BBPOM Medan Tarik 54 Ribu Kaleng Ikan Mackerel Berparasit Cacing Pita

0
88
Sarden mengandung cacing

MEDAN, SERUJI.CO.ID – Ikan kaleng jenis mackerel yang mengandung parasit cacing pita telah beredar di Sumatera Utara. Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Medan pun telah menarik sedikitnya 54 ribu kaleng lebih ikan sarden jenis mackerel ini.

Kepala BBPOM Medan Sacramento Tarigan merinci produk dalam negeri ada 50 ribu kaleng dan produk luar negeri ada 4.100 kaleng yang telah ditarik dari distributor dan pusat perbelanjaan di Deliserdang, Medan dan Siantar.

“Cacing pita ini terdapat dalam delapan produk ikan kaleng jenis mackerel antara lain merek Hoki, ABC, Fiesta, Gaga, Kingfisher, Ayam Brand, dan merek Botan dengan dua nomor registrasi. Jadi produk-produk yang telah beredar ini akan ditarik seluruhnya,” ungkapnya, Jumat (30/3).

Menurut Sacramento, ikan mackerel ini berasal dari luar negeri. Ikan mackerel merupakan inang yang cocok bagi cacing. Akan tetapi untuk ikan jenis lainnya belum ada ditemukan mengandung cacing. Jadi faktor asal cacing pita ini dari ikan mackerel.

“Walaupun produk dalam negeri, tapi ikan dari luar, tetap saja mengandung cacing. Jadi faktornya dari ikan. Hanya ikan kaleng yang jenisnya mackerel. Walaupun mereknya ABC kalau tidak jenis mackerel, itu belum ditemukan mengadung cacing,” pungkasnya.

Untuk penarikan ikan kaleng ini, lanjut Sacramento, membutuhkan waktu. Pasalnya ikan mengandung cacing ini sudah beredar ke desa-desa. Sehingga pihak distributor meminta waktu menarik produk yang telah beredar selama 1 bulan.

Kepala BBPOM Medan Sacramento Tarigan

“Produk ini pasti beredar ke desa-desa. Jadi butuh waktu paling cepat 2 minggu untuk produk dalam negeri. Karena produk itu sudah sampai kecamatan tak mungkin cepat. Tapi kalau produk dari luar, itu butuh waktu 3 hari. Karena masih di tingkat distributor dia. Masyarakat yang sudah terlanjur beli, kembalikan saja,” ungkapnya.

Distributor, kata Sacramento, wajib bertanggung jawab untuk menjamin produk itu ditarik secepatnya. Karena konsumen harus dilindungi haknya. Kemungkinan cacing yang ada dalam kaleng itu sudah mati, akan tetapi tetap saja bisa menginfeksi secara tak langsung ke dalam tubuh.

“Pasti ada resikonya karena ada bahan-bahan lain di sana. Jadi saya bilang tetap salah, terutama rasa nyaman konsumen. Dari sisi konsumen, kalau mau fair harusnya dicantumkan dikomposisinya ada cacing. Kalau memang itu dibilang tak masalah, ya harusnya cantumkan lah,” bebernya. (Mica/Hrn)

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BACA JUGA
KPU

KPU: Verifikasi Caleg Akan Diselesaikan Hari Ini

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Indonesia menyatakan bakal menyelesaikan verifikasi administrasi calon anggota Legislatif (Caleg) DPR RI pada Sabtu (21/7) malam hari...

Gempa Sumbar Sebabkan 12 Rumah Rusak

AROSUKA, SERUJI.CO.ID - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Solok, Sumatera Barat mencatat sebanyak 12 rumah mengalami kerusakan akibat gempa bumi berkekuatan 5,5 Skala...
Gempa

Solok dan Dharmasraya Juga Rasakan Gempa Padang

PADANG, SERUJI.CO.ID - Gempa berkekuatan 5,5 Skala Richter yang menguncang kota Padang, Sumatera Barat pada Sabtu (21/7) pukul 14.58 WIB juga dirasakan di Solok...

Masyarakat Berlarian ke Luar Rumah Saat Terjadi Gempa di Padang

PADANG, SERUJI.CO.ID- Gempa berkekuatan 5,5 Skala Richter (SR) kembali menguncang kota Padang, Sumatera Barat pada Sabtu (21/7) pukul 14.58 WIB setelah sebelumnya kota itu...
gempa

Gempa Sumbar Tewaskan Satu Orang

PADANG, SERUJI.CO.ID - Seorang warga Lubuk Silasih, Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, bernama Bustami (63) meninggal dunia akibat tertimpa bangunan rumahnya...