Ini Penjelasan Dinkes Terkait Penanganan Keracunan Massal di Pamekasan

PAMEKASAN, SERUJI.CO.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan, Jawa Timur, menjelaskan lambannya penanganan kasus keracunan massal yang terjadi 12 Mei 2018 yang menyebabkan dua orang meninggal dunia.

Menurut Kepala Dinkes Pamekasan Ismail Bey, pihaknya sebenarnya telah mengambil langkah cepat terkait kasus keracunan massal itu dengan cara mengambil sampel nasi bungkus yang diduga menjadi penyebab keracunan.

“Kami telah mengirim sampel tersebut ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Surabaya, akan tetapi hingga saat ini hasil pemeriksaan belum turun,” ujar Ismail.

Kadinkes mengemukakan hal itu menanggapi protes dari berbagai kalangan di Pamekasan terkait lambannya penanganan kasus keracunan massal yang menyebabkan dua orang meninggal dunia itu.

Ismail menjelaskan, pihaknya belum bisa mengambil keputusan cepat, karena hasil pelitian laboratorium dari Badan POM di Surabaya hingga kini belum diterima.

“Dengan demikian, kami juga belum mengetahui secara pasti penyebabnya sebelum ada bukti material berdasarkan hasil uji lab itu,” katanya menjelaskan.

Kasus keracunan massal di Pamekasan itu terjadi pada 12 Mei 2018. Hingga kini kasus tersebut sudah berjalan selama 10 hari, dan korban keracunan yang meningal dunia sudah berlangsung delapan hari, tapi belum ada tindakan dari pihak terkait, baik dinkes maupun aparat Polres Pamekasan.

Warga yang terdata menjadi korban keracunan massal di Pamekasan itu sebanyak 318 orang, dan dua diantaranya meninggal dunia.

Korban keracunan terakhir yang meninggal dunia bernama Marsun (40) warga Dusun Betes Barat, Desa Ponjanan Timur, Kecamatan Batumarmar, Pamekasan. Sebelumnya korban meninggal dunia bernama Muati (55) asal Dusun Sokon, dari desa dan kecamatan yang sama.

Kedua korban keracunan massal ini meninggal dunia di RSUD Dr Slamet Martodirjo Pamekasan, dan tergolong paling parah di antara ratusan orang yang mengalami keracunan massal kala itu.

Kasus keracunan massal di Pamekasan itu terjadi pada sebuah acara imtihan di Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Nurul Jadid, Desa Ponjanan Timur, Kecamatan Batumarmar Sabtu (12/5).

Kasus keracunan massal ini membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan, menetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Baca juga: Korban Meninggal Keracunan Massal di Pamekasan Bertambah

Penetapan status KLB itu dilakukan karena kasus tersebut membutuhkan penanganan khusus dengan jumlah korban yang tidak sedikit, yakni mencapai 318 orang.

Warga yang menjadi korban keracunan massal akibat makanan nasi bungkus yang diberikan panitia kepada para undangan itu, dari berbagai kelompok usia, yakni mulai balita, remaja, pemuda dan orang tua.

Awalnya, jumlah korban keracunan hanya sebanyak 150 orang, tetapi hingga Ahad (13/5) malam sekitar pukul 23.00 WIB, korban keracunan sudah tercatat mencapai 318 orang.

Dari jumlah itu, sebanyak 250 orang dirawat di RSUD Waru, Pamekasan, sedangkan siswanya di tiga puskesmas berbeda di wilayah utara Pamekasan, yakni Waru, Pasean dan Puskesmas Batumarmar, Pamekasan.

Para pasien terpaksa banyak yang dirawat di lorong-lorong rumah sakit, karena daya tampung tidak mencukupi. Sementara, pasien yang tergolong parah dirujuk ke RSUD Dr Slamet Martodirjo, Pamekasan, termasuk pasien yang meninggal dunia, Jumat (18/5) pagi, yakni Muati. (Ant/SU02)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Renungan Hari Tenang: Dari Indonesia Pusaka Hingga Tuhan Survei

Dan memang itulah tujuan tertinggi dari ritual pemilu. Kompetisi, adu gagasan, demonstrasi kepentingan, itu semua semacam gerak senam dan angkat beban dalam gymnasium.

Reuni 212, Aksi Yang Berat Terasa Ringan

Aksi reuni 212 tahun 2018 ini bukan hanya dihadiri oleh kaum muslimin, tapi juga oleh pemuka lintas agama. Sebuah spirit yang sangat besar pengaruhnya untuk perubahan bangsa ke depan. Ini sebuah bukti lagi, bahwa umat islam bukan pecundang. Umat Islam bukan teroris pemecah belah bangsa, umat islam bukan anti kebhinnekaan .....

Belajar, Bukan Bersekolah

Akhir pandemi belum juga jelas, satu hal sekarang makin jelas: Gedung-gedung megah persekolahan itu makin tidak relevan jika dipaksakan untuk kembali menampung kegiatan bersekolah lagi. Sekolah harus direposisi. Juga guru.

Bertema “Inovasi Beyond Pandemi”, AMSI Gelar Indonesian Digital Conference 2020

Ketua Umum AMSI, Wenseslaus Manggut mengatakan IDC yang digelar AMSI bertujuan untuk melihat sejauh mana berbagai sektor melakukan inovasi di tengah pandemi Covid-19 dan seperti apa ke depan.

Cek Fakta: Debat Pilkada Tangsel, Seluruh Paslon Minim Paparkan Data

Debat pemilihan umum kepala daerah (pilkada) Tangerang Selatan (Tangsel) membeberkan program kerja yang dimiliki para peserta. Sayangnya, dalam debat tersebut masing-masing pasangan calon (paslon) lebih banyak bicara dalam tatanan konsep.

PasarLukisan.com Gelar Pameran Lukisan Virtual Karya Pelukis dari Berbagai Daerah

"Ini adalah solusi yang diharapkan akan memecahkan kebekuan kegiatan kesenian, khususnya pameran seni rupa, akibat pandemi yang belum kunjung berakhir," kata M. Anis,

Paman Donald dan Eyang Joe

Banyak yang usil menyamakan pilpres Amerika dengan Indonesia, termasuk kemungkinan Biden akan mengajak Trump bertemu di MRT dan menawarinya menjadi menteri pertahanan.

Berikut Berbagai Larangan Bagi Penasihat Investasi Yang Diatur dalam Keputusan BPPM

Penasihat Investasi dalam menjalankan kegiatannya harus bersikap hati–hati, dikarenakan terdapat larangan yang harus diperhatikan oleh Penasihat Investasi agar terhindar dari sanksi.

TERPOPULER