close

Renungan Hari Tenang: Dari Indonesia Pusaka Hingga Tuhan Survei

SERUJI.CO.ID – Selesai sudah masa kampanye. Jika delapan bulan hiruk pikuk masa kampanye itu lautan yang maha luas, lalu kembali kita menyelam ke sana, apakah gerangan mutiara yang kita dapat?

Tentu setiap penyelam akan mencari mutiara sesuai dengan selera, persepsi tentang apa yang penting, bahkan panggilan hidupnya. Bagi saya pribadi, setidaknya empat mutiara ini yang akan saya simpan.

Tujuan Akhir Pemilu Agar Kita Makin Cinta Tanah Air

merah putih
Kopassus TNI AD saat pecahkan rekor kibarkan bendera merah putih terbesar (ukuran 22m x 33m) di udara, pada Jumat, 1/4/2016. (Foto: Istimewa)

Pertama, itu adalah lagu Indonesia Pusaka, penutup debat di hari penutup kampanye, 13 April 2019.


Baik kubu 01, kubu 02, dan penyelenggara pemilu, bersama di atas pentas. Lagu soal cinta tanah air bergema. Dan petikan lirik Ismail Marzuki itu, lama membuat saya terdiam:

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

Dan memang itulah tujuan tertinggi dari ritual pemilu. Kompetisi, adu gagasan, demonstrasi kepentingan, itu semua semacam gerak senam dan angkat beban dalam gymnasium. Tak ada lain tujuannya. Walau kadang sakit, tapi olah raga dalam gymnasium justru untuk membuat badan kita kian kuat dan sehat.

Pedih dan kerasnya persaingan pemilu punya fungsi yang sama. Tak lain ia hanya olah batin untuk membuat tubuh Indonesia kian sehat dan kuat.

Pemilu ini diarahkan agar kita semakin cinta tanah air. Karena di sanalah kita dilahirkan, berlindung di hari tua. Dan jika sampai waktunya, di sana pula, kita akan menutup mata.

Kita ingin semakin lama Indonesia menjadi rumah bersama yang semakin sejahtera, semakin adil, semakin nyaman dihuni oleh kita, dan anak cucu kita kelak. Tiada guna pemilu jika ia tidak menjadi tangga ke puncak itu.

Jokowi: Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 45 Harga Mati!

Lautan massa pendukung di kampanye paslon nomor urut 01, Jokowi-KH Ma’ruf di Stadion Utama GBK, Sabtu (13/4/2019). (foto:istimewa)

Kedua, itu adalah pernyataan Jokowi di GBK 13 April 2019. Dalam jumlah massa kampanye, yang mungkin salah satu terbesar dalam sejarah kampanye, ikrar itu dinyatakan. Ujar Jokowi: Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 45 harga mati!

Penting fondasi bangsa itu untuk terus menerus diperkuat. Indonesia masih dalam masa transisi. Sistem lama otoritarian sudah kehilangan legitimasi. Tapi sistem baru demokrasi belum kokoh.

Dalam indeks demokrasi yang dikeluarkan oleh Economist Inteligence Unit, kita masih dikategorikan sebagai demokrasi yang belum terkonsolidasi (Flawed Democracy). Satu penyebabnya karena sistem demokrasi belum menjadi “the only game in town

Masih banyak elit berpengaruh, yang punya hentakan pada grass groot, yang masih mengajukan paham lain di luar prinsip demokrasi modern dan kultur hak asasi manusia.

Fondasi Indonesia belum sepenuhnya menjadi the only game in town. Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 45 yang sudah diamandemen itu fondasi yang terus perlu diperkuat. Demokrasi Indonesia dibangun di atas fondasi itu.

Pemilu sangat ideal jika berjalan memperkuat fondasi itu, bukan memperlemah.

SBY: Kampanye Nasional Haruslah Inklusif, All for All

Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono.

Ketiga, itu adalah pernyataan SBY. Momennya ketika kampanye Akbar Prabowo di GBK Jakarta. Ujar SBY, hindari kampanye yang tidak inklusif, yang tidak “All for All.” Cegah demonstrasi massa yang justru akan menambah polarisasi politik berdasarkan keagamaan, kedaerahan atau paham yang ekstrim.

