhadap kebutuhan dan harapan masyarakat terhadap pelayanan.

E-Sambat, Cara Gus Ipul Manfaatkan Teknologi Digital untuk Layani Warga Kota Pasuruan

Program Smart City atau Kota Cerdas membuat kerja pemerintah menjadi lebih efisien, termasuk dengan cepat dapat merespon berbagai keluhan masyarakat. Seperti yang dilakukan Pemerintah Kota Pasuruan dengan aplikasi e-Sambat.

Smart City di Surabaya Bukan Sekadar Urusan Aplikasi

Ada enam faktor pendukung terciptanya smart city di Kota Surabaya, Jawa Timur. Program ini bukan sekadar urusan aplikasi, namun juga untuk memberdayakan UMKM.

Terinspirasi Jack Ma, Khofifah Dorong UMKM Masuk ke Dunia Digital

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sejak awal berupaya agar usaha mikro kecil menengah diberikan peluang melalui digitalisasi sistem. Ia terinspirasi Jack Ma, pemilik Alibaba Group, perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok.

Ketum AMSI: Kebutuhan Publik Zaman Now Bukan Hanya Hard News

Media massa digital atau dalam jaringan sudah harus mulai meninggalkan pola pikir konservatif dan konvensional. Masyarakat tak hanya butuh berita keras (hard news), tapi juga informasi keseharian.

Target Pemerintah: 6,1 Juta UMKM On Boarding Setiap Tahun

Usaha mikro kecil menengah di daerah membutuhkan teknologi digital untuk berkembang di era pandemi.

TERPOPULER

Jin Tidak Takut dengan Bacaan Ayat Kursi

Tiga Budaya Sunda yang Unik, Nomer 1 Sudah Jarang Ditemukan

Semua tradisi dan budaya di Indonesia unik dan mempunyai ciri khas tersendiri. Tak ketinggalan juga budaya Sunda dan segala tradisi yang dijalankan.