“KBI juga mengajak semua komponen masyarakat untuk bersama-sama memikirkan langkah lanjutan untuk membantu krisis kemanusiaan ini antara lain dengan turut meringankan beban para pengungsi korban-korban kekerasan tersebut dengan bekerja sama dengan komunitas lintas agama dan pemerintah, ” jelas Sudhamek.
Dia juga menjelaskan bahwa KBI sebagai komponen agama Buddha Indonesia sejak dahulu hingga saat ini telah mempraktikkan hidup bersama dalam keanekaragaman sebagaimana yang dijadikan semboyan persatuan bangsa yakni Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa.
“Karya leluhur yang diwariskan oleh leluhur bangsa Indonesia lewat karya Mpu Tantular ini menjadi panutan umat Buddha yang hidup dengan penuh harmonis dengan agama agama lain serta semua komponen bangsa lainnya di Indonesia,” tegasnya.
Konflik di Myanmar yang melibatkan agama dan etnis, lanjut dia, sama sekali telah menabrak budaya luhur bangsa dan kehidupan beragama yang telah lama dibangun di Indonesia.
“Perbuatan jahanam dan pengecut yang dilakukan oleh aparat keamanan Myanmar lebih dari pantas untuk dihukum sebagai kejahatan internasional atas kemanusiaan,” tegas dia. (Arif R/Hrn)

apapun latar belakang pemikirannya, jujur maupun tidak jujur, pernyataan seperti ini dari ummat Budha Indonesia, layak kita apresiasi dan kita terima dengan lapang dada. Karena beginilah seharusnya kehidupan bermasyarakat dalam kemajemukan adat, agama dan budaya. Penjahat kemanusiaan, darimana pun dia berasal, adalah musuh semua golongan. Dan semua golongan harus menunjukkan sikap permusuhan terhadap penjahat kemanusiaan itu.
Menurut saya, pernyataan ini jangan di su’uzhon in.
Suudzon saya, ada 2 kemungkinan keluarga budhayana Indonesia memberikan statement begitu.
Pertama, mereka ingin “berlindung” dibalik kebenaran ajaran agama Islam, terutama di Indonesia, karena sebenarnya mereka takut, di Indonesia ini mereka sangat minoritas, seperti halnya muslim di Myanmar, yang juga minoritas. Mereka nggak mungkin berani mengatakan hal yang (mungkin) sebenarnya. Karena itu, mereka sangat berhati-hati dalam memberikan statement, supaya aman di Indonesia.
Kedua, apa yang disampaikan itu, “benar adanya”. Dalam arti, ajaran Budha di Bali tidak sama dengan yang di Myanmar.
Kalau di Myanmar, ajaran Budha (mungkin) menghalalkan pembersihan etnis Rohingya.
Wallahu a’lam….
Tutup dubes Mgkn bisa jadi solusi..