Ustadz Firanda: Radikalisme dan Terorisme Itu Salah Kaprah Memahami Agama

66
Ustadz Firanda Andirja

MATARAM – Munculnya faham radikalisme dan terorisme di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia disebabkan oleh salah kaprah oknum terentu dalam memahami ajaran agama. Demikian disampaikan oleh Ustadz Firanda Andirja di hadapan ribuan jamaah pengajian yang hadir di Masjid Aisyah, Lawata, Mataram Nusa Tenggara Barat, Ahad (16/7).

Menurut ulama jebolan Universitas Islam Madinah itu, radikalisme dan terorisme adalah buah dari kerancauan berfikir. Radikalisme dan terorisme tidak ada kaitannya sama sekali dengan Islam.

“Islam tidak pernah mengajarkan demikian. Bahkan Islam melarang kita untuk bersikaf ghuluw (ekstrim) dalam memahami dan mengamalkan agama,” paparnya.

Sikaf ghuluw tidak mencerminkan akhlaq Islam. Itu sebabnya, kata beliau kita tidak boleh terlalu mudah mengeluarkan vonis kafir kepada orang lain hanya gara-gara tidak sesuai dengan apa yang kita fahami.

“Sebagian orang ada yang terlalu mudah memberi vonis kafir kepada saudaranya atau pemerintah hanya gara-gara tidak berhukum dengan hukum Allah. Ini tidak benar,” katanya.

Misalnya, Ia mencontohkan, ada sebagian umat Islam berjuang di Parlemen. Mereka berhukum dengan hukum positif, tidak dengan hukum agama. Tetapi sang legislator tersebut berusaha mendekatkan hukum positif dengan hukum Islam.

“Mereka tidak serta merta dihukumi kafir karena tidak berhukum dengan hukum Allah. Bahkan, bisa jadi mereka mendapatkan pahala jika mereka berusaha mendekatkan hukum positif dengan hukum Islam,” tegasnya.

Muballigh yang juga penceramah tetap Masjid Nabawi Madinah itu menjelaskan, tidak semua hukum positif di Indonesia bertentangan dengan hukum Islam. Sebagian besar malah sesuai dengan nilai-nilai Islam.

“Kalau ada pencuri, kemudian tertangkap dan diserahkan kepada petugas kepolisian, lalu dipenjara. Apakah polisi tersebut dihukumi kafir? Tentu tidak. Meskipun hukuman pencuri dalam hukum pidana Islam adalah potong tangan,” imbuhnya.

Ia juga menyinggung aksi demonstrasi jutaan umat Islam yang menuntut penjara mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, atas kasus penistaan agama.

“Dalam Islam, penista agama dihukum bunuh. Tapi jutaan umat Islam justru berdemo menuntut Ahok dipenjara. Apakah jutaan umat Islam yang menuntut penjara Ahok itu jadi kafir? Tentu tidak,” tambahnya.

Ia pun meminta semua pihak untuk tidak gampang mengobral vonis kafir, apalagi kepada pemerintah. Karena konsekuensi dari vonis tersebut sangat berbahaya. “Jadi berhati-hatilah dengan faham takfiri ini,” tutupnya. (Syamsul/Hrn)

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama