Menurut Rustika, dari sisi percakapan, Khofifah-Emil mendominasi sebesar 76 persen percakapan dibandingkan Saifullah-Puti 24 persen dalam sebulan terakhir.
Namun, kata dia, apabila dibandingkan dengan jumlah akun yang merespons masing-masing paslon, maka Saifullah-Puti lebih banyak akun yang mempercakapkannya, yakni sebanyak 2.149 akun manusia.
Sementara, Khofifah-Emil 1.767 akun twitter. Ini artinya, masing-masing akun memiliki rata-rata jumlah cuitan tentang Khofifah lebih banyak. Contoh di bulan April, rata-rata netizen memention Khofifah-Emil sebesar 8 tweet, sementara pada Saifullah-Puti hanya 2 tweet.
Indonesia Indicator pun mencatat, terdapat sebanyak 50.905 percakapan di Twitter yang ditujukan pada Khofifah sepanjang sebulan terakhir. Sebanyak 63 persen akun manusia (1.767) dan 36,4 persen akun mesin (1.012). Sentimen negatif sebanyak 5,5 persen, positif 49,6 persen dan netral 44,9 persen.
Sementara itu, terdapat sebanyak 15.907 percakapan di Twitter yang ditujukan pada Saifullah-Puti sepanjang sebulan terakhir. Sebanyak 72,9 persen akun manusia (2.149) dan 27,1 persen akun mesin (797). Sentimen negatif sebanyak 3,8 persen, positif 66,2 persen dan netral 30 persen.
Sisi lain yang menarik, kata Rustika, Saifullah-Puti lebih banyak dibicarakan kaum pria 53,4 persen, sementara Khofifah-Emil lebih banyak dibicarakan kaum perempuan sebanyak 53,4 persen.
Generasi milenial yang menjadi sasaran kedua paslon tampaknya masih belum berhasil diraih di Twitter. Kedua kandidat, kata Rustika, lebih banyak dipercakapkan oleh netizen yang berusia di atas 35 tahun. Khofifah-Emil direspons sebanyak 65,8 persen usia di atas 35, sementara Saifullah-Puti sebanyak 60,3 persen.