Saat itu SBY berbicara selaku negarawan, walau secara resmi, ia berada dalam kubu Prabowo. Berulang SBY menyatakan ketika menjadi presiden: kesetiaanku kepada partai politik berhenti, ketika kesetiaanku pada negara dimulai.

SBY mengingatkan kita. Menang dan kalah dalam pemilu memang sah menjadi tujuan. Namun hindari kemenangan dengan menggunakan manuver yang justru membahayakan fondasi negara.

Jika negara dalam jangka panjang semakin terpolarisasi, terpecah, berdasarkan sentimen agama yang ekstrim dan emosional, apa yang tersisa untuk diperebutkan lagi?

Dalam pemilu, penting untuk menyusun strategi detail menentukan kemenangan. Namun itu dikerjakan tetap dalam kerangka Indonesia yang bhineka tunggal ika, yang menjamin kesetaraan warga negara, yang melindungi kebebasan individu untuk berbeda sejauh sesuai dengan prinsip hak asasi manusia universal.

Prabowo: Denny JA Itu Siapa? Tuhan Survei?

Capres nomor urut 02, Prabowo Subianto saat kampanye akhbar Nasional di GBK, Jakarta, Ahad (7/4/2019). (foto:istimewa)

Keempat, itu adalah pernyataan Prabowo 24 Oktober 2018, yang dicatat banyak media online. Ujar Prabowo: Denny JA itu siapa? Tuhan Survei?

Itu yang menjadi pembeda pemilu di era reformasi dibandingkan pemilu era Orde Baru. Kini Presiden dipilih langsung. Lembaga survei dan konsultan politik mewarnai kampanye. Ia memang satu paket dengan demokrasi langsung.

Bisa dipahami kegusaran Prabowo atas lembaga survei. Di tahun 2014, ia sendiri sempat syukur sujud terpilih sebagai presiden di tahun 2014. Penyebabnya karena quick count lembaga survei memenangkannya.

Padahal di seberang sana, LSI Denny JA dan lebih banyak lembaga survei lain sudah lebih dulu mengumumkan kemenangan Jokowi- JK.

Lembaga survei yang keliru itu, sebagian sudah dipecat oleh asosiasi lembaga survei. Tinggal ketik saja di Google, kita tahu lembaga survei yang dimaksud.

Tapi beberapa bunga yang layu tak dapat digeneralisasi bahwa seluruh kebun bunga layu. Hal yang sama dengan layunya beberapa lembaga survei.

Lihat pula contoh lembaga survei yang terbukti akurat. Yang terbukti membantu semua kita untuk memahami perilaku pemilih. Untuk memahami aspirasi, harapan, ketakutan, kekecewaan warga negara.

Maret 2005 Hari Bersejarah, Dimana Parpol Menandatangani Kesepakatan dengan Lembaga Survei

Syarat Jadi Peserta Pemilu
Munas Golkar (foto: istimewa)

Maret 2005 akan dicatat sejarah mulai berubahnya politik pemilu. Itulah momen pertama kali Partai Politik menanda tangani kesepakatan kepada lembaga survei untuk ikut menyeleksi siapa yang layak menjadi calon partai untuk kepala daerah. Politik pemilu pun mulai mengawinkan politik praktis dan ilmu pengetahuan opini publik.

Saat itu, partai pertama yang menggunakan survei sebagai instrumen resmi partai adalah partai Golkar. Di tahun 2005. Golkar diwakili Andi Matalata dan Ruly Chairul Azwar meminta saya Denny JA melalui LSI, untuk ikut menyeleksi lebih dari 200 pilkada.

Penyebabnya tak ada lain adalah peristiwa sebelumnya. LSI yang saya pimpim secara tepat memprediksi SBY yang akan menjadi presiden. Dan menyatakan walau ada serangan sarang politisi busuk, Golkar akan juara pemilu 2004.

