Seorang Warga Israel Bunuh Anaknya Yang Ingin Masuk Islam

RAMALAH – Seorang ayah telah ditangkap pada Minggu (16/7) karena diduga telah membunuh anak perempuannya setelah mengetahui bahwa dia berniat untuk pindah agama ke Islam. Kejadian ini terjadi di Ramalah, salah satu kota utama di Palestina yang diduduki Israel.

Sami Karra, yang tercatat sebagai warga Israel beragama Kristen, diduga membunuh putrinya, Henriette yang berusia 17 tahun, pada 13 Juni, sehari setelah putrinya tersebut lulus SMA. Menurut pihak berwenang wilayah pendudukan Israel, motif Karra didasarkan pada “penolakan kerasnya” terhadap hubungannya dengan seorang teman pria Muslimnya dan niatnya untuk menjadi seorang Muslimah.

Teman pria Henriette tersebut, yang tidak disebutkan namanya, pada saat itu sedang berada di penjara dan akan dibebaskan pada akhir pekan itu. Henriette dilaporkan mengatakan bahwa dia berencana untuk pindah agama ke Islam pada hari temannya tersebut dibebaskan.

Namun nahas, belakangan pada hari itu, Henriette ditemukan tewas di dapur rumah orang tuanya dengan banyak luka tusukan di lehernya.

Darakshan Raja, pendiri Forum Kebijakan Wanita Muslim Amerika, mencatat standar ganda dalam liputan media tentang kematian Henriette.

“Jika (dibalik) Karra adalah seorang Muslim dan membunuh Henriette karena ingin masuk agama Kristen dan jatuh cinta pada pacarnya yang Kristen, maka pembunuhan tersebut akan digambarkan sebagai “pembunuhan demi kehormatan” (honor killing),” katanya.

Pembunuhan demi kehormatan adalah pembunuhan seorang kerabat, terutama seorang gadis atau wanita, yang dianggap membawa penghinaan kepada keluarga. Menurut Raja, istilah tersebut sering digunakan kalangan orientalis untuk melukiskan Timur Tengah, terutama kaum Muslim, sebagai kaum barbar dan tidak beradab.

“Jika itu adalah seorang ayah Muslim, maka [pembunuhan tersebut] selanjutnya akan diarahkan untuk ‘framing’ yang mencitrakan pria Muslim sebagai keras dan kasar,” lanjut Raja dalam sebuah email yang dilansir mic.com.

Raja mengatakan “pembunuhan demi kehormatan” bukanlah istilah yang tepat untuk pembunuhan-pembunuhan ini dan hal itu telah digunakan sebagai moniker untuk kekerasan dalam rumah tangga atau pasangan intim, yang korbannya didominasi perempuan.

“Seharusnya kita memusatkan pada individu yang terbunuh dan memposisikannya sebagai kekerasan berbasis gender, karena sayangnya banyak wanita – terlepas dari agama dan ras – dibunuh di tangan laki-laki yang mereka kenal,” katanya. “Ini adalah isu universal dan tidak spesifik untuk satu komunitas.”

Dua minggu sebelum kematiannya, Henriette kabarnya kabur dari rumah setelah keluarganya diduga memukulinya dan menyuruhnya untuk memutuskan hubungan dengan teman pria Muslimnya, harian Haaretz melaporkan.

Dia sempat tinggal dengan seorang teman, lalu tinggal bersama ibu kekasihnya untuk sementara waktu. Menurut Newsweek, keluarga tersebut terus melakukan ancaman terhadap Henriette dan ibu kekasihnya sebagai upaya untuk membawanya kembali ke rumah.

Henriette membuat beberapa laporan ke pihak kepolisian untuk melaporkan insiden kekerasan oleh orang tuanya. Pada tanggal 11 Juni, polisi Israel dan dinas sosial mengadakan pertemuan dengan keluarga tersebut. Henriette bersikeras ingin tinggal di apartemennya sendiri, tapi setelah pertemuan tersebut, dia diberi tahu bahwa dia harus kembali ke rumah.

Dua hari kemudian, ia ditemukan tewas.

(Gauzal/Hrn)

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER