Ustad Bachtiar Nasir: Bersatulah untuk Indonesia, untuk Ekonomi dan Hukum yang Berdaulat


Malang, Seruji.com– Ada satu hal yang tidak terlihat oleh media massa, juga tidak bisa dilihat oleh mata dan telinga orang-orang yang hatinya ragu terhadap keimanan dari rangkaian peristiwa 4 November 2016 (411) dan 2 Desember 2016 (212) yang lalu. Yakni, tumbuhnya harga diri umat Islam sebagai seorang Muslim.

Fenomena ini mirip dengan jaman Nabi dulu di Madinah, yakni ketika Surat Al Maidah ayat 51 turun, nampaklah di antara orang-orang pada jaman itu mana golongan orang fasikin, mana yang munafikin, dan mana yang muslimin.

 

Itulah sepenggal hikmah yang terpetik dari ceramah yang disampaikan oleh Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) Ust. Bachtiar Nasir pada acara “Gerakan Subuh Berjama’ah Spirit 212”, Sabtu (14/1).

 

Acara yang berpusat di Masjid Manarul Islam, Malang, Jawa Timur, tersebut dihadiri oleh tidak kurang dari seribu jama’ah laki-laki dan perempuan. Jama’ah memadati masjid yang terletak di kawasan perumahan Sawojajar itu hingga keluar dari aula utama masjid.

 

Ust. Bachtiar Nasir dalam ceramahnya banyak mengangkat keadaan politik dan nuansa kebangsaan terkini di Indonesia. Sebagai orang yang berada di episentrum perpolitikan di Jakarta, ustad yang biasa dipanggil UBN ini bertutur bahwa setidaknya ada tiga hal yang sedang Allah turunkan kepada umat Islam Indonesia dari berbagai kejadian akhir-akhir ini. Yakni, pertama, Allah sedang turunkan al-izzah kepada umat Islam Indonesia. Kedua, Allah memberikan potensi kepada umat Islam untuk bangkit dan bersatu. Dan yang ketiga, Allah memberikan momentum untuk bangkit, yakni melalui Aksi 212 dan dilanjutkan dengan rangkaian gerakan Shalat Subuh berjama’ah di berbagai daerah di Indonesia.

 

UBN menegaskan bahwa dirinya dan para ulama yang tergabung dalam GNPF MUI sama sekali tidak memiliki kepentingan politik apapun. Namun, atas berlangsungnya aksi 411 dan 212 yang lalu, GNPF MUI banyak mendapat sindiran pedas dari kalangan yang gerah terhadap kebangkitan umat Islam.

 

“Ada yang bilang, ini orang-orangnya Prabowo. Ada juga yang bilang ini pakai uangnya SBY. Sampai Pak SBY mencak-mencak. Dan ada yang bilang peserta aksi 212 dapat uang 500 ribu. Ini semua tidak benar,” tegas UBN.

 

Lebih lanjut, UBN menceritakan bahwa biasanya dalam seminar-seminar ilmiah, atau pertemuan-pertemuan yang diikuti harakah-harakah Islam, biasanya yang dibahas adalah 2 hal, yakni khilafah dan imarah. Namun, menurut UBN, Allah SWT justru mendentumkan Surat Al Maidah ayat 51 yang berbicara soal wilayah (kepemimpinan).

 

“Empat kali ayat ini dinistakan di Jakarta. Mulai ramai di masyarakat ketika disampaikan di Kepulauan Seribu yang dikira tidak ada yang ndengerin,” ujar UBN.

 

UBN juga menyinggung tentang sejarah lahirnya Pancasila. Menurut UBN, ada beberapa orang yang kemarin mengatakan bahwa Pancasila itu lahir pada tanggal 1 Juni. Padahal, menurut UBN, ini adalah tanggal di mana sila “Ketuhanan yang Berbudaya” itu dicetuskan untuk menjadi sila ke-5. Sehingga, sila ke-1 sampai ke-4 tidak harus berdasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan. Barulah pada tanggal 22 Juni, ujar UBN, para ulama mendorong agar sila tentang Ketuhanan Yang Maha Esa diletakkan di sila pertama untuk lalu diresmikan pada 5 Juli. “Ada yang bilang para ulama itu tukang ramal, berbicara tentang akhirat padahal belum pernah ke sana. Ini sebenarnya penistaan terhadap Rukun Iman yang ke-6,” sindir UBN.

