Ibu Rela Jual Ginjal untuk Belikan Ponsel Anak, Ini Tanggapan Psikolog

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Psikolog pendidikan Najeela Shihab menduga ibu yang akan menjual ginjal untuk membelikan ponsel untuk anak mengalami tekanan emosional.

“Kalau dalam kasus jual ginjal ini, saya melihatnya memang ekstrem, kemungkinan besar ada tekanan emosional dan sosial lain pada ibu atau kurang dukungan lingkungan,” ujar Najeela di Jakarta, Jumat (9/3).

Seorang ibu berusia 41 tahun di Surabaya menawarkan ginjalnya akibat didesak sang anak untuk membelikan ponsel.

Meski demikian, dia melihat perlu penelusuran lebih lanjut mengenai kondisi pribadi, anak, keluarga, dan lingkungan keluarga tersebut.

“Jadi penanganan kasus itu, tidak bisa reaktif per orang, tetapi fokus pada langkah pencegahan terutama yang berisiko dengan pendidikan keluarga di tingkat kota dan desa, kurikulum sekolah formal atau nonformal yang baik buat anak,” paparnya.

Najeela menjelaskan salah satu aspek terpenting dari cara pengasuhan adalah pola disiplin di mana di setiap keluarga perlu ada kesepakatan bersama, termasuk konsekuensi apabila menghilangkan barang.

“Selain itu di keluarga perlu hubungan komunikasi yang efektif, seperti misalnya masing-masing perlu tahu berapa anggaran dan uang jajan yang bisa dibelanjakan,” katanya.

Najeela menduga kedua hal tersebut tidak dimiliki dalam keluarga ibu dan anak tersebut.

“Khusus mengenai ponsel dan dunia digital pada umumnya, memang membuat pengasuhan jadi menantang buat orang tua karena tuntutan dari lingkungan pada anak untuk punya sangat tinggi, tetapi orang tua harus melihat ini sebagai kesempatan anak dan orang tua belajar. Misalnya menetapkan bersama kapan anak boleh pakai ponsel, bagaimana cara menjaga dan menggunakannya,” katanya.

Jika tidak, katanya, maka gadget dan dunia digital bukan membawa manfaat yang mencerdaskan, malah berisiko merugikan buat anak dan hubungan keluarga, kata Najeela yang juga pegiat pendidikan tersebut. (Ant/SU02)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Sambut Konferwil AMSI Jatim, Begini Pesan Kapolda Jawa Timur

"Saya terima kasih teman-teman dari AMSI, mudah-mudahan bisa mengawal suplai berita kepada masyarakat dalam koridor jurnalistik yang tetap menjaga objektifitas. Saya senang sekali bisa audiensi dan bersilaturahmi," kata Irjen Fadil di Mapolda Jatim

Hak Asuh Anak Dalam Perceraian

Retaknya perkawinan yang berujung perceraian sering kali mengakibatkan konflik perebutan hak asuh anak. Dalam artikel kali ini, Ruang Hukum akan menjelaskan tentang hak asuh anak sesuai perundangn yang berlaku dan prosesnya di Pengadilan jika terjadi perselisihan perebutan hak asuh anak. Selamat membaca.....

PR Mendikbud Nadiem: Jadikan Mapel Sejarah Penguat Pendidikan Karakter

Setelah sempat menjadi polemik panas, informasi yang yang menyebutkan mata pelajaran (mapel) Sejarah akan dihapus dari kurikulum sekolah sudah diklarifikasi langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim

Bahagia itu Tidak Bersyarat

Bahagia adalah kata yang tidak asing bagi kita semua. Bahagia merupakan impian semua orang yang hidup di dunia ini. Bahkan tidak hanya di dunia, di Akhirat pun kita mendambakannya. Setiap waktu kita berdoa untuk meraih kebahagian ini, sayang kita tidak pernah belajar bagaimana mencari, menggapai, menemukan kebahagiaan itu.

Diabetes Melitus: Mengingkari Diagnosis Dapat Berakibat Fatal

Bermacam reaksi pasien ketika pertama kali diberitahu bahwa mereka menderita diabetes melitus. Ada pasien yang dapat memerima dengan tenang, memahaminya, ada juga yang kecewa, stress, tidak percaya, marah, tidak menerimanya, atau bahkan mengingkarinya.

Innalillahi, Indonesia Kembali Berduka Mantan Mendiknas Prof Malik Fadjar Wafat

Indonesia kembali kehilangan putra  terbaiknya, hari ini, Senin (7/9), dengan wafatnya Prof Abdul Malik Fadjar, mantan Menteri Pendidikan Nasional (2001-2004).

TERPOPULER