close

Menggugat Kepedulian Mahasiswa Atas Nasib Bangsa

Oleh Prof Dr. H.Hasim Purba, SH.MHum, Guru Besar FH USU/Dekan Fakultas Hukum Universitas Harapan Medan.

SERUJI.CO.ID – Sejak Indonesia merdeka tahun 1945, bangsa Indonesia tidak pernah terbebas dari berbagai persoalan kebangsaan, baik yang menyangkut internal maupun eksternal. Di awal kemerdekaan, yang menjadi persoalan mendasar adalah bagaimana dapat mempertahankan kemerdekaan 17 Agustus 1945 dari rongrongan bangsa penjajah.

Dalam perjalanan berikutnya bangsa ini juga tidak mengalami jalan mulus dalam menata kehidupannya yang telah diraih dengan tebusan tumpahan darah, nyawa para suhada pejuang bangsa dari rongrongan agresor penjajah yang ingin mengembalikan cengkraman kuku jajahannya dibumi persada nusantara. Berbagai rongrongan dan gejolak yang berasal dari internal bangsa terus berkecamuk, berbagai rongrongan yang ingin mengganti idiologi Pancasila dan Keutuhan Bangsa terus bergulir dari berbagai kelompok dan kekuatan yang ingin membelokkan tujuan Bangsa dan Negara ini didirikan.

Beberapa peristiwa kelam catatan sejarah yang mewarnai perjalanan bangsa Indonesia sejak kemerdekaan 17 Agustus 1945 telah menorehkan tinta emas perjuangan dan pengabdian Mahasiswa dan Pemuda lainnya dalam menyelamatkan kemerdekaan dan membangun kembali bangsa ini menuju kemajuan, kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan sebagai amanat konstitusi dan perjuangan para syuhada pendiri bangsa. Bahkan para Mahasiswa Indonesia juga mempunyai andil yang sangat besar dalam merebut kemerdekaan dari tangan bangsa penjajah.

Berbagai pemberontakan yang terjadi setelah Indonesia Merdeka, seperti Pemberontakan PKI Madiun tahun 1948, Pemberontakan PRRI dan Permesta, Pemberontakan RMS 25 April 1950, Pemberontakan OPM di Papua sejak tahun 1965 sampai saat ini, termasuk Pemberontakan G.30 S/PKI tahun 1965, mahasiswa yang tergabung dalam berbagai oranisasi kemahasiswaan mempunyai peran yang besar dalam mengatasi pemberontakan itu, sehingga Idiologi Pancasila dan Negara Kesatuan dan Bangsa Indonesia tetap eksis dan utuh.


Dalam kiprahnya, Mahasiswa Indonesia juga tetap mempunyai andil untuk mengawal perjalanan bangsa ini sehingga terselamatkan dari berbagai bentuk penyelewengan oleh Rezim-rezim yang penah berkuasa mulai dari Rezim Orde Lama, Orde Baru. Bahkan dalam melahirkan Gerakan Reformasi yang mengakhiri kekuasaan Rezim Orde Baru tahu 1998, Mahasiswa yang tergabung dalam berbagai organisasi kemahasiswaan internal dan eksternal kampus telah mencatat tinta emas dalam perjalanan kehidupan bangsa ini.

Namun saat ini timbul pertanyaan, kemanakah dan dimanakah Mahasiswa Indonesia saat ini. Di tengah hiruk pikuk dan gonjang-ganjing pengelolaan kehidupan berbangsa dan bernegara yang berimbas kepada terseok-seoknya kehidupan Rakyat, serta adanya berbagai konflik sosial, konflik politik, konflik ekonomi dan disintegrasi Bangsa yang jelas-jelas potensial mengancam kehidupan Bangsa Indonesia, ternyata para Mahasiswa Indonesia bersikap abai, not care alias tak punya rasa tanggung jawab sosial (social responsibility).

Kondisi ini sungguh sangat mengecewakan dan sekaligus mengkhawatirkan, dimana para mahasiswa adalah generasi penerus bangsa ternyata tidak punya kepedulian dan rasa tanggung jawab terhadap berbagai persoalan yang dihadapi bangsa dan rakyat Indonesia.

Apa Tugas dan Tanggung Jawab Mahasiswa

reformasi 1998
Mahasiswa menduduki Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, saat reformasi 1998.

Sebagai seorang yang sedang menuntut ilmu, maka mahasiwa mempunya tugas pokok untuk belajar dan mendalami ilmu yang digelutinya sesua aturan proses belajar yang diterapkan di kampus/universitas. Tentunya secara ideal mahasiswa berharap dapat menyelesaikan studinya tepat waktu dengan prestasi nilai akademik yang terbaik serta segera mendapatkan pekerjaan yang diinginkan untuk menjadi jalan hidup.

