Qatar Siapkan Tiga Skenario Keluar Dari Krisis

0
605
  • 56
    Shares
qatar, doha
Kota Doha, Qatar. (Foto: Reuters/Fadi Al-Assaad)

JAKARTA – Saat ini Qatar sedang mencari jalan keluar dari isolasi negara-negara tetangganya di kawasan Timur Tengah yang mencurigainya mendukung kelompok teroris. Banyak pihak yang mempertanyakan, bagaimana pasokan makanan untuk rakyat Qatar saat ini.

“Qatar memiliki beberapa pilihan lain untuk mendatangkan bahan makanan,” kata CEO Gulf State Analytics, lembaga konsultansi risiko politik yang berkantor di Washington, Giorgio Cafiero, seperti dilansir Forbes, Ahad (11/6).

Beberapa opsi yang dimiliki Qatar antara lain adalah dengan mengimpor makanan melalui perbatasan laut Qatar dan Iran, serta melaui jalur udara Qatar.

Sedangkan larangan terbang bagi maskapai milik Qatar serta larangan perdagangan yang berlaku sejak 23 Mei lalu yang dilakukan oleh hampir separuh negara-negara di kawasan tersebut telah mengancam stabilitas perekonomian Qatar. Jika negara modern berpenduduk 2,24 juta orang itu dapat meyakinkan skeptis Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya bahwa Doha tidak mensponsori kelompok teroris, maka pintu diplomasi dapat dibuka kembali.

Berikut tiga skenario yang bisa disiapkan Qatar untuk untuk mengatasi krisis:

1. Qatar mengandalkan negara-negara sahabat

Pada Sabtu lalu (10/6), 10 negara telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar. Meski begitu, Qatar masih memiliki beberapa negara sahabat.

Turki telah memutuskan untuk memberikan bantuan dengan mengirim makanan serta obat-obatan yang diperlukan. Iran juga melakukan hal serupa.

Negara penyumbang tenaga kerja terbesar untuk Qatar, Filipina, juga akan meringankan larangan awal terhadap pekerja migran baru yang menuju ke Qatar. Sekitar lima persen pekerja Filipina di luar negeri berada di Qatar, melebihi jumlah penduduk asli Qatar.

India juga memberikan bantuan. Jadi, kehidupan masyarakat Qatar tetap bisa berlanjut, namun demikian tidak mungkin bisa selamanya.

2. Rekonsiliasi dengan Negara-negara Arab yang memusuhinya

Negara-negara tetangga Qatar yang berada pada posisi netral, yaitu Kuwait dan Oman, sedang mencari jalan keluar bagi persoalan yang dihadapi Qatar. Amerika Serikat yang masih menggunakan pangkalan udara Al-Udeiba di Qatar untuk memerangi teroris, diminta untuk mengajukan resolusi.

Dua pekan lalu Al-Jazeera memberitakan, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson meminta Arab Saudi, Mesir, dan Uni Emirat Arab (UAE) menghentikan isolasi terhadap Qatar. Dalam pidatonya pada Jumat pekan lalu (9/6), Tillerson mengatakan dalam sebuah pidato KTT Dewan Kerjasama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) bahwa sebuah kesatuan ekonomi dan politik enam negara termasuk Qatar, harus mencari solusi.

Emir Qatar dinilai perlu melakukan lebih banyak tindakan secara cepat untuk mengusir elemen-elemen ekstremis dari negaranya.

”Qatar merupakan rumah bagi pangkalan militer Al-Udeiba, yang menerbangkan pesawat militer Amerika Serikat dan Inggris untuk membom target-target ISIS,” kata Ameer Ali, dosen di Murdoch University’s School of Business and Governance di Australia.

“Ini yang menyebabkan Presiden Donald Trump putus asa dalam mencari penyelesaian bagi persoalan Qatar,” kata Ali.

3. Memulai peperangan

Seandainya perang terjadi, maka Qatar bisa melakukan pembelaan atas tuduhan mendukung kelompok Hamas, yang dianggap banyak pemerintah asing, terutama Israel, sebagai teroris. Hal yang sama juga bisa dilakukan untuk gerakan politik dan sosial Ikhwanul Muslimin.

Ali pun menyebut Arab Saudi bisa dianggap mendanai kelompok-kelompok teroris seperti Al-Qaeda, Taliban, serta Laskar e-Taiba. Namun, apabila tudingan serupa diterima Arab Saudi sebagai salah satu negara pengecam Qatar, maka Arab Saudi akan semakin marah dan memberikan tekanan ekonomi dan diplomatik yang lebih besar terhadap Qatar.

“Dan apakah mereka akan saling menuding?” ujar Ali. (JarotA/IwanY)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU