Rupiah Paling Lemah di ASEAN, Sejak Pelantikan Presiden Prabowo Turun 10% Lebih

Faktor Geopolitik: Tekanan dari Seluruh Penjuru

5. Perang Dagang AS–Tiongkok dan Dampak pada Indonesia

Eskalasi konflik dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok membawa implikasi ganda bagi Indonesia. Di satu sisi, sebagian relokasi rantai pasok global berpeluang mengalir ke Indonesia. Namun di sisi lain, perlambatan ekonomi Tiongkok, salah satu mitra dagang dan investor terbesar Indonesia, secara langsung menekan permintaan terhadap komoditas ekspor utama Indonesia.

Ketika Tiongkok melambat, harga nikel dan batu bara jatuh. Ketika harga komoditas jatuh, devisa Indonesia berkurang. Ketika devisa berkurang, rupiah tertekan. Mata rantai ini menggambarkan betapa rentannya Indonesia terhadap gejolak eksternal melalui jalur komoditas.

6. Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak

Ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah, termasuk konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan gangguan di Selat Hormuz, menciptakan volatilitas harga minyak global. Indonesia, sebagai negara yang masih menjadi net importer minyak mentah, menghadapi risiko ganda: biaya impor energi yang membengkak dan tekanan pada subsidi BBM dalam negeri.

Setiap kenaikan harga minyak dunia secara langsung menambah kebutuhan devisa Indonesia untuk membayar impor minyak, memperburuk neraca transaksi berjalan, dan pada akhirnya menambah tekanan pada rupiah.

7. Ketidakpastian Geopolitik Regional: Laut China Selatan

Ketegangan di Laut China Selatan, termasuk aktivitas Tiongkok di perairan yang diklaim Indonesia sebagai Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di sekitar Natuna, menambah dimensi risiko geopolitik bagi investor asing. Meski belum sampai pada konflik terbuka, ketidakpastian ini memengaruhi persepsi risiko investor terhadap aset-aset Indonesia.

Investor institusional global cenderung mengurangi eksposur terhadap aset negara yang dinilai memiliki risiko geopolitik lebih tinggi, terutama ketika ada alternatif di kawasan yang sama dengan risiko lebih rendah, seperti Singapura dan Malaysia.

Mengapa Malaysia dan Singapura Justru Menguat?

Perbandingan dengan Malaysia dan Singapura sangat instruktif. Ringgit Malaysia menguat hampir 9,38% terhadap USD, sebuah pembalikan dramatis dari kondisi 2024 saat ringgit sempat berada di level terendah dalam 26 tahun.

Pemulihan ringgit didorong oleh beberapa faktor: reformasi fiskal yang kredibel di bawah Perdana Menteri Anwar Ibrahim, aliran masuk FDI yang kuat ke sektor teknologi (terutama dari perusahaan-perusahaan AI dan data center global), serta keyakinan pasar atas stabilitas kebijakan.

Sementara Singapura, dengan model pengelolaan nilai tukar berbasis band yang aktif dan reputasi sebagai pusat keuangan global, secara konsisten menjadi aset defensif saat dolar AS menguat.

Perbedaan ini menegaskan bahwa pelemahan rupiah bukan semata soal faktor eksternal, ia mencerminkan perbedaan mendasar dalam kualitas tata kelola, diversifikasi ekonomi, dan kepercayaan pasar terhadap kebijakan yang diterapkan.

Kesimpulan: Rupiah Membutuhkan Lebih dari Sekadar Intervensi

Data kurs ASEAN periode Oktober 2024–April 2026 menyajikan gambaran yang tidak bisa diabaikan: rupiah adalah mata uang paling lemah di kawasan. Pelemahan 10,84% dalam 18 bulan bukan hanya angka, ia adalah cermin dari akumulasi persoalan struktural yang belum terselesaikan.

Intervensi Bank Indonesia di pasar valas, kenaikan suku bunga secara reaktif, maupun retorika stabilitas tidak akan cukup tanpa reformasi yang lebih fundamental: diversifikasi ekspor dari komoditas menuju manufaktur bernilai tambah, konsolidasi fiskal yang konsisten, penguatan cadangan devisa, dan pemulihan kepercayaan investor melalui kepastian regulasi dan hukum.

Selama faktor-faktor ini belum ditangani secara sistematis, rupiah akan terus menjadi mata uang yang paling rentan di antara tetangga-tetangganya sendiri di kawasan ASEAN.


Disclaimer: Artikel ini merupakan analisis berdasarkan data kurs historis dari sumber-sumber terpercaya (Bloomberg/MUFG Research, Bank Indonesia, XE.com, BSP). Data kurs bersifat indikatif dan dapat berbeda tergantung sumber dan metodologi penghitungan. Artikel ini tidak merupakan rekomendasi investasi. Seluruh keputusan keuangan merupakan tanggung jawab pembaca.

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER