Mengapa Rupiah Paling Dalam Melemahnya?
1. Faktor Internal: Struktur Fiskal dan Kepercayaan Investasi
Salah satu tekanan terbesar terhadap rupiah bersumber dari kekhawatiran pasar atas ekspansi belanja negara yang agresif. Program-program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) yang masuk dalam anggaran pendidikan dalam APBN 2026, memunculkan pertanyaan serius tentang keberlanjutan fiskal.
Defisit anggaran yang diperlebar, ditambah sinyal bahwa pemerintah bersedia mengakomodasi belanja sosial berskala besar, membuat investor asing berhati-hati. Aliran dana keluar (capital outflow) dari pasar obligasi negara (SBN) dan pasar saham menjadi salah satu penekan langsung nilai tukar rupiah.
Lebih jauh, kebijakan tingkat suku bunga Bank Indonesia, yang harus menyeimbangkan antara dukungan pertumbuhan ekonomi domestik dan pertahanan nilai tukar, kerap bergerak dalam dilema. Ketika The Fed menaikkan atau mempertahankan suku bunga tinggi, selisih imbal hasil (yield spread) antara aset Indonesia dan Amerika menyempit, mendorong investor memindahkan modalnya ke aset dolar yang lebih aman.
2. Lemahnya Ekspor Andalan dan Tekanan Komoditas
Indonesia sangat bergantung pada ekspor komoditas seperti batu bara, kelapa sawit, dan nikel. Ketika harga komoditas global mengalami koreksi, terutama batu bara yang sempat merosot dari puncaknya pasca-krisis energi 2022, penerimaan devisa Indonesia pun ikut tertekan.
Berbeda dengan Malaysia yang berhasil mendiversifikasi ekspor ke sektor semikonduktor dan produk manufaktur bernilai tambah tinggi, struktur ekspor Indonesia masih didominasi bahan mentah yang harganya sangat fluktuatif. Ketika sumber devisa utama melemah, tekanan pada rupiah pun tak terelakkan.
3. Neraca Transaksi Berjalan yang Rentan
Indonesia secara struktural menghadapi tekanan pada neraca transaksi berjalan (current account). Impor bahan baku, barang modal, dan migas yang besar, ditambah pembayaran dividen serta bunga utang luar negeri kepada investor asing, menciptakan tekanan permintaan dolar yang konsisten.
Ketika permintaan dolar tinggi dan pasokan devisa dari ekspor tak cukup mengimbangi, Bank Indonesia harus mengintervensi pasar valuta asing menggunakan cadangan devisa, yang secara tidak langsung memberi sinyal tekanan lebih lanjut pada rupiah.
4. Efek “Trump Trade” dan Penguatan Dolar Global
Kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat pada November 2024 memicu penguatan dolar secara global, fenomena yang dikenal sebagai Trump Trade. Ekspektasi atas kebijakan tarif agresif, pemotongan pajak, dan potensi inflasi di AS mendorong imbal hasil obligasi AS naik dan dolar menguat.
Dalam kondisi ini, semua mata uang berkembang (emerging market) menghadapi tekanan. Namun yang membedakan rupiah adalah minimnya buffer domestik yang memadai. Malaysia, misalnya, mampu melawan arus karena reformasi fiskal yang konsisten dan aliran masuk investasi langsung asing (FDI) ke sektor teknologi tinggi.
Singapura memiliki Monetary Authority of Singapore (MAS) yang secara eksplisit mengelola nilai tukar melalui band kebijakan yang adaptif. Thailand mendapat sokongan dari neraca pembayaran yang relatif seimbang dan kepercayaan atas reformasi fiskal.
Rupiah tidak memiliki bantalan-bantalan tersebut dalam kadar yang setara.
