BEIRUT, SERUJI.CO.ID – Dua faksi pemberontak utama di Ghouta timur, Suriah, menyambut baik resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang disahkan pada Sabtu (24/2) untuk menuntut gencatan senjata 30 hari di seluruh negeri guna memungkinkan akses bantuan dan evakuasi medis.
Dalam pernyataan terpisah, Jaish al-Islam dan Failaq al-Rahman berjanji untuk melindungi konvoi bantuan yang masuk ke daerah kantong pemberontak yang terkepung di dekat Damaskus. Pemberontak mengatakan bahwa mereka akan melakukan gencatan senjata, namun akan membalas setiap pelanggaran yang dilakukan oleh pemerintah Suriah dan sekutu-sekutunya.
Dewan Keamanan PBB mengadopsi resolusi tersebut pada Sabtu (24/2), setelah salah satu serangan udara paling mematikan dari perang tujuh tahun tersebut terjadi Ghouta timur pekan ini.
Tak lama setelah suara bulat dari 15 anggota dewan tersebut, pesawat tempur menyerang sebuah kota di Ghouta timur, daerah kantong pemberontak terakhir dekat ibu kota Suriah, menurut sebuah layanan darurat dan sebuah kelompok pemantau perang.
Pesawat tempur telah menyerang wilayah tersebut selama tujuh hari berturut-turut sementara penduduk bersembunyi di ruang bawah tanah.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa Antonio Guterres pada Rabu (21/2) mendesak untuk segera diakhirinya aktivitas perang di Ghouta timur, tempat hampir 400.000 orang tinggal di bawah pengepungan pemerintah sejak 2013, tanpa cukup makanan atau obat-obatan.
Sementara sekutu Suriah, Rusia mendukung adopsi resolusi Perserikatan Bangsa Bangsa itu, Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, meragukan kelayakannya. Kesepakatan gencatan senjata sebelumnya di lapangan memiliki catatan buruk untuk mengakhiri pertempuran di Suriah, di mana militer Presiden Bashar al-Assad berada di atas angin.
“Apa yang diperlukan adalah agar tuntutan Dewan Keamanan mendapat dukungan kesepakatan nyata di lapangan,” kata Nebenzia kepada dewan setelah pemungutan suara.
Dia kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa tidak realistis untuk mengharapkan gencatan senjata segera dan bahwa para pihak harus didorong untuk melakukan itu.
Setelah beberapa hari tertunda dan perundingan pada menit-menit terakhir untuk mendapatkan dukungan dari Rusia, dewan tersebut mengadopsi resolusi tersebut, yang dirancang oleh Swedia dan Kuwait, serta menuntut permusuhan berhenti selama 30 hari tanpa penundaan, guna memungkinkan akses bantuan dan evakuasi medis.
