Umat Islam Menguasai Media, Kenapa Penting?

0
75

Jakarta, Seruji.com– Sebagaimana tulisan sebelumnya Ghazwul Fikri dan Media, dijelaskan bahwa media merupakan sarana penting dan efektif untuk melancarkan Ghazwul Fikri oleh musuh-musuh Islam. Mereka faham benar bahwa untuk menghancurkan Islam dan umatnya di dunia internasional adalah dengan menguasai dan mendominasi media-media yang ada di dunia ini. Media-media menjadi perpanjangan rencana-rencana dan aksi-aksi busuk mereka saat ini.

Bila kita tinjau sejarah, pada tahun 1869 di kota Braga, Portugal, dalam sebuah khutbahnya seorang Rabi Yahudi, Rashoron, mengungkapkan tentang pentingnya media masa. Rashoron mengatakan, “Jika emas merupakan kekuatan pertama kita untuk mendominasi dunia, maka dunia jurnalistik merupakan kekuatan kedua bagi kita.”

Dalam tulisan ini tidak membahas masalah emas yang menjadi kekuatan pertama bagi kaum Yahudi. Juga tidak pula membahas mengapa Amerika Serikat begitu “ngotot” untuk tidak mau melepaskan tambang emas tersbesar duni, Freeport, di Papua. Apakah hal tersebut ada hubungannya dengan pernyataan Rashoron tersebut, silahkan pembaca menganalisanya sendiri. Tetapi penulis menarik untuk menulis tentang dunia jurnalistik menjadi kekuatan kedua bagi kaum Yahudi tersebut.

Pada konferensi Zionis pertama yang diadakan di Swiss pada tahun 1897 dan dipimpin oleh Theodor Herzl, adalah merupakan titik awal terpenting bagi kaum Yahudi. Di dalam konferensi tersebut, kaum Yahudi mendiskusikan dan menyimpulkan bahwa cita-cita untuk mendirikan negara Israel Raya tidak akan pernah terwujud tanpa pengubahan atas media-media yang ada. Untuk merealisasikannya, mereka membuat rencana-rencana di bidang Jurnalistik yang dituangkan dalam Rencana Kerja Pemimpin-pemimpin Zionis nomor 12, yaitu :

Pertama, menguasai dunia pers dan sekaligus mengendalikannya.

Kedua, tidak memberi kesempatan sedikit pun kepada medi-media non Yahudi yang membuat gagasan-gagasan anti Yahudi.

Ketiga, melakukan sensor yang sangat ketat sebelum berita-berita disiarkan oleh media-media.

Keempat, menerbitkan berbagai macam media untuk mendukung kelompok-kelompok masyarakat aristokrat, republikan, revolusioner, hingga kelompok anarki.

Kelima, mempengaruhi opini publik saat diperlukan dan sekaligus meredam gejolak yang timbul.

Keenam, memberikan dukungan kepada orang-orang yang jenius untuk mengendalikan media massa yang beroplah besar, khususnya pers anti Yahudi. Jika orang-orang jenius tersebut berkhianat atau sudah tidak sejalan lagi, maka skandal-skandal atau kasus-kasusnya akan dibongkar, sehingga menjadi pelajaran untuk yang lainnya.

Seperti kita ketahui bersama, saat ini hampir seluruh media di dunia ini dikuasai oleh non muslim. Sebut saja CNN, majalah Time, The New York Times, dan lainnya dikuasai oleh mereka.

Salah satu contoh pengaruh penguasaan media yang mencolok adalah tentang pemberitaan Palestina. Media-media tersebut di atas benar-benar tidak berimbang dalam menyajikan berita hingga analisis berita tentang perjuangan bangsa Palestina. Bangsa Palestina yang memperjuangkan haknya yang legal dan asasi sebagai bangsa yang dijajah dan dirampas oleh bangsa Israel digambarkan oleh media-media atau pers non Islam sebagai “teroris”. Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh para pejuang-pejuang HAMAS yang didukung penuh oleh rakyat Palestina diberitakan sebagai tindakan “terorisme”.

Sedangkan sebaliknya, bangsa Israel yang sesungguhnya jelas-jelas merampas dan menjajah bangsa Palestina diberitakan sebagai pemerintah yang legal dan teraniaya. Faktanya kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh bangsa Israel yaitu membunuh bangsa Palestina dan menghancurkan bangunan-bangunan rumah bangsa Palestina tidak disebut sebagai tindakan terorisme, bahkan diberitakan sebagai tindakan membela diri oleh media-media non Islam.

