Pelatih Iran Geram dengan Teknologi VAR

RUSIA, SERUJI.CO.ID – Pelatih Iran Carlos Queiroz bereaksi dengan amarah setelah hasil imbang 1-1 lawan Portugal pada Senin (25/6) waktu setempat yang berakibat timnya tersingkir dari Piala Dunia. Queiroz mengatakan mereka pantas untuk menang.

Penyerang Portugal Cristiano Ronaldo, menurut dia, seharusnya diusir karena menggunakan sikut saat melakukan pelanggaran terhadap Morteza Pouraliganji, dan Iran seharusnya mendapatkan setidaknya satu penalti lagi.

Queiroz juga secara implisit mengkritik wasit dan memperbarui serangannya pada sistem VAR.

“Hanya satu pemenang yang bisa keluar dalam pertandingan ini dan seharusnya itu adalah Iran,” kata Queiroz kepada wartawan.


“Kami pantas menang. Saya pecundang yang buruk, saya bangga tetapi frustrasi,” ungkapnya.

Kemenangan atas Portugal dalam pertandingan Grup B terakhir mereka akan membuat Iran lolos ke babak sistem gugur. Tim underdog itu menjalani laga dengan berbesar hati dalam pertandingan yang dipenuhi drama.

Setelah serangan dan gol yang indah oleh Ricardo Quaresma membuat Portugal memimpin pada babak pertama. Iran pun membalas lewat penalti pada menit-menit akhir oleh Karim Ansarifard untuk memastikan hasil imbang. Tetapi dengan Spanyol dan Maroko bermain imbang 2-2 di pertandingan Grup B lainnya, maka hasil itu tidak cukup.

Queiroz sangat marah dengan insiden di menit ke-80 ketika Ronaldo menjatuhkan Pouraliganji ke tanah. Wasit berkonsultasi dengan VAR untuk melihat apakah insiden itu bisa diganjar kartu merah, lalu diputuskan untuk memberi kapten Portugal itu dengan kartu kuning saja.

“Sikut adalah kartu merah. Aturan tidak mengatakan apakan jika yang melakukan itu Ronaldo atau Messi. Ini adalah kartu merah. Keputusan harus jelas,” kata Queiroz.

Ditanya apakah dia berpikir bahwa perlakuan wasit kepada pemain bintang seperti Ronaldo akan lunak, ia berkata. “Anda harus bertanya pada mereka.” “Saya tidak dalam suasana hati yang baik, seperti yang Anda lihat. Setidaknya ada satu penalti lagi terhadap Portugal, setidaknya satu.

“Lima orang duduk di atas dan mereka tidak melihat penyikutan itu. Beri saya waktu istirahat.” Ditanya apa yang dia pikir tentang wasit, Queiroz berkata: “Saya memiliki pendapat yang jelas tetapi saya perlu mengukur kata-kata saya. Saya harus berhati-hati.” Queiroz, yang juga pernah melatih Portugal dan Afrika Selatan di Piala Dunia, sekali lagi menuangkan cemoohan pada sistem VAR, yang digunakan untuk memberikan penalti yang meragukan ke Portugal.

Seperti yang terjadi, kiper Iran Ali Beiranvand berhasil menyelamatkan gawangnya dari penalti Ronaldo.

“VAR tidak berjalan dengan baik. Ada banyak keluhan. Kita harus tahu siapa yang mengulang pertandingan, siapa yang membuat keputusan,” katanya.

“VAR tidak memberi ruang bagi kesalahan manusia. Sebelum kita menerima kesalahan manusia sebagai bagian dari permainan. Referensi di lapangan seperti Pilatus mencuci tangan mereka,” tambahnya.

Queiroz mengatakan dia akan berhenti dari jabatannya setelah enam tahun memimpin tim selepas turnamen ini, memberi penghormatan penuh kepada para pemain, staf dan fans Iran yang telah hadir di Rusia dalam jumlah besar.

“Kami telah belajar banyak di sini, kami telah mendapatkan rasa hormat dari orang-orang,” katanya.

