JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis (15/1/2026) ditutup menguat 42,83 poin atau 0,47 persen ke posisi 9.075,41, kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high). Pencapaian ini menjadi momentum penting bagi pasar modal Indonesia jelang libur panjang peringatan Isra Mi’raj.
Penguatan indeks komposit didorong oleh sektor basic industry yang melonjak tajam, disertai arus masuk investor asing yang mencapai Rp1,16 triliun. Saham-saham perbankan seperti BBNI menjadi pendorong utama dengan kenaikan signifikan.
Proyeksi Tembus 10.000: Ambisius atau Realistis?
Pasar modal kini menyoroti peluang IHSG menembus level 10.000 dalam kuartal pertama 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis target tersebut dapat dicapai, didukung membaiknya kondisi ekonomi nasional dan sinkronisasi kebijakan fiskal-moneter.
Optimisme serupa datang dari JP Morgan yang memperkirakan IHSG dapat menembus 10.000 untuk tahun 2026 pada skenario bullish. Lembaga keuangan global itu menetapkan target dasar di 9.100 dengan proyeksi bull case mencapai 10.000.
Namun, pencapaian target ambisius ini mensyaratkan beberapa kondisi kunci. OJK menekankan pentingnya fundamental ekonomi Indonesia yang solid dan peningkatan peran investor domestik sebagai landasan penguatan berkelanjutan.
Katalis dan Tantangan
Beberapa faktor pendorong meliputi ekspansi belanja fiskal pemerintah, peran strategis Danantara dalam investasi, serta proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,3% di 2026. Bank sentral juga diperkirakan akan melanjutkan pelonggaran moneter dengan pemangkasan suku bunga sekitar 50 basis poin sepanjang tahun.
Di sisi lain, tekanan eksternal masih membayangi. Nilai tukar rupiah yang melemah ke level Rp16.850 per dolar AS menjadi perhatian, mengingat hal ini dapat membatasi ruang gerak kebijakan moneter.
Kesimpulan: Meski target IHSG 10.000 terkesan ambisius untuk dicapai dalam tiga bulan pertama, sejumlah analis menilai angka tersebut realistis untuk akhir tahun jika didukung konsistensi kebijakan ekonomi pro-market dan stabilitas makro. Investor disarankan tetap memperhatikan level support di kisaran 9.000 sebagai batas psikologis penting.
