🏦 Bank Indonesia Turun Tangan: “Kami Akan Terus Hadir di Pasar”
Menghadapi tekanan yang semakin intens, Bank Indonesia tidak tinggal diam. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan bahwa intervensi yang tegas dan konsisten akan terus dilakukan melalui tiga jalur sekaligus: transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Langkah triple-intervention ini merupakan respons yang lebih agresif dibandingkan periode-periode volatilitas sebelumnya.
BI juga menekankan bahwa pelemahan rupiah, meski terasa tajam, masih relatif lebih terkontrol dibandingkan banyak mata uang kawasan. Secara month-to-date hingga awal Maret, rupiah melemah 0,51 persen — angka yang lebih baik dibandingkan won Korea Selatan atau peso Filipina.
Cadangan devisa Indonesia yang masih solid di USD154,6 miliar pada akhir Januari 2026 — setara 6,3 bulan impor — menjadi amunisi utama BI untuk melanjutkan intervensi. Arus masuk modal asing ke pasar keuangan domestik sepanjang 2026 pun masih tercatat positif di Rp25,7 triliun, sebuah sinyal bahwa kepercayaan investor belum runtuh sepenuhnya.
Namun intervensi memiliki batas. Setiap kali BI menjual dolar untuk menopang rupiah, cadangan devisa akan terkuras sedikit demi sedikit. Jika tekanan eksternal — terutama dari konflik Timur Tengah — tidak mereda dalam waktu dekat, BI akan menghadapi dilema klasik: mempertahankan kurs vs mempertahankan cadangan devisa.
Pasar pun kini menantikan apakah Rapat Dewan Gubernur BI yang dijadwalkan pekan depan akan menghasilkan kejutan kebijakan suku bunga untuk meredam tekanan terhadap rupiah.
🔮 Ke Mana Rupiah Akan Bergerak?
Para analis membagi proyeksi jangka pendek ke dalam dua skenario utama. Skenario pertama — yang lebih optimistis — mengasumsikan konflik Timur Tengah mulai mereda dalam satu hingga dua pekan ke depan, sehingga harga minyak kembali ke kisaran USD85–90 per barel.
Dalam skenario ini, rupiah berpotensi rebound ke kisaran Rp16.700–Rp16.800 per dolar, terutama jika BI terus melakukan intervensi agresif dan data inflasi AS tidak mengejutkan ke atas. Ibrahim Assuaibi memperkirakan kisaran pergerakan rupiah pekan ini berada di Rp16.850–Rp17.100 — dengan titik berat di zona tersebut bergantung pada perkembangan geopolitik harian.
Skenario kedua — yang lebih suram — memperkirakan eskalasi konflik berlanjut dan harga minyak menembus USD120 per barel. Dalam kondisi ini, rupiah tidak hanya akan bertahan di atas Rp17.000, melainkan berpotensi menguji Rp17.200–Rp17.300 per dolar.
Skenario ini akan memaksa BI untuk memilih antara menaikkan suku bunga secara darurat — yang berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi domestik — atau membiarkan rupiah bergerak lebih bebas dengan risiko inflasi impor yang lebih tinggi.
BI sendiri memproyeksikan rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang 2026 di kisaran Rp16.430 per dolar — sebuah target yang kini terlihat semakin ambisius di tengah badai yang belum ada tanda-tanda mereda.
