Akibat Tiket Mahal, Frekuensi Penerbangan Turun 15 Persen

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Direktur Utama Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia atau Airnav Indonesia, Novie Riyanto menyebutkan adanya penurunan frekuensi penerbangan sebesar 15 persen sejak Desember 2019 hingga saat ini atau sejak fenomena tiket mahal.

“Kalau penurunannya jelas ada ya. Di data kami di Soekarno-hatta yang biasanya 1.000-1.100 penerbangan per hari untuk saat ini turun sekitar 15 persen,” kata Novie saat buka puasa bersama di Jakarta, Selasa (14/5).

Penerbangan tersebut termasuk penerbangan domestik dan internasional. Namun ia mengatakan perlu dilakukan analisa lebih lanjut apakah penurunan tersebut disebabkan hanya karena tiket mahal. Pasalnya, lanjutnya, periode tersebut juga bertepatan dengan musim sepi atau low season.

“Untuk kemarin puasa pertama itu agak naik lagi 1.000 lebih per hari, kemudian karena minggu pertama dan kedua ini low season ya sekitar 850 per hari,” kata Novie.

Ia berharap minggu ketiga sudah bisa meningkat lagi karena mulai kegiatan mudik.

Novie juga tidak menampik di rute-rute tertentu, memang sudah difasilitasi dengan moda darat saat ini, seperti Jakarta-Surabaya, Jakarta-Semarang, dan Jakarta-Denpasar.

“Sekarang ada sebagian yang menggunakan mobil. Kan mobil ini lancar sekali. Jakarta-Semarang itu saya berapa kali naik mobil lumayan lancar lima jam,” katanya.

Sementara itu, Novie membandingkan dengan tahun lalu di mana frekuensi penerbangan tidak pernah turun.

“Kalau tahun lalu itu enggak pernah turun, tetapi naik terus. Sekarang itu ada penurunan sekitar 15 persen,” katanya.

Penurunan penumpang juga dirasakan oleh PT Angkasa Pura I di mana pihaknya kehilangan 3,5 juta penumpang pada Triwulan I 2019.

“Yang jelas tiga bulan pertama itu Triwulan I, angka penumpang yang kita laporkan sekitar 3,5 juta drop-nya dari 2018,” kata Direktur Pelayanan dan Pemasaran Angkasa Pura I Devi W Suradji.

Devi mengatakan penyebabnya bukan hanya harga tiket yang mahal, melainkan juga adanya tol, dan banyaknya bencana yang mempengaruhi pola pergerakan penumpang.

“Harga tiket itu juga mempengaruhi karena salah satu yang paling besar berpindah dari satu tempat ke tempat lain itu traveling, bukan orang bisnis, tapi keluarga yang jalan,” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Soal Islam Nusantara

Pendidikan Untuk Merdeka

Pada saat pemimpin Jepang sudah memvisikan sebuah masyarakat baru Society 5.0, apakah kita saat ini, sebagai bangsa, sebagai ummat, berada pada jalur yang benar menuju puncak kejayaan menjadi bangsa yang berdaulat, adil dan makmur, serta cerdas?

Gus Ipul Mentransformasi Kota Pasuruan Menuju Smart City

Pemerintah cerdas adalah pemerintah yang mampu menggunakan teknologi untuk melayani masyarakat secara lebih cepat, lebih murah sekaligus lebih terukur. Dinamika perkembangan teknologi juga berpengaruh terhadap kebutuhan dan harapan masyarakat terhadap pelayanan.

E-Sambat, Cara Gus Ipul Manfaatkan Teknologi Digital untuk Layani Warga Kota Pasuruan

Program Smart City atau Kota Cerdas membuat kerja pemerintah menjadi lebih efisien, termasuk dengan cepat dapat merespon berbagai keluhan masyarakat. Seperti yang dilakukan Pemerintah Kota Pasuruan dengan aplikasi e-Sambat.

Smart City di Surabaya Bukan Sekadar Urusan Aplikasi

Ada enam faktor pendukung terciptanya smart city di Kota Surabaya, Jawa Timur. Program ini bukan sekadar urusan aplikasi, namun juga untuk memberdayakan UMKM.

Terinspirasi Jack Ma, Khofifah Dorong UMKM Masuk ke Dunia Digital

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sejak awal berupaya agar usaha mikro kecil menengah diberikan peluang melalui digitalisasi sistem. Ia terinspirasi Jack Ma, pemilik Alibaba Group, perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok.

Ketum AMSI: Kebutuhan Publik Zaman Now Bukan Hanya Hard News

Media massa digital atau dalam jaringan sudah harus mulai meninggalkan pola pikir konservatif dan konvensional. Masyarakat tak hanya butuh berita keras (hard news), tapi juga informasi keseharian.

Target Pemerintah: 6,1 Juta UMKM On Boarding Setiap Tahun

Usaha mikro kecil menengah di daerah membutuhkan teknologi digital untuk berkembang di era pandemi.

TERPOPULER