Oleh: Luthfi Bashori
Menjadi pemimpin itu bukan perkara ringan, bahkan segudang tanggung jawab yang akan menuntutnya, baik tuntutan tanggung jawab di dunia, juga tanggung jawab kelak di akhirat. Namun, dewasa ini tidak jarang terjadi perebutan kepemimpinan di kalangan masyarakat hingga menghalalkan segala cara.
Mereka mengkampanyekan dirinya dengan berbagai macam janji yang manis-manis agar dipilih oleh rakyat, namun setelah terpilih, ternyata mereka menipu rakyatnya dengan menghindar dari pelaksanaan janji-janjinya itu.
Sy. Ma’qil bin Yasar RA mengemukakan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tak seorang pun yang diserahi oleh Allah untuk memimpin rakyat, lalu ia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan surga baginya.” (HR. Muttafaqun ‘alaih).
Pemimpin dalam tinjauan syariat itu tidak harus memiliki rakyat yang jumlahnya ratusan juta orang, namun pemimpin yang hanya memiliki pengikut dengan jumlah yang dapat dihitung dengan jari tangan, juga memiliki kewajiban tanggung jawab yang sama terhadap rakyatnya.

bentar lagi lengser.. lalu izrail alaihi salam kan menjemput.. hati hati mas joko..
dan pengikutnya tidak merasa tertipu, sehingga masih tetap mengelu-elukannya..
Na’udzubillah..
Alloh Yahdik..,
Siapa aja pak Kyai?
Wah, bakal ada yg tersungging nih…