Libatkan TNI-Polri
Penanganan bencana kekeringan di Kabupaten Pamekasan tidak hanya dilakukan pemkab, akan tetapi juga melibatkan peran aktif pihak-pihak terkait, seperti TNI dari Kodim 0826 Pamekasan dan polisi dari jajaran Polres Pamekasan.
Kodim menggerakkan semua Bintara Pembina Desa (Babinsa) yang di 80 desa/kelurahan yang dilanda kekeringan.
Prajurit TNI ini proaktif membantu petugas Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Pamekasan. Mereka juga aktif mengawal setiap kegiatan pendistribusian bantuan air bersih.
Menurut Dandim 0826 Pamekasan Letkol Inf Nuryanto, keberadaan TNI di desa harus bisa memberikan manfaat kepada masyarakat, termasuk membantu kebutuhan masyarakat.
Jajaran koramil di masing-masing kecamatan juga diinstruksikan untuk melakukan pemantauan dan pengawasan secara langsung ke lapangan.
Selain itu, prajurit abdi negara tersebut juga diminta untuk ikut membantu menyampaikan informasi kepada petugas BPBD Pemkab Pamekasan apabila ada desa yang belum masuk dalam pendataan pemkab, sehingga luput dari bantuan pemerintah.
Gerakan penanganan bantuan kekeringan dan kekurangan air bersih juga dilakukan oleh polisi dari jajaran Polres Pamekasan.
Petugas abdi negara ini juga menggerakkan Babinkamtibmas di 80 desa yang dilanda kekeringan, membantu TRC BPBD Pemkab Pamekasan.
Kerja sama intensif kedua institusi negara itu, yakni TNI-Polri yang menyebabkan pendistribusian bantuan air bersih ke 299 dusun di 80 desa di 13 kecamatan di Kabupaten Pamekasan cepat teratasi.
Sejak pendistribusian bantuan dilakukan pada 4 September 2017, hingga 18 September 2017, semua dusun dan desa yang dilanda kekeringan dan kekurangan air bersih sudah terdistribusi bantuan.
Menurut Koordinator TRC BPBD Pemkab Pamekasan Budi Cahyono, pendistribusian bantuan cepat terealisasi, berkat kekompakan semua pihak, baik masyarakat, aparat desa, khusus dari unsur TNI dan Polri.
Di Pulau Madura, Jawa Timur, kasus kekeringan sebenarnya tidak hanya terjadi di Kabupaten Pamekasan, akan tetapi juga terjadi di tiga kabupaten lain, yakni Sampang, Bangkalan dan Kabupaten Sumenep.
Ini terjadi, karena lahan di empat kabupaten itu, memang termasuk lahan tandus, sehingga saat kemarau debet sumber air di sumur milik warga berkurang. Hanya saja, dari empat kabupaten itu, terdata jumlah desa paling banyak dilanda kekeringan dan kekurangan air bersih ialah Kabupaten Pamekasan.
Di Sampang, jumlah desa yang dilanda kekeringan sebanyak 46 desa, Bangkalan sebanyak 25 desa dan di Kabupaten Sumenep terdata sebanyak 37 desa, meningkat dibanding awal September yang hanya 15 desa.
