JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Ada angka yang seharusnya membuat kita semua tertegun. Dari 7 juta anak Indonesia yang ikut program Cek Kesehatan Gratis (CKG), hampir 700 ribu anak terdeteksi bergejala depresi dan cemas. Bukan orang dewasa yang kelelahan kerja. Bukan lansia yang memikul beban usia. Tapi anak-anak — pelajar usia 11 hingga 17 tahun.
Data ini disampaikan langsung oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers di Kantor Kemenkes, Jakarta, Senin (9/3/2026). Dan angkanya bukan sekadar besar — angkanya menggiriskan.
😟 Angka yang Bikin Kita Harus Duduk Sebentar
Rinciannya begini: sebanyak 363.326 anak (4,8 persen) menunjukkan gejala depresi, sementara 338.316 anak (4,4 persen) menunjukkan gejala kecemasan atau anxiety disorder. Total keduanya menyentuh angka hampir 10 persen — satu dari sepuluh anak yang diperiksa.
Yang membuat angka ini makin mengejutkan adalah perbandingannya dengan orang dewasa. Pada kelompok dewasa dan lansia, gejala depresi hanya tercatat 0,9 persen dan kecemasan 0,8 persen. Artinya, anak-anak Indonesia mengalami depresi dan kecemasan lima kali lebih tinggi dibandingkan orang dewasa mereka sendiri.

“Ini menunjukkan masalah kesehatan jiwa itu besar sekali,” ujar Budi. Dan ini baru puncak gunung es.
Menkes sendiri mengutip estimasi WHO: satu dari delapan hingga satu dari sepuluh penduduk berpotensi mengalami gangguan kejiwaan. Dengan populasi Indonesia mendekati 280 juta, itu berarti minimal 28 juta warga hidup dengan masalah kesehatan jiwa yang belum tentu terdeteksi.
Tapi ada satu data yang lebih menohok dari sekadar angka depresi dan cemas. Persentase pelajar yang pernah mencoba bunuh diri melonjak hampir tiga kali lipat dalam delapan tahun: dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023, menurut data Global School-Based Student Health Survey. Satu dari sepuluh pelajar pernah mencoba mengakhiri hidupnya sendiri.
Menkes menegaskan, masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan memanggil sang anak ke konselor.
“Yang perlu diperbaiki bukan hanya anaknya, tetapi juga pola asuh keluarga serta lingkungan belajar. Kita perlu mensosialisasikan life skill dan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP),” katanya.
Tekanan akademik yang tinggi, perundungan di sekolah maupun dunia maya, hingga kecanduan pornografi dan judi online turut disebut sebagai faktor pemicu. Masalah kesehatan mental anak bukan lahir dari satu sumber — melainkan akumulasi dari berbagai tekanan yang mengepung mereka setiap hari.