“Para pemain Iran sangat berani. Saya mencoba untuk mendapatkan semangat petarung Portugis dari mereka. Bagaimana mereka masuk ke arena dan mendominasi lawan dengan keberanian,” ungkapnya. (Ant/Su02)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Bejat, Oknum Guru Meniduri Muridnya Ratusan Kali Bermodal Janji Menikahi

Aksi bejat yang berlangsung sejak tahun 2014 saat Lan masih berusia 14 tahun itu, dilakukan dengan jurus rayuan telah jatuh cinta pada Lan dan berjanji akan menikahi jika Lan telah berusia 18 tahun.

DPR Terima Surat KPK Soal Firli, Gerindra: Aneh Komisioner Lakukan Serangan di Detik-Detik Akhir

"Ini ada ketakutan yang luar biasa terhadap Firli. Penolakan luar biasa kepada Firli kan aneh nah ini lah intinya dalam fit and proper test ke depan kita akan pertanyakan hal-hal yang seperti itu," ungkap Desmond.

Akhirnya, KPAI Cabut Surat Permintaan Penghentian Audisi Bulu Tangkis Djarum

Kesepakatan itu diambil usai pertemuan antara KPAI dengan PB Djarum yang dipimpin oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi hari ini di Kantor Kemenpora, Jakarta, hari ini, Kamis (12/9).

Habibie Berpulang dengan Didampingi Anak-Cucu dan Keluarga Dekat

Presiden ke-3 RI Burhanuddin Jusuf Habibie saat wafat di Rumah Sakit Pusat TNI Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (11/9), ditemani oleh keluarga dekat termasuk kedua anak dan cucu-cucunya.

Innalillahi, Presiden ke-3 RI BJ Habibie Wafat Pada Pukul 18.05 WIB

Habibie wafat pada usia 83 tahun di Paviliun Kartika RSPAD Gatot Subroto Jakarta Rabu pukul 18.05 WIB, menurut Putra Habibie, Thareq Kemal Habibie.

Perluasan Ganjil-Genap Hari Pertama: Pemprov DKI Klaim Polusi Udara Turun

"Semalam Airvisual telah merilis hasil pengukuran mereka, di mana Jakarta yang sebelumnya ada di peringkat satu atau dua kota terpolusi di dunia, semalam saya lihat di rilisnya sudah turun jadi peringkat ke 9," ujar Syafrin

Tidak Terbukti Ada Penggelembungan Suara Pileg 2019, MK Tolak Permohonan PKS

Dalam pertimbangan hukum yang dibacakan oleh Hakim Konstitusi Wahiduddin Adams, Mahkamah menyatakan dalil pemohon terkait tuduhan pengurangan suara bagi PKS dan penambahan suara bagi Partai Bulan Bintang (PBB) tidak benar.

Dewan Pers Ingatkan Media untuk Terus Kawal Janji Politik Yang Dilontarkan Pada Pemilu 2019

Menjelang Pemilu 2019 media sibuk membahas tentang persoalan pemilu, namun setelah pemilu media seakan-akan diam.

Nilai Tidak Etis Parpol Pengusung Prabowo Gabung Pemerintah, Begini Kata Pakar Hukum Tata Negara

Saat Pilpres 2019 saling rebut kekuasaan, lantas saat kalah bergabung ke yang menang. Tidak Etis. Kata pakar HKTN ini.

Terbukti Langgar Kode Etik Saat Pemilu 2019, DKPP Copot Ketua KPU Sumut

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Utara (Sumut), Yulhasni diberi peringatan keras dan dicopot dari jabatannya oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama

Jin Tidak Takut dengan Bacaan Ayat Kursi

Bejat, Oknum Guru Meniduri Muridnya Ratusan Kali Bermodal Janji Menikahi

Aksi bejat yang berlangsung sejak tahun 2014 saat Lan masih berusia 14 tahun itu, dilakukan dengan jurus rayuan telah jatuh cinta pada Lan dan berjanji akan menikahi jika Lan telah berusia 18 tahun.