Saat itu sentimen publik tak percaya. Apa iya SBY dari partai kecil bisa mengalahkan Megawati, yang saat itu menjabat presiden, pemimpin partai terbesar, anak proklamator Bung Karno? Apa iya Golkar yang identik dengan Orde Baru, yang diisukan sarang politisi busuk, yang dikalahkan PDIP dalam pemilu 1999, bisa kembali juara?

Melawan opini publik, LSI menyatakan bisa. Google menyimpan rekaman itu.

Saya pertaruhkan segala untuk meyakinkan. Abakadabra! Mata elit politil terbuka. Ternyata telah datang ilmu pengetahuan yang bisa membaca bahkan memprediksi perilaku pemilih.

Namun sebagaimana profesi lain, ada yang baik, ada yang buruk. Itupun terjadi pada lembaga survei: ada yang baik, ada yang buruk. Om Google datang membantu. Cukup ketika nama lembaga survei di sana, track recordnya terbaca. Atau malah lembaga itu tak ada record sama sekali.

Pemilu langsung menjadi ibu kandung lembaga survei. Dan ibu tak bisa dipisahkan dari anaknya. Sebagaimana anak tak bisa dipisahkan dari ibunya.

Denny Januar Ali atau biasa disapa Denny JA.

Datanglah hari tenang. Selesai sudah 7-8 bulan masa kampanye. Satu peristiwa besar segera berlalu. Hikmah atas peristiwa besar, oh.. dilupakan jangan.

Siapapun nanti yang terpilih, yang menang adalah ibu pertiwi, yang semakin kokoh, semakin dalam mendengar aspirasi rakyatnya.*

April 2019

BACA JUGA

Loading...

Kolom dr. Irsyal, Sp PD

Takut Komplikasi Diabetes? Ketahuilah Kadar Gula Darah Anda

Merasa badan tidak enak, dan kalau gula darah dirasakan tinggi. “Hhmm, apa gula darah yang tinggi dapat dirasakan,” bisik saya dalam hati.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Loading...

Renungan Hari Tenang: Dari Indonesia Pusaka Hingga Tuhan Survei

Dan memang itulah tujuan tertinggi dari ritual pemilu. Kompetisi, adu gagasan, demonstrasi kepentingan, itu semua semacam gerak senam dan angkat beban dalam gymnasium.

Takut Komplikasi Diabetes? Ketahuilah Kadar Gula Darah Anda

Merasa badan tidak enak, dan kalau gula darah dirasakan tinggi. “Hhmm, apa gula darah yang tinggi dapat dirasakan,” bisik saya dalam hati.

Bantahan Survei Kompas, Filsafat Ilmu dan Kisah Angsa Hitam

Cara saya berterima kasih kepada Kompas justru memujinya ketika benar dan mengkritiknya ketika salah. Dan saya berkesimpulan dengan ilmu yang saya pelajari, Kompas telah salah menarik kesimpulan dalam publikasi surveinya di bulan Maret 2019.

Pria Lebih Suka Mencari Rumah Dibandingkan Perempuan

Sepanjang tahun 2018 persentase pengunjung pria berjumlah 55,5% sementara perempuan 44,5%.

Pemkab Ponorogo Komitmen Untuk Ciptakan Kabupaten Layak Anak

Kabupaten layak anak dinilai Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni, sangat penting untuk menjamin kualitas SDM di masa datang.

Berikut Peta Perolehan Suara Sementara Pilpres 2019 di Pulau Jawa

Di pulau Jawa, dengan total DPT Pemilu 2019 sebanyak 110.686.690 pemilih, jumlah suara yang sudah masuk sebanyak 20.852.357 suara (18,84%).

Berikut Peta Perolehan Suara Sementara Pilpres 2019 di Pulau Sumatera

Di pulau Sumatera, dengan total DPT Pemilu 2019 sebanyak 38.879.195 pemilih, jumlah suara yang sudah masuk sebesar 14.561.226 suara (37,45%). Prabowo-Sandiaga unggul cukup telak di pulau yang disebut Andalas ini dengan memperoleh dukungan 8.333.852 suara (57,23%).

