Shah Porir Dwip, Tanah Harapan bagi Setengah Juta Jiwa Rohingya

0
81
Pengungsi Rohingya
Muslim Rohingya yang mengungsi menuju perbatasan Bangladesh, 1/9/2017. (foto:AFP)

SERUJI.CO.ID – Pernahkah terbayang adegan ini? