Pembahasan Ilmiah dalam Dunia Islam, Oleh KH Luthfi Bashori

0

Surabaya, Seruji.com– Yang dinamakan pembahasan ilmiah adalah suatu pembicaraan, baik secara lisan maupun tulisan yang terkait dengan suatu disiplin ilmu. Pembahasan ilmiah ini telah dilakukan oleh banyak kalangan sejak jaman dahulu kala.

Dalam tulisan kali ini akan dibatasi tentang pembahasan ilmiah di kalangan umat Islam

Para ulama salaf telah banyak menulis karya ilmiah berupa hasil ijtihad dan pemikiran mereka, yang bersandar kepada dua sumber hukum utama bagi umat Islam, yaitu Alquran dan Hadits.

Dari kedua sumber hukum inilah dikembangkan menjadi berbagai macam disiplin ilmu agama, seperti ilmu aqidah Tauhid, ilmu tentang kondisi akhir zaman, tafsir Alquran, ulumul Quran, silsilah sanad, tajwid, qira’ah sab’iyah dalam Alquran, musthalahul Hadits, sanad Hadits, ilmu fiqih ibadah, fiqih muamalat, hukum Jinayat, ilmu Faraid, sastra bahasa, nahwu-sharaf atau grametikal Arab, ilmu akhlaq atau Tashawwuf, pemikiran Islam, sejarah Islam, ilmu kedokteran, dan masih banyak lagi ilmu-ilmu lainnya yang dijadikan pembahasan ilmiah di kalangan para ulama dari masa ke masa.

Khazanah ilmu milik umat Islam ini sangatlah luas, apalagi jika akan terus menerus dikembangkan, bahkan jumlahnya pun bisa tak terhingga.

Bagaimana tidak, karena sebagaimana yang telah digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya:

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

Katakanlah (wahai Muhammad), “Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Rabbku habis (ditulis), meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu pula. (QS. al-Kahfi, ayat 109)

Tentunya, jika sekira ada pihak yang akan terus menerus membahas secara ilmiah tentang semua isi kandungan dari ayat-ayat Alquran, lantas hasil pembahasannya itu ditulis dengan tinta dari air lautan, maka air lautan itu akan habis mengering, sebelum pembahasan tentang isi kandungan ayat-ayat Alquran tersebut akan berakhir.

Karena itu, khazanah ilmu yang dimiliki oleh umat Islam sangatlah luas, sebagaimana realita di lapangan, betapa banyaknya kitab-kitab hasil karya pemikiran para ulama dari dulu hingga kini dan tentunya ini akan terus berkembang.

Di antara kitab-kitab karya para ulama itu sudah banyak yang diterbitkan, baik itu yang berbahasa Arab maupun non Arab, sebagaimana yang banyak dijual di toko-toko kitab atau perpustakaan Islam, namun di antara karya ilmiah milik para ulama itu banyak pula yang masih berupa makhthuthat (catatan pribadi).

Pembahasan ilmiah di antara para ulama pada setiap generasi itu, ada yang berupa fatwa-fatwa tak tertulis, atau kesepakatan-kesepakatan terkait dengan sikap keagamaan, sehingga menjadi sebuah hukum yang berlaku di tengah masyarakat.

Tentu hasil pembahasan ilmiah dengan model yang seperti ini sering kali sulit jika dicari data tertulisnya, terutama bagi umat Islam yang hidup pada masa yang sesudahnya.

Namun di tengah masyarakat, seringkali efek fatwa dan kesepakatan para ulama di masa lampau itupun masih cukup terasa bahkan tetap berlaku di kalangan masyarakat Islam dari abad ke abad, khususnya yang terkait dengan adab sopan santun dan akhlaq pergaulan.

Sedangkan pembahasan yang berupa karya tulis dan telah dibukukan secara rapi, serta beredar di kalangan umat Islam, maka metode inilah yang dapat dibuktikan serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, bahkan dapat dijadikan tolok ukur bagi perkembangan serta kemajuan pemikiran umat Islam.