Namun, pertanyaannya adalah apakah seorang mahasiswa dalam proses menempuh studi di perguruan tinggi hanya target lulus studi akademik dan mendapatkan pekerjaan.

Tentunya bagi sebagian besar dan bahkan bagi Mahasiswa Indonesia sejak dahulu dalam proses studi yang diikuti di perguruan tinggi tidak hanya menimba ilmu formal di bangku/ruang kelas kuliah. Akan tetapi mahasiswa akan menggali ilmu dan pengalaman di luar bangku kuliah melalui berbagai aktivitas kemahasiswaan.

Berbagai aktivitas yang dapat diperoleh melalui interaksi dengan berbagai organisasi kemahsiswaan baik yang bersifat organisasi internal kampus seperti BEM, Gubernur Mahasiswa, Dewan Mahasiswa, Menwa, Pramuka, Unit Kegiatan Mahasiswa, dll, sesuai dengan pengaturan kampus masing-masing. Juga lewat organsasi kemahasiswaan ekstra kampus, seperti HMI, GMKI,PMII,PMKRI,GMNI, IMM, KAMMI dan berbagai Ormawa Eksternal lainnya .

Keterlibatan para mahasiswa dalam berbagai Ormawa tersebut baik yang bersifat Internal Kampus maupun Eksternal Kampus tentunya diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi seorang mahasiswa. Karena, di dalam mengikuti aktivitas di masing-masing Ormawa umumnya mendapat pembinaan, pengkaderan yang dapat memperkaya pengetahuan dan meningkatkan ketrampilan para mahasiswa.

Aktivitas yang ditawarkan berbagai Ormawa tersebut pada umumnya tidak hanya berupa peningkatan pengetahuan, tapi juga bagaimana membina dan membentuk integritas personal dan komunitas yang menjadi idiologis dan mission yang ditanamkan.

Selain itu Ormawa juga akan menumbuhkan kepada para mahasiswa yang menjadi anggota/kadernya rasa kritis, kepekaan terhadap setiap tindakan ketidakadilan, tindakan kesewenang-wenangan, terhadap penindasan, terhadap kezhaliman, dan berbagai perilaku yang bertentangan dengan logika serta akal sehat. Sehingga, terbentuk mahasiswa yang terpatri dalam dirinya nilai-nilai integritas, idelisme, kepekaan sosial, keberanian membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan. Nilai-nilai yang kelak akan menjadi modal dasar baginya dalam terjun ke masyarakat dan bila kelak mendapat amanah untuk memimpin bangsa dan negara ini.

Dengan melalui keaktifan di Ormawa juga tentunya akan membangun jaringan (net working) yang luas bagi sang mahasiswa kelak setelah menjadi alumni suatu perguruan tinggi.

Bagaimana Kiprah dan Kepedulian Mahasiswa Saat Ini

Demo Tolak UU MD3
Aksi ratusan Mahasiswa yang tergabung Jaringan Mahasiswa Pejuang (JMP) yang menolak revisi UU MD3, di kantor DPRD Surabaya, Senin (26/2/2018). (foto:Devan/SERUJI)

Pascagerakan Reformasi tahun 1998, terlihat dan faktual gerakan mahasiswa Indonesia dan kepedulian mahasiswa terhadap berbagai permasalahan nyaris tak terdengan lagi. Baik berupa permasalahan sosial, permasalahan kehidupan rakyat kecil, hingga permasalahan politik. Spirit dan peran sejarah yang ditampilkan para aktivis-aktivis mahasiswa pada saat Reformasi dan sebelumnya ternyata tidak terwariskan kepada mahasiswa saat ini.

Berbagai peristiwa nasional, internasional, maupun isu-isu sosial kedaerahan saat ini yang semuanya harusnya wajib mendapat respon dari Mahasiswa Indonesia baik secara personal maupun secara secara institusiona ternyata berlalu begitu saja. Boleh dikatakan Mahasiswa Indonesia telah alpa dari peran dan kewajibannya sebagai mahasiswa untuk merespon berbagai persoalan yang menghimpit rakyat dan bangsa Indonesia saat ini.

Publik saat ini bertanya-tanya, apakah Mahasiswa Indonesia dan juga Organisasi Mahasiswa terutama yang bersifat eksternal kampus seperti HMI, GMKI, GMNI,PMKRI, PMII, IMM, KAMMI dan berbagai Ormawa lainnya masih ada? Kalau ada dimana mereka saat ini? Kalau masih ada apa yang mereka lakukan saat ini?

Apakah mereka masih punya soscial responsibility terhadap berbagai persoalan kehidupan rakyat, permasalahan bangsa yang semakin terpuruk dan mengancam eksistensinya. Atau apakah mereka tidak faham alias gagal faham tentang persoalan yang ada saat ini.

Ataukah mereka telah berobah jati dirinya dari jati diri Mahasiswa Indonesia yang dari masa ke masa tetap eksis menunjukkan rasa tanggung jawabnya terhadap bangsa Indonesia menjadi mahasiswa yang abai terhadap persoalan rakyat/masyarakat sebagai ibu kandungnya. Abai terhadap eksistensi bangsa yang kelak akan diwarisinya.

Ataukah mereka masih tetap tertidur pulas dengan hiasan mimpi siang bolong yang kosong melompong. Atau mereka sudah berpuas diri dengan kehidupan hedonisme yang menawarkan kesenangan sesaat.

Mudah-mudahan mereka segera terbangun dari tidur panjang dan bangkit menyelamatkan bangsa dan negara ini.

Penutup

Seluruh eleman masyarakat sangat menantikan kemunculan kembali peran dan kepekaan mahasiwa Indonesia untuk merespon berbagai problematika yang membelit kehidupan bangsa ini.

Diakui atau tidak, kita melihat dan mengamati ternyata hampir seluruh aspek kehidupan bangsa ini mengalami permasalahan, baik bidang ekonomi, hukum, sosial budaya, keamanan, bahkan masalah politik dan kepemimpinan yang juga dianggap sebagai biang kerok permasalahan yang ada.

Mudah-mudahan mahasiswa Indonesia kembali bangkit dari tidur panjangnya untuk segera merespon dan memperjuangan berbagai persoalan yang mendera kehidupan Rakyat, Bangsa dan Negara.

BACA JUGA

Loading...

Kolom dr. Irsyal, Sp PD

Puasa: Detoksifikasi Dalam Kehidupan Bergelimang Racun

Penelitian juga menunjukkan bahwa pada saat puasa kadar DDT didapatkan meningkat dalam feses, urin dan keringat mereka yang sedang berpuasa. Ini lah salah satu manfaat utama puasa dalam bidang kesehatan, detoksifikasi, purifikasi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Loading...

Media di Tengah Masyarakat Yang Terjangkit Post Truth

Bagi media, Post Truth itu sesungguhnya sangat menguntungkan. Karena di tengah masyarakat yang terjangkiti Post Truth mereka tidak sedang mencari kebenaran, tapi kesukaan.

Diskursus Jernih DAS Citarum

Melalui seminar ini, BPK ingin berperan memperbaiki sungai sepanjang 300 kilometer yang didapuk oleh Bank Dunia sebagai sungai terkotor di dunia tersebut.

Renungan Hari Tenang: Dari Indonesia Pusaka Hingga Tuhan Survei

Dan memang itulah tujuan tertinggi dari ritual pemilu. Kompetisi, adu gagasan, demonstrasi kepentingan, itu semua semacam gerak senam dan angkat beban dalam gymnasium.

Kembali Dalami Kasus Bank Century, KPK Minta Keterangan Muliaman D Hadad

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta keterangan terhadap mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) dan mantan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad dalam penyelidikan kasus Bank Century.

Pedagang Korban Kelompok Perusuh Saat Aksi Damai 22 Mei Bertemu Presiden Jokowi

Pedagang di Jalan KH Wahid Hasyim yang menjadi korban kerusuhan oleh sekelompok massa perusuh saat aksi damai pada 22 Mei 2019, Usma (64), bertemu Presiden Jokowi di Istana Merdeka Jakarta, Senin (27/5).

Nilai Tukar Rupiah Menguat Tipis, Seiring Tumbuhnya Kembali Kepercayaan Investor

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal pekan ini bergerak menguat seiring berkurangnya kekhawatiran investor pascademo yang sempat ricuh pada pertengahan pekan lalu.

Bawaslu Gelar Sidang Pendahuluan Dugaan Pelanggaran Pemilu 2019

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI menggelar sidang pendahuluan kasus dugaan pelanggaran pemilu 2019 di Jakarta, Senin (27/5) pagi.

Pasca Kericuhan 22 Mei, Polda Bali Laksanakan Razia Stasioner

DENPASAR, SERUJI.CO.ID - Jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Bali melaksanakan...

Tiga Buruh Bangunan Jatuh ke Sungai, Satu Ditemukan Tewas

SUKABUMI, SERUJI.CO.ID - Tiga buruh bangunan yang sedang memasang...

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama

Jin Tidak Takut dengan Bacaan Ayat Kursi

Viral: Video Prajurit TNI AD Cegah Polisi Keroyok Peserta Aksi 22 Mei

Diduga video tersebut terkait dengan peristiwa unjuk rasa 22 Mei yang berlangsung di Jakarta, namun tidak diketahui dimana lokasi video tersebut diambil.

Yuk, Kenali Jenis Busana Tunik