Di Solo, Harga Beberapa Kebutuhan Pokok Merangkak Naik


SOLO, SERUJI.CO.ID – Harga beberapa komoditas kebutuhan pokok seperti telur dan cabai di Pasar Tradisional Sidodadi Kleco Solo, Jawa Tengah, Rabu (4/10), rata-rata naik sekitar Rp1.000 per kilogram dibanding hari sebelumnya, sedangkan stok barang relatif cukup.

Berdasarkan pantauan di Pasar Sidodadi Kleco Solo, menyebutkan, harga telur rata-rata ditawarkan Rp19.000 per kg, padahal sebelumnya dijual Rp18.000/kg, sedangkan cabai rawit merah eceran dari Rp12.000/kg kini naik menjadi Rp13.000/kg hingga Rp14.000/kg, cabai merah besar Rp20.000/kg, dan keriting cukup mahal yakni Rp30.000/kg.

Menurut Sugiyem (50) pedagang di Pasar Sidodadi Kleco Solo, naiknya harga cabai seperti sebelumnya jika pasokan barang ke pasar mulai berkurang. Harga akan sedikit demi sedikit naik.

“Saya melihat pasokan masih lancar hanya saja jumlahnya berkurang yang sebelumnya rata-rata bisa dua ton per hari kini menurun sekitar satu setengah ton per hari,” katanya.

Harga kkomoditas sayuran lainnya yakni kentang, wortel, bawang merah, dan bawang putih rata-rata dijual stabil sepekan ini, dan stok cukup.

Harga kentang Rp15.000/kg, wortel Rp12.000/kg, bawang merah dijual turun dari Rp20.500 kini menjadi Rp20.000 per kg, bawang putih Rp23.000/kg, dan tomat Rp8.000, sedangkan stok barang relatif cukup.

Sidiq (39) pedagang lainnya di pasar yang sama menjelaskan harga beberapa kebutuhan pokok di Pasar Sidodadi Kleco Solo masih dijual stabil, kecuali telur ayam mengalami kenaikan dari Rp18.000/kg menjadi Rp19.000/kg. Namun, harga minyak goreng dijual stabil yakni Rp12.000/kg, gula pasir Rp12.500/kg, beras C4 kualitas super Rp11.000/kg, dan kualitas biasa hanya Rp9.700/kg.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Nasionalisme Kita: Rizal Ramli, Tak berkompromi Dengan Urusan Harga Diri Bangsa

Saat ini Rizal mempersoalkan isu Freeport, kenapa kita beli? kan itu punya kita sendiri setelah berakhir kontrak dua tahun lagi? Lalu orang-orang yang tidak suka pikiran Rizal atau merasa professor pintar atau merasa Rizal oposisi yang iri sama Jokowi, mengolok-olok Rizal sebagai goblok atau pengkhianat atau iri dan dengki atau tidak faham, dan lain sebagainya.

Potret Pengelolaan BUMN: Prinsip GCG vs Managemen “Koncoisme”

Fenomena pengelolaan BUMN dan BUMD yang tidak mengindahkan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip GCG sangat potensial membawa kerugian dan kebangkrutan terhadap perusahaan BUMN dan BUMD yang bersangkutan.

Fahira: Milenial Butuh Teladan, Bukan Tik Tok untuk Membumikan Pancasila

"Membumikan Pancasila secara populer sah-sah saja, tetapi yang dibutuhkan millenial saat ini bukan itu. Milenial butuh teladan dari para penyelenggara negara dan para pemimpin bangsa," kata Fahira

Begini Ciri Rumah Idaman untuk Pasangan Muda

Beberapa waktu lalu, portal properti Lamudi melakukan survei tentang rumah impian bagi pasangan muda, survei tersebut dilakukan kepada 100 pasangan yang baru menikah. Inilah hunian idaman untuk pasangan muda.....

5 Alasan Kita Perlu Membuat Undangan Pernikahan Digital

Kini era sudah berubah. Kini ada sebuah cara baru untuk mengirim undangan pernikahan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan situs desain online, di mana kita bisa menciptakan desain sendiri, juga memanfaatkan Internet untuk mengirimkannya.

Inilah Tulisan AR Baswedan Bantah Tudingan Gerakan Islam Bertentangan dengan Pancasila

AR Baswedan menyebut, pihak-pihak yang sering mempertentangan gerakan Islam dengan Pancasila justru adalah pihak-pihak yang pada hakikatnya tidak paham Pancasila. Justru sebaliknya, pemuka-pemuka ahli pikir Islam memberi pengertian-pengertian yang baik tentang Pancasila yang keluar dari keyakinan yang kuat.

Antisipasi Pelambatan Ekonomi, Ketua DPD Kumpulkan Kadin Provinsi se Indonesia

“Saya sengaja mengumpulkan para ketua umum Kadin provinsi, karena hari ini kita menghadapi masalah serius di sektor dunia usaha dan dunia industri," kata La Nyalla

Kontroversi Omnibus Law, Fahira: Wujud Frustasi Pemerintah atas Kemendegkan Ekonomi

Omnibus Law RUU Cipta Kerja (sebelumnya Cipta Lapangan Kerja atau Cilaka) dinilai sebagai bentuk rasa frustasi pemerintah atas kemandegkan ekonomi yang terjadi lima tahun belakangan ini.

TERPOPULER

close