JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Senin pagi, 9 Maret 2026, rupiah menjebol level psikologis yang selama ini paling ditakuti pelaku pasar: Rp17.000 per dolar AS. Bukan sekadar menyentuh, mata uang Garuda ini bahkan amblas lebih dalam — data Bloomberg mencatat rupiah terperosok ke Rp17.090 per dolar pada pukul 09.03 WIB, melemah 84 poin atau 0,50 persen hanya dalam hitungan menit sejak perdagangan dibuka.
Ini bukan sekadar angka. Ini adalah sinyal peringatan keras dari pasar global bahwa kepercayaan terhadap aset-aset kawasan Asia, termasuk Indonesia, sedang berada di titik rapuhnya.
💸 Dari Rp16.925 ke Rp17.090 dalam Semalam
Perjalanan rupiah menuju level Rp17.000 sebenarnya sudah berlangsung bertahap sejak awal Maret. Pada penutupan Jumat (6/3/2026), rupiah masih bertengger di Rp16.925 per dolar AS setelah melemah tipis 20 poin atau 0,12 persen.
Namun, akhir pekan yang seharusnya menjadi jeda justru diisi oleh berita yang membakar sentimen pasar global: serangan udara AS dan Israel ke Iran meluas, Selat Hormuz terancam ditutup, dan harga minyak mentah dunia menembus USD100 per barel untuk pertama kalinya sejak invasi Rusia ke Ukraina tahun 2022. Senin pagi, pasar membuka mata dengan kondisi yang jauh lebih buruk dari prediksi siapapun.
Pembukaan perdagangan spot langsung mencatat rupiah melemah 0,64 persen ke Rp17.015 per dolar. Indeks dolar AS (DXY) di sisi lain justru menguat 0,7 persen ke 99,67 — cermin dari arus dana global yang berebut masuk ke aset safe haven berbasis dolar. Kurs transaksi resmi Bank Indonesia (BI) pun mencatat posisi kurs jual di Rp17.003,60 per dolar, sementara kurs referensi JISDOR ditetapkan di Rp16.919 per dolar.
Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi dari PT Traze Andalan Futures memproyeksikan rupiah berpotensi bergerak liar di rentang Rp16.850 hingga Rp17.100 sepanjang hari ini — sebuah rentang yang mencerminkan ketidakpastian yang luar biasa tinggi.
Pelemahan ini bukan kejadian tiba-tiba. Selama sepekan terakhir, rupiah secara konsisten dihantam dari dua arah: eksternal dan internal. Dari luar, konflik Timur Tengah yang memasuki hari ketujuh terus menggerus selera risiko investor global.
Dari dalam, lembaga pemeringkat Fitch Ratings pada 4 Maret 2026 memangkas outlook (prospek) peringkat utang Indonesia dari “Stabil” menjadi “Negatif” — menyusul Moody’s yang telah lebih dulu melakukannya pada Februari 2026. Dua “kartu kuning” dari dua lembaga pemeringkat global dalam kurang dari sebulan menjadi sinyal yang sulit diabaikan oleh investor asing.