 

Sebagai penutup, UBN mendorong umat Islam agar bersatu karena Allah telah menjamin bahwa umat Islam pasti menang. UBN mengajak kepada para hakim, para pejabat, dan para pemimpin yang beragama Islam agar berpihak kepada Allah. Sebab dengan berpihak kepada Allah, mereka pasti akan menang. “Kita bersaudara sesama Muslim, nggak usah ada lagi friksi. Perjuangan kita masih panjang untuk ekonomi dan hukum yang berdaulat,” ujar UBN.

 

Sementara itu, Masjid Manarul Islam sendiri telah rutin dihadiri oleh banyak jama’ah pada waktu Shalat Subuh. Menurut salah seorang jamaah Masjid Manarul Islam Gito, biasanya ada sekitar 500 orang jama’ah yang shalat Subuh berjama’ah di masjid ini. “Tapi jika ada acara-acara khusus, jama’ahnya bisa mencapai ribuan,” ujar alumni SMA Negeri 1 Malang ini. (Aulia Luqman Aziz/Malang)

 

Keterangan foto: Ustad Bakhtiar Nasir bersama Jamaah Masjid Manarul Islam, Malang, Jawa Timur dalam acara Gerakan Subuh Berjama’ah Spirit 212”, Sabtu (14/1). (foto Aulia Luqman)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Penggratisan Suramadu: Memperdalam Kekeliruan Kebijakan Pemerintah

"Kebijakan ini dibangun di atas paradigma benua, bertentangan dengan paradigma kepulauan. Dalam paradigma benua, kapal bukan infrastruktur, tapi jalan dan jembatan. Kapal disamakan dengan truk dan bis," Prof Danie Rosyid.

Modernisasi di Sana Dimulai Dengan Pajak Untuk Pria Yang Berjenggot

Para pria dianjurkan tidak berjenggot. Bagi yang bersikeras tetap berjenggot, mereka dikenakan pajak, sesuai dengan status sosial dan profesi.. Lama saya terdiam mengenang tokoh yang begitu terobsesi membaratkan negaranya: Peter the Great. Soal jenggotpun, ia atur.

Terima Kasih Ahok!

3 Kunci Sukses Pasarkan Properti Saat Wabah Covid-19

Webinar ini sendiri sengaja diadakan oleh Lamudi untuk membantu para pangembang properti memasarkan produk mereka agar tetap mendapatkan hasil yang maksimal di tengah pandemi corona.

Pasca Kecelakaan Tulang Belakang, Kaki Sering Nyeri dan Perih, Apa Sebabnya?

Pada 16 tahun yang lalu saya pernah kecelakaan dan tiga ruas tulang belakang remuk. 3 bulan awal kaki kiri saya tidak bisa berjalan, 6 bulan berikutnya sudah bisa jalan walaupun tidak sekuat kaki kanan, sampai sekarang.

Breaking News: Akhirnya, Presiden Jokowi Putuskan Tes Massal Covid-19

Tidak mengambil kebijakan Lockdown, Presiden Jokowi akhirnya lebih memilih melakukan tes massal Covid-19.

Tahukah Anda, Berwudhu Dapat Kurangi Risiko Tertular Virus Corona?

Berwudhu merupakan kegiatan yang tak bisa dipisahkan dari muslim.. Tahukah anda bahwa berwudhu bisa mengurangi resiko tertular virus Corona?

Cegah Kepanikan, AMSI Imbau Media Kedepankan Kode Etik dalam Pemberitaan Wabah Corona

Wens menjelaskan beberapa langkah yang harus dilakukan media-media anggota AMSI dalam pemberitaan terkait virus Covid-19 tersebut.

Fahira: Milenial Butuh Teladan, Bukan Tik Tok untuk Membumikan Pancasila

"Membumikan Pancasila secara populer sah-sah saja, tetapi yang dibutuhkan millenial saat ini bukan itu. Milenial butuh teladan dari para penyelenggara negara dan para pemimpin bangsa," kata Fahira

TERPOPULER

close