Disperindag Jember Minta Distributor Tarik Ikan Kaleng Terkontaminasi Cacing


JEMBER, SERUJI.CO.ID – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jember, Jawa Timur meminta para distributor dan pelaku usaha lainnya seperti toko retail modern, swalayan, toko peracangan, dan pedagang pasar menarik ikan kaleng yang mengandung parasit cacing.

“Kami sudah menyebarkan surat edaran kepada seluruh camat, pelaku usaha, dan koordinator pasar di Jember untuk melakukan penarikan terhadap 27 merek produk ikan kaleng yang positif mengandung parasit cacing sesuai dengan temuan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI,” kata Kepala Disperindag Jember Anas Ma’ruf di Kabupaten Jember, Selasa (3/4).

BPOM telah melakukan sampling dan pengujian terhadap 541 sampel ikan dalam kemasan kaleng yang terdiri dari 66 merek. Hasil pengujian menunjukkan 27 merek (138 bets) positif mengandung parasit cacing, terdiri dari 16 merek produk impor dan 11 merek produk dalam negeri.

“Dominasi produk yang mengandung parasit cacing adalah produk impor dan produk dalam negeri yang bahan bakunya berasal dari impor, sehingga kami menindaklanjuti penjelasan BPOM tersebut untuk melakukan penarikan sarden yang mengandung parasit cacing di Jember,” tuturnya.

Untuk itu, kata dia, Disperindag Jember meminta pihak yang terkait yakni para pelaku usaha (distributor,toko retail modern, supermarket, minimarket,swalayan, toko pracangan, dan pedagang pasar) untuk tidak menjual atau memajang, serta melakukan penarikan terhadap 27 merek ikan kaleng yang positif mengandung parasit cacing hingga audit komprehensif BPOM selesai dilakukan.

“Kami juga meminta para koordinator pasar tradisional se-Jember untuk mensosialisasikan kepada masyarakat maupun pedagang pasar terhadap peredaran 27 merek yang dilampirkan dalam surat edaran ini,” katanya.

Selain itu, kata dia, pihaknya juga mengimbau masyarakat berperan aktif untuk menghubungi Disperindag Jember pada nomor telepon 0331-334497 atau contact senter HALLO BPOM pada nomor telp 1-500-533, SMS 081219999533, atau unit layanan pengaduan konsumen, apabila menemukan produk bermasalah.

“Saya imbau masyarakat untuk lebih cermat dan hati-hati dalam membeli produk pangan, sehingga harus selalu cek ‘KLIK’ (Kemasan, Label, Izin edar, dan Kadaluwarsa) sebelum membeli atau mengonsumsi produk pangan. Pastikan kemasannya dalam kondisi utuh, baca informasi pada tabel, dan pastikan memiliki izin edar dari BPOM RI, dan tidak melewati masa kedaluwarsa,” ujarnya.

Disperindag bersama Dinas Kesehatan Jember juga akan mengecek ke sejumlah toko, apakah surat edaran penarikan ikan kaleng atau makarel tersebut sudah dilaksanakan atau tidak, sehingga diharapkan makarel yang mengandung parasit cacing tidak beredar dan dikonsumsi oleh masyarakat.

Sebanyak 27 merek produk ikan kaleng atau ikan makarel yang mengandung parasit cacing sesuai penjelasan BPOM yakni ABC, ABT, Ayam Brand, Botan,CIP, Dongwon, DR Fish, Farmerjack, Fiesta Seafood, Gaga, Hoki, Hosen, IO, Jojo, Kings Fisher, LSC, Maya, Nago/Nagos, Naraya, Pesca, Poh Sung, Ranesa, S&W, Sempio, TLC, dan TSC. (Ant/SU03)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Pendidikan Untuk Merdeka

Pada saat pemimpin Jepang sudah memvisikan sebuah masyarakat baru Society 5.0, apakah kita saat ini, sebagai bangsa, sebagai ummat, berada pada jalur yang benar menuju puncak kejayaan menjadi bangsa yang berdaulat, adil dan makmur, serta cerdas?

Menggugat Kepedulian Mahasiswa Atas Nasib Bangsa

Publik saat ini bertanya-tanya, apakah Mahasiswa Indonesia dan juga Organisasi Mahasiswa terutama yang bersifat eksternal kampus seperti HMI, GMKI, GMNI,PMKRI, PMII, IMM, KAMMI dan berbagai Ormawa lainnya masih ada?

Prabowo Subianto, “What Is To Be Done”: Catatan atas Pidato Prabowo

Pidato Prabowo Subianto menggelegar di bumi nusantara kemarin malam. Jutaan atau puluhan juta menyaksikan pidato visi-misi tersebut. Dari sisi pidato, Prabowo luar biasa, mampu sebagai "singa podium", yang menjelaskan pikiran-pikirannya seolah berinteraksi dengan suasana audiens dan seolah tanpa teks.

Fahira: Milenial Butuh Teladan, Bukan Tik Tok untuk Membumikan Pancasila

"Membumikan Pancasila secara populer sah-sah saja, tetapi yang dibutuhkan millenial saat ini bukan itu. Milenial butuh teladan dari para penyelenggara negara dan para pemimpin bangsa," kata Fahira

Begini Ciri Rumah Idaman untuk Pasangan Muda

Beberapa waktu lalu, portal properti Lamudi melakukan survei tentang rumah impian bagi pasangan muda, survei tersebut dilakukan kepada 100 pasangan yang baru menikah. Inilah hunian idaman untuk pasangan muda.....

5 Alasan Kita Perlu Membuat Undangan Pernikahan Digital

Kini era sudah berubah. Kini ada sebuah cara baru untuk mengirim undangan pernikahan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan situs desain online, di mana kita bisa menciptakan desain sendiri, juga memanfaatkan Internet untuk mengirimkannya.

Inilah Tulisan AR Baswedan Bantah Tudingan Gerakan Islam Bertentangan dengan Pancasila

AR Baswedan menyebut, pihak-pihak yang sering mempertentangan gerakan Islam dengan Pancasila justru adalah pihak-pihak yang pada hakikatnya tidak paham Pancasila. Justru sebaliknya, pemuka-pemuka ahli pikir Islam memberi pengertian-pengertian yang baik tentang Pancasila yang keluar dari keyakinan yang kuat.

Antisipasi Pelambatan Ekonomi, Ketua DPD Kumpulkan Kadin Provinsi se Indonesia

“Saya sengaja mengumpulkan para ketua umum Kadin provinsi, karena hari ini kita menghadapi masalah serius di sektor dunia usaha dan dunia industri," kata La Nyalla

Kontroversi Omnibus Law, Fahira: Wujud Frustasi Pemerintah atas Kemendegkan Ekonomi

Omnibus Law RUU Cipta Kerja (sebelumnya Cipta Lapangan Kerja atau Cilaka) dinilai sebagai bentuk rasa frustasi pemerintah atas kemandegkan ekonomi yang terjadi lima tahun belakangan ini.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama
close