Cak Imin: Muslim Mayoritas Tapi Sebatas Menitip Aspirasi dalam Politik

58
217
Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB yang juga digelari Panglima Santri.

JOMBANG, SERUJI.CO.ID – Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar menyampaikan bahwa ummat Islam Indonesia hidup serba dalam paradoks, di satu sisi dijadikan acuan dunia sebagai model toleransi antaragama dan demokrasi.

Namun di sisi lain, ummat Muslim masih berjuang keras di dalam negeri untuk mengatasi berbagai gesekan akibat begitu pluralnya karakter bangsa ini.

“Jadi panutan, tapi masih ribet dengan diri kita juga,” kata pria yang akrab disapa cak Imin ini dalam Rapat Terbuka Institut Agama Islam Bani Fattah di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (9/12).

Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB bersama Rektor Institut Agama Islam Bani Fattah di Tambakberas, Jombang, Sabtu (8/12/2017).
Loading...

Paradoksnya bukan hanya di situ saja, lanjut cak Imin, dalam konteks ekonomi meskipun ummat Islam mayoritas, namun malah minim dalam akses dan kualitas kesejahteraannya.

“Dalam politik juga masih ada paradoks. Kita ini mayoritas yang masih sebatas menitipkan aspirasi, belum yang mengeksekusi keputusan. Nah, kelihatan kan paradoksnya?” lanjut politisi yang digelari Panglima Santri ini.

Peserta yang hadir memberikan sambutan hangat atas apa yang disampaikan cak Imin. Tampak Rektor IAI Bani Fattah KH Abdul Kholiq, Pengasuh Ponpes Bumi Damai Muhibbin Tambak Beras KH Jamaludin Ahmad, dan Pengasuh Ponpes Alwardiyah III Tambak Beras KH Kholiq Mustaqim.

Juga terlihat KH Imam Haromain, Pengasuh Ponpes Putra Sunan Ampel Denanyar dan para pimpinan pondok pesantren lainnya di Jombang. Hadir juga ketua DPRD Provinsi Jawa Timur Halim Iskandar dan jajaran DPRD Kabupaten Jombang.

Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB diantara wisudawan Institut Agama Islam Bani Fattah di Tambakberas, Jombang, Sabtu (8/12/2017).

Cak Imin juga mengingatkan agar gairah agama yang tengah meluap di negeri ini jangan disalahpahami atau ikut paham yang salah.

“Pelajari agama dari sumber yang menyejukkan, yaitu pesantren NU, kyai NU, gus-gus NU. Insya Allah ilmunya nambah, hati pun adem, nasionalisme tetap kokoh,” ujarnya.

“Namun apa pun keadaannya, kita harus tetap bersyukur bahwa Indonesia saat ini masih aman damai. Di tengah situasi global yang kian panas seperti ini, damai itu mahal, langka. Lihat Syria, Irak, Yaman, Mesir, Jerusalem, bahkan AS sendiri menjadi semakin terancam akibat politik luar negerinya yang provokatif,” kata cak Imin.

Pada kesempatan ini, juga diwisuda 79 santri dan santriwati IAI Bani Fattah oleh Rektor IAI dan jajaran Senat IAI serta para guru besar di institut tersebut. (ARif R/Hrn)

loading...

58 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama