Bareskrim Tangkap Pembuat Video Editan “Kapolri Izinkan Polisi Tembak Masyarakat”

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Bareskrim Polri berhasil menangkap dua orang pembuat dan penyebar hoaks yang diduga merekayasa video Kapolri Jenderal Tito Karnavian saat mengecek pasukan pengamanan Pemilu 2019.

Kedua orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka ini adalah FA sebagai pengedit sekaligus yang menyebarkan video, dan AH sebagai penyebar video.

FA ditangkap di rumahnya, Jalan Srengseng Sawah Balong, RT 02/RW 04, Kembangan, Kelurahan Srengseng, Jakarta Barat pada Selasa (28/5).

Dalam video yang diedit FA (20), Tito dinarasikan seolah-olah mengizinkan anggotanya menembak masyarakat, padahal video aslinya tidak demikian.

“Dalam video aslinya tersebut, Kapolri menanyakan kepada anggota Brimob, ‘Saya mau tanya, kalau di lapangan tiba-tiba ada orang bawa parang mau membunuh masyarakat, boleh nggak ditembak?’, dijawab (oleh anggota) ‘Siap, boleh Jenderal’,” jelas Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo lewat keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (31/5).

Dijelaskan Dedi, FA mengaku mendapatkan video asli Kapolri Jendral Tito Karnivian dari WhatsApp Group. Video asli tersebut kemudian dipotong oleh FA sehingga tinggal hanya kalimat Tito ‘Masyarakat boleh nggak ditembak?’.

FA lalu memposting video hasil editannya ke akun Facebook dengan disertai caption, ‘Maksudnya apa ya, masyarakat boleh di tembak??’.

“Dari hasil interogasi sementara, pelaku mengaku telah melakukan penyebaran informasi bohong tersebut melalui akun Facebooknya atas inisiatif sendiri, yang kemudian menyebar luas di media sosial,” jelas Dedi.

Dari pengakuannya, imbuh Dedi, FA mengaku termotivasi untuk melakukan perbuatan tersebut karena tersangka sering mendengar dan menonton ceramah Habib Rizieq Syihab (HRS) melalui media sosial Youtube.

“Sehingga tersangka tidak suka dengan pemerintahan sekarang ini,” ujar Dedi.

Setelah melakukan penangkapan terhadap FA, polisi juga menangkap AH keesokan harinya, 29 Mei 2019. AH diduga sebagai pihak yang menyebarluaskan konten yang dibuat oleh FA.

“Diduga menyebarkan informasi yang menimbulkan kebencian dan permusuhan individu atau kelompok, berdasarkan diskriminasi ras dan etnis serta penyebaran berita bohong, yang dapat menimbulkan keonaran dikalangan rakyat melalui Fecebook,” ucap Dedi.

Dari kedua tersangka, polisi menyita barang bukti berupa ponsel dan sim card. Tersangka dijerat Pasal 51 juncto Pasal 35 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE; dan/atau Pasal 45 ayat (2) juncto Pasal 28 ayat (2); dan/atau 14 ayat (1) dan (2); dan/atau Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Disabilitas Mental dan Pemilu

Ketika Komisioner Komisi Pemilihan Umum ( KPU) Hasyim Asy'ari menyampaikan bahwa KPU mendata pemilih penyandang disabilitas mental atau sakit jiwa, muncul pertanyaan penderita penyakit jiwa mana yang diberikan hak untuk memilih?

Belajar, Bukan Bersekolah

Akhir pandemi belum juga jelas, satu hal sekarang makin jelas: Gedung-gedung megah persekolahan itu makin tidak relevan jika dipaksakan untuk kembali menampung kegiatan bersekolah lagi. Sekolah harus direposisi. Juga guru.

Bertema “Inovasi Beyond Pandemi”, AMSI Gelar Indonesian Digital Conference 2020

Ketua Umum AMSI, Wenseslaus Manggut mengatakan IDC yang digelar AMSI bertujuan untuk melihat sejauh mana berbagai sektor melakukan inovasi di tengah pandemi Covid-19 dan seperti apa ke depan.

Cek Fakta: Debat Pilkada Tangsel, Seluruh Paslon Minim Paparkan Data

Debat pemilihan umum kepala daerah (pilkada) Tangerang Selatan (Tangsel) membeberkan program kerja yang dimiliki para peserta. Sayangnya, dalam debat tersebut masing-masing pasangan calon (paslon) lebih banyak bicara dalam tatanan konsep.

PasarLukisan.com Gelar Pameran Lukisan Virtual Karya Pelukis dari Berbagai Daerah

"Ini adalah solusi yang diharapkan akan memecahkan kebekuan kegiatan kesenian, khususnya pameran seni rupa, akibat pandemi yang belum kunjung berakhir," kata M. Anis,

Paman Donald dan Eyang Joe

Banyak yang usil menyamakan pilpres Amerika dengan Indonesia, termasuk kemungkinan Biden akan mengajak Trump bertemu di MRT dan menawarinya menjadi menteri pertahanan.

Berikut Berbagai Larangan Bagi Penasihat Investasi Yang Diatur dalam Keputusan BPPM

Penasihat Investasi dalam menjalankan kegiatannya harus bersikap hati–hati, dikarenakan terdapat larangan yang harus diperhatikan oleh Penasihat Investasi agar terhindar dari sanksi.

TERPOPULER