Real Count KPU Sementara: Pertarungan Antar Pulau, Prabowo Unggul di 2 Pulau, Sisanya Jokowi

SERUJI mengelompokkan perolehan suara berdasarkan pulau-pulau yang ada di Indonesia dan pemilihan luar negeri. Ada enam kelompok pulau yang kami susun, yakni Sumatera, Jawa, Bali-Nusra, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku-Papua.

Bantah Hapus Aturan PBB Gratis Yang Dibuat Ahok, Begini Penjelasan Lengkap Gubernur Anies

"Bahwa pembebasan PBB itu diteruskan. Bukan hanya pembebasan bagi rumah yang nilainya Rp 1 miliar, tetapi (juga) bagi orang-orang yang berjasa bagi bangsa dan negara," jelas Anies.

Berikut Peta Perolehan Suara Sementara Pilpres 2019 di Pulau Jawa

Di pulau Jawa, dengan total DPT Pemilu 2019 sebanyak 110.686.690 pemilih, jumlah suara yang sudah masuk sebanyak 20.852.357 suara (18,84%).

Berikut Peta Perolehan Suara Sementara Pilpres 2019 di Pulau Sumatera

Di pulau Sumatera, dengan total DPT Pemilu 2019 sebanyak 38.879.195 pemilih, jumlah suara yang sudah masuk sebesar 14.561.226 suara (37,45%). Prabowo-Sandiaga unggul cukup telak di pulau yang disebut Andalas ini dengan memperoleh dukungan 8.333.852 suara (57,23%).

Real Count KPU Sementara: Pertarungan Antar Pulau, Prabowo Unggul di 2 Pulau, Sisanya Jokowi

SERUJI mengelompokkan perolehan suara berdasarkan pulau-pulau yang ada di Indonesia dan pemilihan luar negeri. Ada enam kelompok pulau yang kami susun, yakni Sumatera, Jawa, Bali-Nusra, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku-Papua.

Real Count KPU: Jokowi Menang Besar di Pulau Dewata, Prabowo Unggul Telak di Ranah Minang

Yang menarik, jika dilihat data dari perolehan suara di masing-masing provinsi, terlihat ada dua provinsi yang masing-masing paslon mendapatkan dukungan telak dari lawannya, yakni di Sumatare Barat dan Bali.

TERPOPULER

Real Count KPU: Jarak Keunggulan Prabowo Makin Besar dari Jokowi di Sumatera

Keunggulan Prabowo-Sandiaga di pulau Sumatera cukup jauh meninggalkan pasangan Jokowi-KH Ma’ruf Amin. Dari data scan C1 yang sudah masuk di sistem perhitungan (Situng) KPU sebesar 12.542.295 suara, Prabowo-Sandiaga raih sebanyak 7.220.181 suara atau  57,57 persen suara

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama

Data di Situng KPU Dekati 30%: Jokowi Makin Jauh Tinggalkan Prabowo, Begini Rinciannya

Pantauan SERUJI, Rabu (24/4) pukul 14.30 WIB jumlah suara yang masuk ke sistem situng KPU sebesar 44.339.685 suara, yang berasal dari 235.823 tempat pemungutan suara (TPS) dalam dan luar negeri.

Real Count KPU Sementara: Pertarungan Antar Pulau, Prabowo Unggul di 2 Pulau, Sisanya Jokowi

SERUJI mengelompokkan perolehan suara berdasarkan pulau-pulau yang ada di Indonesia dan pemilihan luar negeri. Ada enam kelompok pulau yang kami susun, yakni Sumatera, Jawa, Bali-Nusra, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku-Papua.

Soal Pertemuan dengan Prabowo, Denny JA: Apa Masalahnya? LSI Memang Konsultan Politik

“Apa masalahnya? LSI Denny JA itu memang lembaga survei dan konsultan politik yang terbuka untuk semua partai. Ini kan sudah menjadi pengetahuan umum,” kata Denny JA saat dikonfirmasi SERUJI, Selasa (23/4) malam.