Mau Kembali ke Era Tahun 1965?

Semua cuitan tentang isu PKI itu berasal dari 58.059 akun manusia (90,5 persen) dan 6.093 akun robot (mesin) sekitar 9,5 persen. Pembicaran seputar itu menempati porsi sebesar 31 persen dari seluruh pembicaraan netizen (warga net), yang ditanggapi dengan pro dan kontra.

Tahun 2016, isu PKI dibicarakan sangat tinggi pada Mei dan Juni, mencapai 70.588 cuitan dan Desember 2016 sebanyak 79.912 cuitan yang berlanjut hingga Januari 2017. Peningkatan percakapan secara drastis tentang PKI terjadi sejak Mei 2016 dan sejak itu, isu PKI diperbincangkan di twitter.

Secara demografi, 37 persen netizen yang merespons isu PKI berasal dari usia 26-35 tahun. Sisanya, usia 19-25 tahun sebanyak 28,2 persen; usia di atas 35 tahun sebanyak 25,3 persen; usia di bawah 18 tahun atau belum pernah merasakan tayangan wajib setiap tahun di televisi sejak 1984-1997 itu, turut berpendapat sebanyak 9,5 persen. Isu ini direspons di hampir seluruh wilayah di Indonesia, meskipun terbanyak di Jawa.

Ada beberapa kelompok yang meramaikan cuitan PKI dengan segala variasinya. Masing-masing kelompok memiliki massa dan narasi yang berbeda-beda, misalnya, narasi-narasi yang meyakini bahwa PKI mulai bangkit, ada yang merasa itu hanya kekhawatiran, ada narasi ajakan kembali menonton Film G30S/PKI, dan masih banyak lagi. Perbincangan isu PKI, ada masanya. Menjelang September, intensitasnya pasti meningkat.

Mengakhiri beban sejarah Isu memang bisa membakar amarah bahkan memecah-belah bangsa. Itulah yang menjadi pemicu tragedi 1965 tatkala muncul isu bahwa kalangan perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang disebut-sebut menyebut diri “Dewan Jenderal” akan melakukan kudeta atas pemerintahan Presiden Soekarno.

Sementara sebagian kalangan lain, termasuk Tjakrabirawa yang merupakan pasukan pengamanan Presiden Soekarno, yang disebut-sebut sebagai “Dewan Revolusi” melawan “Dewan Jenderal”.

Mereka pada Jumat dini hari 1 Oktober 1965 menculik hingga membunuh enam perwira tinggi TNI Angkatan Darat di Jakarta, yakni Jenderal (anumerta) Ahmad Yani yang saat terakhir hidupnya menjabat Menteri/Panglima Angkatan Darat, Letjen (anumerta) Suprapto, Letjen (anumerta) MT Haryono, Letjen (anumerta) Siswondo Parman, Mayjen (anumerta) DI Panjaitan, Mayjen (anumerta) Sutoyo Siswomiharjo, dan seorang perwira pertama Kapten CZI (anumerta) Pierre Tendean yang merupakan ajudan dan mengaku sebagai Jenderal Abdul Haris Nasution demi menyelamatkan Nasution yang saat itu menjabat Menhankam dari aksi penculikan di rumahnya.

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER