PM Libya Kutuk Serangan Bersenjata Terhadap Pengungsi

TRIPOLI, SERUJI.CO.ID – Perdana Menteri Libya Fayez Sarraj, yang didukung PBB, pada Ahad (4/2) mengutuk serangan oleh kelompok bersenjata terhadap keluarga pengungsi Tawergha di dekat Kota Bani Walid, sekitar 180 kilometer di sebelah barat-daya Tripoli.

“Kepala Dewan Kepresidenan Pemerintah Kesepakatan Nasional mengutuk intimidasi terhadap keluarga Tawergha oleh kelompok bersenjata di dekat Daerah Gararat Al-Gatf, dalam upaya merusak kesepakatan perujukan antara Kota Misurata dan Touragha,” kata Sarraj di dalam satu pernyataan.

“Kelompok ini telah dan terus memerangi upaya orang Libya untuk mencapai konsensus,” kata Sarraj.

Ia menyatakan dukungan akan terus mengalir bagi pelaksanaan kesepakatan perujukan.

“Dewan Kepresidenan memuji upaya Dewan Kota Praja Misurata, Dewan Tawergha setempat, dan komite tetua serta perujukan kedua kota besar tersebut, yang terus bekerja guna menjamin kepulangan orang Tawergha,” tambah pernyataan itu.

Media lokal melaporkan kelompok bersenjata menyerang kamp sementara buat pengungsi Tawergha di dekat Desa Gararat Al-Gatf di Bani Walid, tempat mereka membakar tenda keluarga pengungsi, memukuli sebagian dari mereka dan mencuri sebagian kendaraan mereka.

Kelompok tersebut diduga berasal dari Dewan Militer Misurata, yang menolak kepulangan warga Tawergha ke kota mereka.

Pada 26 Desember 2017, Sarraj mengumumkan bahwa 1 Februari akan menjadi tanggal bagi kepulangan orang Tawergha ke kota mereka, yang mereka tinggalkan beberapa tahun lalu.

Namun, kepulangan itu terhenti setelah kelompok bersenjata dari Misurata menolak mereka memasuki kota tersebut, meskipun kenyataan kedua kota yang bertetangga itu menandatangani kesepakatan perujukan yang diatur PBB pada Agustus 2016.

Selama aksi perlawanan, sebagian warga Tawergha bersekutu dengan pasukan mantan presiden Muammar Gaddafi melawan gerilyawan di Kota Misurata, yang berdekatan.

Setelah rezim Gaddafi digulingkan, warga tersebut, yang dituduh oleh warga Misurata secara aktif ikut dalam memerangi mereka, meninggalkan rumah mereka ke kota besar lain di Libya. Sejak itu, mereka telah menjadi pengungsi di dalam negeri mereka. (Ant/SU03)

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER