Persatuan Khilafiyah 212, Ulama Terdahulu Indonesia, dan Imam Mazhab

304
Foto aerial ribuan umat Islam melakukan zikir dan doa bersama saat Aksi Bela Islam III di kawasan Bundaran Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (2/12). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww/16.

Jutaan Umat Islam di Indonesia berbondong-bondong datang hadir memenuhi seruan ulama-ulamanya dalam Aksi Bela Islam Jilid 3 pada Jum’at, 2 Desember 2016 di Monas untuk menuntut keadilan atas tindakan penistaan Al-Qur’an dan penghinaan ulama oleh Ahok. Semua berkumpul seraya memanjatkan do’a dan Sholat Jum’at berjama’ah terbesar sepanjang sejarah bumi ini ada. Pujian diberikan negara-negara lain untuk Indonesia.

Satu hal yang unik dalam peristiwa bersejarah tersebut, umat Islam Indonesia yang hadir “dipaksa” mengesampingkan khilafiyahnya (perbedaannya) dalam teknis pelaksanaan Sholat Jum’at. Seperti kita ketahui, dua ormas Islam terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah berbeda dalam teknis adzan pada Sholat Jum’at.

Dalam Sholat Jum’at pada 212 tersebut, terjadi penggabungan khilafiyah yang selama ini ada. Adzan dilakukan dua kali yang merupakan ciri khas NU dan setelah sholat, Imam tidak mengkomando untuk membaca Al-Fatihah dan dzikir yang merupakan ciri khas Muhammadiyah, serta ditambah membacakan Qunut Nazilah yang syahdu dipimpin imam. Persatuan khilafiyah benar-benar nyata dan bisa.

Jauh sebelum 212, sebenarnya pernah terjadi persatuan khilafiyah tersebut sudah pernah dicontohkan dua ulama besar dua ormas Islam tersebut. Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta menjadi saksi sejarah tersebut antara Buya Hamka dan KH Abdullah Syafi’i. …NEXT 2

loading...

4 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama