🌊 Efek Domino ke Ekonomi Riil: Siapa yang Paling Terpukul?
Di luar angka-angka APBN yang abstrak, dampak kombinasi minyak mahal dan rupiah lemah sudah mulai terasa di perekonomian riil. Industri tahu dan tempe sudah mencatat kenaikan harga kedelai impor ke Rp10.200 per kg dari sebelumnya Rp9.000–9.500 — akibat naiknya biaya pengiriman internasional dan pelemahan rupiah.
CEO Supply Chain Indonesia Setijadi menghitung bahwa dalam skenario kenaikan harga solar 30%, ongkos angkut truk bisa naik 10,5–12%, yang pada akhirnya menaikkan harga barang rata-rata 0,5–1% untuk komoditas curah. Inflasi volatile food — yang paling dirasakan oleh masyarakat berpenghasilan rendah — diperkirakan bisa naik 3–5% hanya dalam satu bulan jika kondisi ini bertahan. Sementara Ramadhan yang kian dekat secara historis selalu membawa tekanan tambahan terhadap harga pangan.
Di sisi lain — dan ini yang jarang disebut — ada segmen ekonomi yang justru diuntungkan. Emiten sektor energi dan pertambangan — produsen batu bara, minyak sawit, gas alam — menikmati lonjakan harga komoditas yang secara langsung mengerek pendapatan dan keuntungan mereka.
Pemerintah pun mendapat tambahan penerimaan dari PNBP sektor migas. Simulasi CITA mencatat bahwa pada harga USD90 per barel, penerimaan pajak bisa naik Rp38 triliun dan PNBP bertambah Rp32 triliun — totalnya Rp70 triliun. Masalahnya, tambahan belanja yang menyertai kenaikan harga minyak itu mencapai Rp309 triliun — hampir empat kali lipat dari tambahan penerimaannya. Matematika ini yang membuat posisi fiskal Indonesia struktural merugi dari lonjakan harga minyak.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 yang ditargetkan 5,4% pun kini terancam. Bank Indonesia dalam beberapa proyeksi terbaru memperkirakan pertumbuhan aktual bisa turun ke kisaran 4,7–5,0% jika guncangan energi dan fiskal berlanjut lebih dari satu kuartal.
Konsumsi rumah tangga — yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan — akan tergerus oleh inflasi yang lebih tinggi dan tekanan daya beli. Investasi asing yang sudah dalam mode wait-and-see akibat revisi outlook Fitch dan Moody’s akan semakin enggan masuk ke Indonesia jika kondisi fiskal memburuk lebih jauh.
⚓ Apa yang Bisa Menyelamatkan APBN?
Ada tiga faktor penyelamat yang realistis. Pertama dan terpenting adalah de-eskalasi konflik Timur Tengah — setiap sinyal gencatan senjata atau pembukaan kembali Selat Hormuz akan langsung mendinginkan harga minyak dan memperkuat rupiah, meringankan tekanan fiskal seketika.
Kedua adalah respons kebijakan yang cepat dan terukur dari pemerintah — kombinasi efisiensi belanja non-prioritas, penjadwalan ulang proyek infrastruktur non-mendesak, dan jika diperlukan, penyesuaian harga BBM secara gradual disertai kompensasi tepat sasaran untuk kelompok rentan.
Ketiga adalah langkah Bank Indonesia yang lebih agresif dalam menstabilkan nilai tukar — intervensi di pasar valas, penggunaan cadangan devisa USD154,6 miliar secara terukur, dan kemungkinan menahan atau bahkan menaikkan suku bunga acuan untuk mencegah arus keluar modal lebih besar.
Pada akhirnya, krisis fiskal yang sedang berkembang ini adalah ujian paling berat bagi pemerintahan Prabowo dalam dua tahun pertama kepemimpinannya. Ambisi pertumbuhan 8% yang sudah dikritik keras oleh Fitch dan Moody’s kini menghadapi ujian nyata di lapangan.
Yang dibutuhkan bukan sekadar optimisme dari podium konferensi pers, melainkan reformasi struktural yang berani: mengubah cara Indonesia mengelola subsidi energi, mempercepat diversifikasi sumber energi domestik, dan — dalam jangka panjang — memutus ketergantungan struktural pada impor minyak yang setiap kali harga melonjak, langsung mengguncang seluruh fondasi fiskal negara.
Perang di Timur Tengah tidak bisa dikendalikan dari Jakarta. Tetapi respons kebijakan terhadapnya, sepenuhnya bisa.
Seruji.co.id akan terus memantau perkembangan APBN, harga energi, dan nilai tukar rupiah. Pantau kanal Ekonomi & Keuangan kami untuk analisis mendalam terbaru.
