Merrill Lynch Luncurkan 10 Prakiraan Ekonomi Global 2018


NEW YORK, SERUJI.CO.ID – BofA Merrill Lynch Global Research pada Selasa (5/12) menerbitkan prospek ekonomi global yang bullish (bergairah) untuk 2018, yang memprediksi 10 poin makro untuk tahun depan.

1. Indeks S&P 500 akan terus meningkat.
Indeks Standard and Poor’s 500 diperkirakan akan mencapai 2.800 poin pada akhir tahun depan. Laba diperkirakan tumbuh enam persen berdasarkan perkiraan EPS (Earnings Per Share) 2018 sebesar 139 dolar AS.

2. Pertumbuhan ekonomi global menguat.
PDB (Produk Domestik Bruto) global riil diperkirakan tumbuh menjadi 3,8 persen, naik sedikit dari 3,7 persen pada 2017. Pertumbuhan di atas tren diperkirakan di sebagian besar ekonomi utama, dengan kawasan Euro mempertahankan lintasan pertumbuhan pada 2018 dan 2019 sekitar dua persen dan Jepang tetap berada di atas tren, dengan pertumbuhan hampir 1,5 persen selama periode waktu yang sama. Secara keseluruhan, ekonomi negara-negara emerging market diperkirakan akan tumbuh hampir lima persen pada 2018, dengan Tiongkok tumbuh 6,6 persen.

3. Pertumbuhan ekonomi AS mantap.
Pertumbuhan PDB AS diperkirakan akan mencapai sebesar 2,4 persen pada 2018, naik dari 2,2 persen pada 2017, namun dibatasi oleh kenaikan produktivitas yang rendah dan tingkat perekrutan yang lebih lambat. Tingkat pengangguran AS akan turun menjadi 3,9 persen pada 2018, dan pasar kerja yang mengetat cenderung akan memungkinkan inflasi meningkat.

4. Inflasi kembali pada radar.
Inflasi diperkirakan akan meningkat di AS, dengan inflasi inti mencapai 1,8 persen pada akhir 2018 dan dua persen pada akhir 2019. Inflasi upah dan harga juga akan cenderung lebih tinggi, dengan inflasi upah berpotensi menjadi faktor yang paling penting untuk pasar saham pada 2018 melalui tekanan marjin dan spread kredit. Inflasi juga akan meningkat di Tiongkok dan negara-negara sedang berkembang Eropa.

5. Emerging Markets (EM) bergerak lebih rendah.
Tingkat suku bunga AS yang lebih tinggi, dolar AS yang lebih tinggi dan pengurangan suku bunga ECB (Bank Sentral Eropa) berarti investor perlu lebih selektif dalam obligasi dan ekuitas emerging market, yang lebih baik pada 2017. Total pengembalian kredit sebesar 3,2 persen diperkirakan untuk korporasi EM, 1,9 persen untuk EM layak investasi (investment grade) dan 5,4 persen untuk EM berimbal hasil tinggi (high yield).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Fahira: Milenial Butuh Teladan, Bukan Tik Tok untuk Membumikan Pancasila

"Membumikan Pancasila secara populer sah-sah saja, tetapi yang dibutuhkan millenial saat ini bukan itu. Milenial butuh teladan dari para penyelenggara negara dan para pemimpin bangsa," kata Fahira

Begini Ciri Rumah Idaman untuk Pasangan Muda

Beberapa waktu lalu, portal properti Lamudi melakukan survei tentang rumah impian bagi pasangan muda, survei tersebut dilakukan kepada 100 pasangan yang baru menikah. Inilah hunian idaman untuk pasangan muda.....

5 Alasan Kita Perlu Membuat Undangan Pernikahan Digital

Kini era sudah berubah. Kini ada sebuah cara baru untuk mengirim undangan pernikahan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan situs desain online, di mana kita bisa menciptakan desain sendiri, juga memanfaatkan Internet untuk mengirimkannya.

Inilah Tulisan AR Baswedan Bantah Tudingan Gerakan Islam Bertentangan dengan Pancasila

AR Baswedan menyebut, pihak-pihak yang sering mempertentangan gerakan Islam dengan Pancasila justru adalah pihak-pihak yang pada hakikatnya tidak paham Pancasila. Justru sebaliknya, pemuka-pemuka ahli pikir Islam memberi pengertian-pengertian yang baik tentang Pancasila yang keluar dari keyakinan yang kuat.

Antisipasi Pelambatan Ekonomi, Ketua DPD Kumpulkan Kadin Provinsi se Indonesia

“Saya sengaja mengumpulkan para ketua umum Kadin provinsi, karena hari ini kita menghadapi masalah serius di sektor dunia usaha dan dunia industri," kata La Nyalla

Kontroversi Omnibus Law, Fahira: Wujud Frustasi Pemerintah atas Kemendegkan Ekonomi

Omnibus Law RUU Cipta Kerja (sebelumnya Cipta Lapangan Kerja atau Cilaka) dinilai sebagai bentuk rasa frustasi pemerintah atas kemandegkan ekonomi yang terjadi lima tahun belakangan ini.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama
close