Bawang Putih Naik Tinggi Lampaui Harga Acuan, Begini Penjelasan Disperindag Yogyakarta

YOGYAKARTA, SERUJI.CO.ID – Dinas Perindustrian dan Perdagangan Daerah Istimewa Yogyakarta menyebutkan kenaikan harga bawang putih jenis kating di pasaran bukan disebabkan faktor cuaca melainkan dipicu tingginya permintaan masyarakat di daerah ini.

“Ada kenaikan komoditas bawang putih jenis kating, tetapi lebih disebabkan tingginya permintaan, bukan faktor cuaca,” kata Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY Yanto Apriyanto di Yogyakarta, Senin (1/4).

Menurut Yanto, berdasarkan pemantauan yang dilakukan petugas Disperindag DIY di Pasar Beringharjo, Pasar Kranggan, dan Pasar Demangan Yogyakarta untuk harga bawang putih jenis kating saat ini mencapai Rp46.000 per kilogram (kg) atau naik Rp2.333 dari harga sebelumnya Rp43.666 per kg.

“Harga itu telah jauh melampaui harga acuan yang telah ditetapkan Kementerian Perdagangan sebesar Rp32.000 per kilogram untuk Pulau Jawa,” kata Yanto.

Menurut Yanto, untuk bawang putih dipastikan bukan disebabkan faktor cuaca karena hampir 100 persen pasokan bawang putih di DIY berasal dari impor. Meski didatangkan dari luar negeri, harganya tetap naik karena permintaan masyarakat juga meningkat.

“Kalau bawang merah memang masih ada pasokan dari daerah Parangtritis, Bantul, tetapi untuk bawang putih hampir seluruhnya impor namun permintaannya cukup tinggi karena saat ini banyak masyarakat yang menggelar acara-acara resepsi,” katanya.

Untuk mengembalikan harga bawang putih agar sesuai dengan harga acuan yang ditetapkan pemerintah, menurut Yanto, Disperindag DIY telah berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan RI untuk menggelar operasi pasar (OP) bawang putih.

“‘Obat paling mujarab’ memang dengan operasi pasar langsung ke konsumen. Ini sudah kami koordinasikan dengan Jakarta karena untuk bawang putih barangnya ada di pusat,” kata ia.

Selain bawang putih, seluruh harga kebutuhan pokok seperti cabai, bawang merah, telur ayam, beras, minyak goreng, serta gula pasir secara umum masih stabil, demikian penjelasan Yanto Apriyanto.

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER