Kejamnya Zionis Israel, Siksa Tahanan Palestina Secara Sistematis

0
250
palestina, israel
Halaman penjara Megiddo khusus untuk tahahan warga Palestina. (Foto: Ma'an News)

BETHLEHEM – Kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) Palestina, Addameer, merilis sebuah pernyataan pada hari Senin kemarin (26/6), Hari Internasional untuk Mendukung Korban Penyiksaan, yang menyoroti tindakan Israel atas “penyiksaan dan penganiayaan” terhadap tahanan Palestina, yang telah menyebabkan kematian 73 orang Palestina sejak 1967.

“Praktik penyiksaan otoritas Israel telah dilakukan secara sistematis, bertentangan dengan banyak undang-undang dan konvensi internasional yang melarang penggunaan penyiksaan terhadap tahanan. Selain itu, pejabat penjara Israel juga jarang dimintai pertanggungjawaban atas penyalahgunaan wewenang terhadap tahanan Palestina,” kata Addameer, dikutip dari Ma’an News Agency, Senin (26/6).

Sejak tahun 1967, ketika Israel menduduki wilayah Palestina, termasuk Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Jalur Gaza, terdapat 73 tahanan Palestina yang telah tewas dalam tahanan Israel karena mengalami penyiksaan berat selama interogasi. Addameer juga melaporkan, bahwa yang terakhir disiksa adalah Arafat Jaradat berusia 30 tahun, yang diyakini telah disiksa sampai mati di penjara Megiddo Israel pada tahun 2013.

Sementara kementerian kesehatan Israel menyimpulkan bahwa dalam otopsi yang mereka lakukan tidak ada kontroversi yang ditemukan di tubuh Jaradat, kecuali tulang rusuk yang retak yang terjadi menjelang kematiannya karena upaya resusitasi yang dilakukan oleh Penjara Israel (IPS). Namun Addameer menunjukkan bahwa ahli patologi forensik telah menemukan bahwa Jaradat “dipukuli dengan hebat” di dalam tahanan Israel.

“Meskipun demikian, sampai saat ini, tidak ada pejabat Israel yang didakwa atas kematian Jaradat,” tegas Addameer.

Seperti Jaradat, banyak warga Palestina lainnya telah mengalami “penyiksaan psikologis dan fisik” selama interogasi yang dilakukan di dalam tahanan Israel.

Addameer menyoroti beberapa teknik penyiksaan yang digunakan oleh otoritas Israel terhadap orang-orang Palestina selama interogasi, termasuk “isolasi yang lama dari dunia luar, kondisi penahanan yang tidak manusiawi, penggunaan penutup mata dan borgol yang berlebihan, menampar dan menendang, kurang tidur, pelarangan untuk makan makanan dan minum air untuk waktu yang lama, pelarangan akses ke toilet, pembiaran pemakaian pakaian selama berhari-hari atau berminggu-minggu, pembiaran cuaca yang sangat dingin atau panas, berteriak dengan suara keras, menghina dan mengutuk, menangkap anggota keluarga atau menuduh bahwa anggota keluarga telah ditangkap, pelecehan seksual, tamparan, tendangan dan pukulan.

Menurut Addameer, setiap pengakuan yang dikumpulkan selama episode penyiksaan ini kemudian dapat diterima di pengadilan Israel.

Addameer melanjutkan, perlu digarisbawahi bahwa praktik rutin kekerasan fisik yang dilakukan oleh pasukan Israel di Palestina selama penahanan, juga dilakukan sejak saat penggerebekan malam hari sebelum fajar yang dilakukan oleh pasukan Israel di mana tentara berkali-kali memasuki rumah orang-orang Palestina pada waktu malam hari untuk menahan mereka. Sementara itu orang-orang Palestina juga sering menghadapi kekerasan di pos pemeriksaan militer dan jalanan.

“Sementara waktu dan tempat mungkin berbeda sehubungan dengan penangkapan tahanan Palestina, kebijakan serangan fisik terhadap tahanan secara sistematis dan dilakukan secara luas, tanpa memandang usia, jenis kelamin, atau kondisi kesehatan,” kata Addameer.

Addameer meminta Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres, untuk mengambil tindakan guna memastikan Israel mematuhi hukum internasional dan mengizinkan pejabat PBB mengunjungi penjara Israel untuk memantau dan menyelidiki kondisi dan dugaan penyiksaan.

Addameer juga mendesak PBB dan pihak-pihak lain untuk meminta Pengadilan Pidana Internasional (ICC) agar segera menyelidiki penggunaan penyiksaan Israel terhadap orang-orang Palestina.

Pada tahanan Palestina, ternyata banyak di antaranya adalah anak di bawah umur. Awal tahun ini, Komite Urusan Tahanan Palestina merinci penyiksaan dua remaja Palestina selama interogasi mereka dengan pihak berwenang Israel.

Musab Muhammad Ghneimat, 17 tahun, menjelaskan bagaimana dia ditembak dengan menggunakan amunisi tajam saat melarikan diri dari tentara yang menuduhnya melakukan serangan menggunakan pisau. Begitu dia tidak bergerak, seorang tentara Israel melepaskan dua tembakan di tanah di dekatnya dan yang ketiga di kakinya yang terluka dari jarak dekat.

Demikian pula, Ayad Amr, 16 tahun, mengatakan bahwa dia ditahan setelah tentara Israel masuk dan menggeledah rumahnya, yang sebelumnya diawali dengan sebuah serangan. Ayad mengatakan bahwa dia diborgol dan ditutup matanya sebelum pasukan Israel menyeretnya ke sebuah truk militer. Sambil menyeret dirinya, tentara Israel juga memaki dia dengan kata-kata kasar sebelum diinterogasi berjam-jam. Sementara seorang perwira Israel juga meneriaki dan mengutuk dirinya.

“Sebanyak 6.200 orang Palestina ditahan di penjara Israel sampai Mei 2017, yang sebagian besar terus menderita penyiksaan dan perlakuan sewenang-wenang yang disengaja,” pungkas Addameer. (JarotS/IwanY)

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BACA JUGA
KPK Tahan Zumi Zola

Kuasa Hukum Beberkan Kondisi Kesehatan Zumi

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Muhammad Farizi, kuasa Hukum Gubernur Jambi Zumi Zola membeberkan terkait kondisi kesehatan kliennya itu selama ditahan di Rutan Cabang KPK di...
Mahkamah Agung

Voting Dua Putaran, Sunarto Terpilih Sebagai Wakil Ketua MA

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Ketua Kamar Pengawasan di Mahkamah Agung (MA) Sunarto, terpilih sebagai Wakil Ketua MA bidang Non-Yudisial melalui sistem voting dua putaran. "Dr H...
ASEAN

Singapura Akhirnya Setujui Timor Leste Jadi Anggota ASEAN

SINGAPURA, SERUJI.CO.ID - Wakil Tetap RI untuk ASEAN Ade Padmo Sarwono mengatakan sepuluh negara anggota ASEAN menyetujui keanggotaan Timor Leste, namun prosesnya masih membutuhkan...

Indonesia-Papua Nugini Sepakat Perkuat Kerja Sama Perbatasan

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Pemerintah Indonesia dan Papua Nugini sepakat untuk memperkuat kerja sama perbatasan, seperti disampaikan dalam keterangan pers Kementerian Luar Negeri RI yang...

Siapapun Cawapres Jokowi, Nasdem Komitmen Tetap Berkoalisi

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Sekretaris Jenderal Partai Nasdem Jhonny G Plate menegaskan bahwa partai tetap berkomitmen dalam koalisi pemerintahan setelah Jokowi mengumumkan sosok bakal calon...