Bagaimana Kalau Prabowo Kalah Lagi?

Oleh: Ferry Koto, pemerhati pedidikan dan kebijakan publik.

SERUJI.CO.ID – Kalau Prabowo menang, Alhamdulillah, semoga bisa membuat negeri lebih baik lagi dibanding pemerintahan Jokowi. Walau memang tak ada jaminan. Setidaknya ada “hope” bagi sebagian pihak yang tidak puas dengan kepemimpinan Jokowi.

Terpilih kembali atau tidaknya petahana adalah sebuah hal yang wajar di alam demokrasi. Karena tujuan dari pesta demokrasi, atau yang kita sebut Pilpres ini, adalah untuk mengukur kepuasan dan ketidakpuasan pada petahana.

Jika sebagian besar rakyat puas –dalam konteks Pilpres 2019 yang hanya 2 paslon, 50%+1, maka petahana bisa meneruskan pemerintahannya pada periode kedua. Sebaliknya, jika banyak rakyat yang tak puas, maka pemimpin baru akan lahir. Sesederhana itu cara kerja demokrasi.

Jadi, jika nanti Jokowi tidak lagi terpilih, tak ada alasan pendukung Jokowi untuk “ngamuk“, karena kekalahan adalah cermin ketidakpuasan sebagian besar rakyat pemilih pada petahana. Ingat, rakyat berdaulat, dan demokrasi memang “menang-menangan” suara.

Namun sebaliknya, yang agak saya khawatir, justru kalau Prabowo kalah lagi.

Apakah para pendukung Prabowo, terutama kelompok masyarakat yang entah kenapa sejak 2014 sudah melebihi para politisi dalam sikap politiknya, siap menerima kekalahan tersebut?

Siap menerima dalam 5 tahun berikutnya, dari 2019 sampai tahun 2024, Presiden dari negeri besar ini, dengam segala kelebihan dan kekurangannya adalah Jokowi. Siap menerima Jokowi lah kepala negara dari negara yang luasnya hampir seluas benua Eropa ini.

Are you ready?

—000—

Saya pribadi sangat berharap, siapapun Presiden yang terpilih nanti, diantara Jokowi atau Prabowo –yang pasti bukan SBY yang entah kenapa beberapa hari belakangan ini sering dipromosikan, (mungkin karena rindu SBY?)– haruslah mampu mengakhiri pembelahan masyarakat yang sedemikian tajam. Pembelahan yang bahkan telah sampai ke saling klaim “siapa yang paling layak masuk surga”.

Cara mengakhiri pembelahan ini tak ada cara lain, selain harus datang dari Presiden terpilih dan para elit negeri ini. Rangkul lah semua rakyat, tak peduli pendukung atau bukan pendukung. Tak peduli walau begitu “sadis” mereka dalam mem-bully. Toh, Presiden tanpa rakyat, seburuk apapun rakyatnya, tidak akan disebut Presiden jika tak ada yang dipimpin.

–00–

Terakhir, walau tujuan akhir dari Pilpres 2019 ini adalah terpilihnya Presiden dan Wakil Presiden 2019-2024, namun prosesnya tentu haruslah yang makin berkualitas, makin membuat rakyat tercerahkan, makin cerdas, dengan diadunya gagasan-gasan terbaik dari para capres-cawapres. Bukan adu saling sindir dan saling hina.

 


NOTES:

Gambar dibuat Ferry Koto pertengahan atau jelang akhir 2012.

Gambar ini saya buat jelang akhir 2012, atau saat awal Jokowi maju dalam kontestasi Pilgub DKI Jakarta pada 2012. Mereka yang ada di gambar ini, dalam bayangan saya waktu itu, adalah calon pemimpin-pemimpin masa depan Indonesia. Gambar ini saya beri caption waktu itu dengan singkatan YM2 (Yang Muda, Yang Memimpin).

Dan alhamdulillah, sebagian besar terwujud. Jokowi berhasil jadi Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2012, kemudian naik jadi Presiden 2014. Ahok jadi Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2014, walau sebagai “pemain pengganti”. Ganjar Pranowo terpilih sebagai Gubernur Jateng pada 2013 (kembali menang dalam pilgub Jateng 2018). Khofifah Indar Parawansa memenangkan Pilgub Jatim 2018, yang nanti akan dilantik pada Januri 2019.

Sementara Gatot Pujo Nugroho terpilih pada 2013 sebagai Gubernur Sumut, setelah sebelumnya jadi Pj Gubernur karena Gubernur-nya tersandung korupsi. Ridwan Kamil akhirnya menjadi Gubernur Jabar 2018, setelah sebelumnya menjabat Wali Kota Bandung 2013-2018.

Yang belum jadi Gubernur baru Bambang DH saja, mungkin nanti akan jadi bos nya para Gubernur (Mendagri maksud saya, hehe).

Sayang, 2 orang di gambar ini, Ahok dan Gatot, harus tersandung pidana akibat perbuatan mereka sendiri. Semoga jadi pelajaran yang diambil hikmahnya untuk mengkoreksi diri.

 

Surabaya, 27 Oktober 2018

15 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Prabowo, Jokowi dan Massa

Bila peristiwa 212 yang penuh makna direvisi pada versi pengkerdilan, sebuah perubahan sosial yang akan terjadi setelahnya sulit diprediksi. Itu seperti terjadi beberapa waktu sebelum keruntuhan rezim Suharto dua dekade lalu.

Terpilih Secara Aklamasi, Sutopo Kristanto Pimpin IKA ITS Periode 2019-2023

Pria kelahiran Tulungagung, 25 Desember 1954 ini menggantikan Ketua Umum sebelumnya, Dwi Sutjipto yang merupakan Kepala SKK Migas. Adapun Sutopo sehari-harinya adalah Presiden Direktur PT Jaya Konstruksi.

“Tenggelamkan!” Yang Populer di Era Susi Pudjiastuti, Bakal Hilang di Era Edhy Prabowo

"Tenggelamkan!" yang selama 5 tahun belakangan akrab di telinga masyarakat, akan hilang pasca Susi tidak lagi menjabat sebagai Menteri KKP, digantikan politisi Gerindra, Edhy Prabowo.

Bantah Pangkas Anggaran Pendidikan Demi Formula E, Begini Penjelasan Pemprov DKI

Malah kata Syaefuloh, Pemprov DKI Jakarta terus melakukan peningkatan anggaran rehabilitasi total gedung sekolah secara signifikan, terutama pada 2017 sampai 2020

Pangkas Anggaran Pendidikan Demi Formula E, PSI: Bukti Kepedulian Anies Sangat Rendah Pada Pelajar

Diungkapkan Anggara, bahwa untuk melaksanakan perhelatan balap mobil listrik tersebut, Pemprov DKI menganggarkan sebesar Rp1,16 triliun. Namun, anggaran sebesar itu ternyata diambil dengan cara memangkas anggaran lain yang jauh lebih penting.

Bertemu Dubes Saudi Siang Ini, Menhan Prabowo Akan Bahas Soal Habib Rizieq

Dalam pertemuan yang direncanakan berlangsung pukul 15.00 WIB tersebut, Prabowo berharap dapat juga membahas soal klaim HRS yang mengatakan dicekal Kerajaan Arab Saudi.

Setelah 25 Tahun Bekerja Sebagai Dokter, Baru Ketahuan Ijazah Yang Digunakan Palsu

Ijazah kedokteran SU diketahui palsu setelah 25 tahun bekerja sebagai dokter di PT Pelni.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama
close