Untuk itu, budaya karya tulis di kalangan umat Islam tidak boleh pudar, apalagi sampai mati.

Setiap umat Islam yang hidup di di eranya, maka sudah semestinya ada yang ikut berjuang mempertahankan budaya karya tulis ilmiah, sekira kelak hasil karyanya itu dapat dibaca, dinikmati dan dicontoh serta diambil manfaatnya oleh para generasi penerusnya.

Selagi budaya karya tulis ilmiah keislaman ini masih dipertahankan di kalangan umat Islam, maka ajaran Islampun akan tetap hidup dan lestari di tengah masyarakat, namun jika karya ilmiah keislaman itu sudah pudar apalagi punah, maka dari situlah kehancuran umat Islam akan dimulai.

Sebagaimana diriwayatkan, bahwa di akhir zaman nanti Allah akan mencabut ilmu agama dari muka bumi ini dengan cara mencabut nyawa para ulamanya.

Sehingga tatkala di muka bumi sudah tidak ada lagi para ulamanya, tidak ada lagi yang ahli agama untuk berfatwa, tidak adalah ahli agama yang mampu menulis, tidak ada lagi ahli agama yang dapat membaca dan menyampaikan hasil karya para ulama terdahulu,  sedangkan yang tersisa hanyalah orang-orang awwam yang tidak mengerti ilmu agama, maka merekapun akan mengangkat orang yang bodoh tentang agama sebagai pemimpin dan panutan.

Lantas si pemimpin dan panutan yang bodoh agama inipun akan ditanya oleh masyarakatnya tentang hukum-hukum syariat, dan iapun berani menjawabnya sekalipun tanpa didasari ilmu yang memadai.

Maka si bodoh agama inipun akan tersesat, bahkan akan menyesatkan banyak pihak.

Jika kondisi zaman yang semacam itu sudah terjadi dimana-mana, hakikatnya hari Qiamat pun sudah sangat dekat. (lb)

BAGIKAN
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

Terbaru

Sri Mulyani

Menkeu: Jangan-jangan Anggaran Tak Dinikmati Masyarakat

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Angka kemiskinan tercatat masih di angka 10,9 persen. Padahal, pemerintah telah menggelontorkan dana cukup besar untuk menanggulangi kemiskinan. Menteri Keuangan Sri...

3 Putra Mahkota Menunggu Nasib, Dibalik Isu Dahlan Jual Sahamnya di Jawa Pos

SERUJI.CO.ID - Maraknya kabar Dahlan Iskan menjual sahamnya di Jawa Pos kepada taipan property, Ciputra, tak lepas dari “perang strategi” menentukan siapa “putra mahkota” berikutnya yang akan...

Wartawan Dalam Lingkaran Elite Kekuasaan

SERUJI.CO.ID - Peristiwa kecelakaan tunggal yang dialami oleh Ketua DPR Setya Novanto saat menumpang kendaraan Hilman Mattauch, seorang wartawan sebuah stasiun televisi, bisa menjadi salah...

Politisi Golkar Bantah Pelipis Novanto Benjol Sebesar Bakpao

TANJUNGPINANG, SERUJI.CO.ID - Wakil Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Mahyudin membantah bahwa Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto mengalami luka memar dan benjol sebesar bakpao...
Kursi DPR

“Tupai Berkuasa” Jatuh Juga

SERUJI.CO.ID - Para pelajar sekolah rakyat ataupun sekolah dasar pada puluhan lalu diajari sebuah peribahasa atau perumpamaan yang kalimat kurang lebih menyatakan "sehebat-hebatnya tupai...
Pembebasan sandera dan evakuasi warga dari kelompok separatis Papua

Aparat Kawal Ketat Proses Evakuasi Warga ke Timika

JAYAPURA, SERUJI.CO.ID - Sebanyak 344 warga yang dievakuasi dari perkampungan di Distrik Tembagapura, dikawal hingga tiba dengan selamat di Timika, Ibu Kota Kabupaten Mimika, Provinsi...