Muncul Petisi Turunkan Harga Tiket Pesawat, DPR Desak Menhub Bertindak

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Muncul petisi daring change.org yang berjudul ‘Turunkan Harga Tiket Pesawat Domestik Indonesia’ yang merespons harga tiket pesawat yang membumbung tinggi. Petisi itu sudah ditandatangani 88.066 orang saat dilihat SERUJI pukul 18.10 WIB hari ini.

Anggota Komisi V DPR Syarif Alkadrie mendesak Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi segera bertindak.

“Menhub harus memanggil maspakai-maskapai itu, sebab regulasinya di Kemenhub,” ujar Syarif kepada wartawan, Jumat (11/1).

Menurut Budi, tren kenaikan harga tiket pesawat terjadi usai peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di Karawang pada akhir Oktober 2018 lalu.

Baca juga: YLKI: Bagasi Berbayar adalah Kenaikan Tarif Pesawat Terselubung

“Saya lihat setelah kejadian Lion itu maskapai pada menaikkan harga, tapi akhirnya tidak produktif. Saya ke Pontianak ini naik Garuda, harga mahal tapi nggak penuh. Terus ada 2 penerbangan yang nggak terbang juga,” kata Syarif.

“Kenaikan ini begitu drastis. Ke Pontianak itu satu jam. Sekarang Garuda bisa Rp 1,7 juta atau Rp 1,8 juta. Biasanya Rp 700-800 ribu. Kalau Lion biasanya Rp 300-400 ribuan, sekarang Rp 1 juta. Naiknya 100 persen,” imbuhnya.

Menurutnya, Menhub seharusnya segera tanggap dengan fenomena kenaikan harga tiket pesawat yang memberatkan masyarakat ini. Bila tidak, citra pemerintahan Presiden Jokowi bisa tercoreng.

“Masyarakat merasakan kemahalan harga tiket sekarang. Menhub harus tanggap. Ini banyak dampaknya, terhadap pertumbuhan ekonomi, dengan harga mahal semua bisa inflasi,” katanya.

Baca juga: Jelang Natal dan Tahun Baru, Harga Tiket Pesawat dari Kendari Melambung Tinggi

Syarif berharap agar Kemenhub membuat kebijakan terkait kenaikan harga tiket pesawat yang cukup tinggi tersebut.

“Menhub harus buat regulasi, melakukan pengawasan, apabila tejadi kemahalan. Kalau tidak, jelaskan ke masyarakat. Apa mungkin harganya mahal menyangkut keamanan, atau perusahaannya mau collapse,” pungkasnya. (SU05)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Katakanlah dengan Meme: Genre Baru Komunikasi Politik

Meme politik, bagaimana pengaruhnya dalam perpolitikan terkini

Sambut Konferwil AMSI Jatim, Begini Pesan Kapolda Jawa Timur

"Saya terima kasih teman-teman dari AMSI, mudah-mudahan bisa mengawal suplai berita kepada masyarakat dalam koridor jurnalistik yang tetap menjaga objektifitas. Saya senang sekali bisa audiensi dan bersilaturahmi," kata Irjen Fadil di Mapolda Jatim

Hak Asuh Anak Dalam Perceraian

Retaknya perkawinan yang berujung perceraian sering kali mengakibatkan konflik perebutan hak asuh anak. Dalam artikel kali ini, Ruang Hukum akan menjelaskan tentang hak asuh anak sesuai perundangn yang berlaku dan prosesnya di Pengadilan jika terjadi perselisihan perebutan hak asuh anak. Selamat membaca.....

PR Mendikbud Nadiem: Jadikan Mapel Sejarah Penguat Pendidikan Karakter

Setelah sempat menjadi polemik panas, informasi yang yang menyebutkan mata pelajaran (mapel) Sejarah akan dihapus dari kurikulum sekolah sudah diklarifikasi langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim

Bahagia itu Tidak Bersyarat

Bahagia adalah kata yang tidak asing bagi kita semua. Bahagia merupakan impian semua orang yang hidup di dunia ini. Bahkan tidak hanya di dunia, di Akhirat pun kita mendambakannya. Setiap waktu kita berdoa untuk meraih kebahagian ini, sayang kita tidak pernah belajar bagaimana mencari, menggapai, menemukan kebahagiaan itu.

Diabetes Melitus: Mengingkari Diagnosis Dapat Berakibat Fatal

Bermacam reaksi pasien ketika pertama kali diberitahu bahwa mereka menderita diabetes melitus. Ada pasien yang dapat memerima dengan tenang, memahaminya, ada juga yang kecewa, stress, tidak percaya, marah, tidak menerimanya, atau bahkan mengingkarinya.

Innalillahi, Indonesia Kembali Berduka Mantan Mendiknas Prof Malik Fadjar Wafat

Indonesia kembali kehilangan putra  terbaiknya, hari ini, Senin (7/9), dengan wafatnya Prof Abdul Malik Fadjar, mantan Menteri Pendidikan Nasional (2001-2004).

TERPOPULER