Kapolda Jatim Pantau Arus Balik Lebaran


NGAWI, SERUJI.CO.ID – Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin meninjau arus lalu lintas di jalan tol Solo-Ngawi ruas Ngawi-Sragen sebagai bagian dari pantauan arus balik lewat udara dan darat di sepanjang jalur mudik di Provinsi Jawa Timur, Senin (18/6).

Salah satu titik yang ditinjau adalah ‘Rest Area’ 575 jalan tol Solo-Ngawi di Di Desa Ngale, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi.

Dalam kesempatan tersebut, Kapolda menyatakan secara umum arus balik di Jawa Timur terpantau cukup lancar. Meski demikian, terdapat laporan dari pihak terkait, tentang adanya antrean panjang kendaraan di sejumlah gerbang tol.

“Dari hasil investigasi, antrean tersebut disebabkan karena lambatnya sistem alat pembayaran sehingga membutuhkan waktu untuk mengakses masuk tol,” ujar Irjen Pol Machfud Arifin kepada wartawan di Ngawi.

Untuk itu, saat ini instansi terkait masih mencari solusi terbaik agar kondisi tersebut tidak menimbulkan kemacetan parah saat puncak arus balik lebaran yang diprediksi akan terjadi pada tanggal 19 dan 20 Juni 2018.

Sebagai solusi lain, Polda Jatim tidak akan ragu memberlakukaan diskresi, yang salah satunya menggratiskan biaya masuk jalan tol dengan syarat telah terjadi kemacetan lebih dari 3 kilometer.

“Kalau sudah macet lebih dari 3 kilo di pintu masuk tol akibat lambatnya alat akses tersebut, maka diskresi Dirlantas untuk bisa gratis. Tentunya dengan berkoordinasi dengan pihak pengelola tol. Itu sudah kebijakan dari Kemenhub,” kata dia.

Terkait hal tersebut, ia menilai antrean kendaraan masuk di sejumlah gerbang tol di Jatim masih relatif lancar. Kalaupun terjadi kemacetan masih di kisaran satu kilometer.

Untuk itu, jajarannya dibantu dengan instansi terkait terus melakukan pemantauan agar pelaksanaan arus balik di wilayah Jawa Timur berjalan lancar.

Sementara, kondisi arus balik di jalan tol Solo-Ngawi ruas Ngawi-Sragen yang dioperasikan fungsional selama masa angkutan Lebaran 2018, terpantau ramai lancar.

Arus lalu lintas didominasi dari arah Jawa Timur menuju Jawa Tengah. Pada titik Gerbang Tol Ngawi terdapat antrean kendaraan untuk masuk jalan tol, namun hal tersebut masih dianggap normal karena panjang antrean belum mencapai 3 kilometer. (Ant/Su02)

ARTIKEL TERBARU

Isu Kuatkan Ekonomi Umat pun Disuarakan oleh TGB Zainul Majdi

Bagi dunia politik, apa beda politisi dengan pemimpin? Orientasi politisi adalah jabatan. Mereka hanya tamu di dunia politik karena datang dan pergi sesuai dengan menang atau kalah dalam pemilihan umum.

Fahira: Milenial Butuh Teladan, Bukan Tik Tok untuk Membumikan Pancasila

"Membumikan Pancasila secara populer sah-sah saja, tetapi yang dibutuhkan millenial saat ini bukan itu. Milenial butuh teladan dari para penyelenggara negara dan para pemimpin bangsa," kata Fahira

Begini Ciri Rumah Idaman untuk Pasangan Muda

Beberapa waktu lalu, portal properti Lamudi melakukan survei tentang rumah impian bagi pasangan muda, survei tersebut dilakukan kepada 100 pasangan yang baru menikah. Inilah hunian idaman untuk pasangan muda.....

5 Alasan Kita Perlu Membuat Undangan Pernikahan Digital

Kini era sudah berubah. Kini ada sebuah cara baru untuk mengirim undangan pernikahan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan situs desain online, di mana kita bisa menciptakan desain sendiri, juga memanfaatkan Internet untuk mengirimkannya.

Inilah Tulisan AR Baswedan Bantah Tudingan Gerakan Islam Bertentangan dengan Pancasila

AR Baswedan menyebut, pihak-pihak yang sering mempertentangan gerakan Islam dengan Pancasila justru adalah pihak-pihak yang pada hakikatnya tidak paham Pancasila. Justru sebaliknya, pemuka-pemuka ahli pikir Islam memberi pengertian-pengertian yang baik tentang Pancasila yang keluar dari keyakinan yang kuat.

Antisipasi Pelambatan Ekonomi, Ketua DPD Kumpulkan Kadin Provinsi se Indonesia

“Saya sengaja mengumpulkan para ketua umum Kadin provinsi, karena hari ini kita menghadapi masalah serius di sektor dunia usaha dan dunia industri," kata La Nyalla

Kontroversi Omnibus Law, Fahira: Wujud Frustasi Pemerintah atas Kemendegkan Ekonomi

Omnibus Law RUU Cipta Kerja (sebelumnya Cipta Lapangan Kerja atau Cilaka) dinilai sebagai bentuk rasa frustasi pemerintah atas kemandegkan ekonomi yang terjadi lima tahun belakangan ini.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama
close