Bahkan Amerika Serikat telah memanfaatkan isu terorisme tersebut sebagai kesempatan atau momentum untuk memukul lawan-lawannya dari kalangan Islam. Hal tersebut dilakukan dengan alasan “memerangi terorisme”. Dengan alasan itu pula, Amerika dan sekutunya di berbagai negara merasa leluasa dan merasa “berada di jalan yang benar” saat membasmi gerakan-gerakan Islam yang menentangnya. Bahkan tanpa merasa bersalah menyebut orang-orang muslim yang menentang Amerika dengan sebutan “kelompok fundamentalis Islam” oleh media-media non Islam.

Berdasarkan paparan tersebut di atas, dapat kita ketahui bahwa media memiliki fungsi to influence (pengaruh), yaitu dapat memberikan efek pembentukan citra, baik individu, kelompok, maupun negara. Sebuah citra dapat terbentuk berdasarkan informasi yang diterima di tengah-tengah masyarakat, karena informasi dapat membentuk, mempertahankan serta mendefinisikan sebuah citra. Media mampu menjadi sarana yang sangat efektif dan efisien untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat, karena dapat menjangkau ruang dan waktu. Oleh karena itu, citra umat Islam yang sudah terlanjur dicap atau disebut sebagai teroris dunia, maka harus diubah dengan penguasaan media yang dilakukan oleh umat Islam.

Penguasaan media yang dilakukan oleh umat Islam akan memiliki pengaruh yang besar terhadap umat Islam itu sendiri. Masyarakat dunia akan lebih mengenal Islam melalui umat Islam itu sendiri. Media akan menjembatani kesalahfahaman yang sering terjadi terhadap Islam dan umat Islam. Hal ini karena ketidaksukaan masyarakat dunia terhadap Islam yang terjadi saat ini lebih disebabkan karena ketidaktahuan serta kesalahan informasi yang diberikan oleh media-media non Islam serta sebagai akibat dari dominasi media-media non Islam.

Media Islam atau media pro Islam akan menjadi media komunikasi yang efektif untuk menjelaskan dan memperlihatkan wajah Islam yang sesungguhnya yang jauh dari kata “teroris” dan “terorisme”. Begitu juga nasib umat Islam di dunia akan dapat disuarakan dan penderitaan-penderitaan yang dialami negara-negara muslim akibat kebijakan-kebijakan dunia yang sering tidak adil terhadap negara-negara muslim akan berkurang. Selain itu, dengan penguasaan media yang dilakukan oleh umat Islam, maka umat Islam dapat menyampaikan pesan-pesan dakwah kepada masyarakat dunia dengan bebas dan tanpa harus melalui sensor dari kaum non muslim.

Jadi, umat Islam bersatu menguasai media adalah sudah menjadi keharusan, sebagaimana musuh-musuh Islam bersatu juga menguasai media. Hal ini adalah untuk menghindari fitnah (bencana) kerusakan yang besar di muka bumi dan untuk memberikan perlawanan yang setimpal.

إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

“Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al Anfal : 73) (JS)

Reporter : Jarot Sumarjono

Editor   : Denni

BAGIKAN
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

Terbaru

gunung agung

BNPB: Jangan Sebarkan Hoax Letusan Gunung Agung

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Kepala Pusdatin dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho meminta masyarakat agar tidak menyebarkan berita palsu atau hoax...

Rekonstruksi Kasus Perkelahian ala “Gladiator” Hadirkan Empat Tersangka Anak

BOGOR, SERUJI.CO.ID - Satreskrim Polresta Bogor Kota, Polda Jawa Barat, melakukan rekonstruksi kasus perkelahian pelajar ala "gladiator" dengan menghadirkan empat dari lima tersangka anak...
Jendral Gatot dan Purnawirawan

Kapuspen TNI: Pernyataan Panglima Bukan Konsumsi Publik

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Wuryanto, menegaskan, pernyataan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo soal adanya institusi yang memesan...
pcc

IAI Bantah Penahanan Apoteker Terkait PCC

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI) membantah bahwa penahanan apoteker di Kendari, Sulawesi Tenggara, terkait dengan kasus peredaran penyalahgunaan tablet...
Jazuli Juwaini

Politisi PKS: Ulama dan Umat Islam Adalah Penjaga Pancasila dan NKRI

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR RI Jazuli Juwaini mengatakan bahwa ulama dan umat Islam selama ini telah berperan penting...

Risma Target 700 Tanah Pemkot Tersertifikasi Tahun Ini

SURABAYA, SERUJI.CO.ID - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menarget sertifikasi 700 tanah milik Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tahun 2017. Dari jumlah itu, 230 sertifikat...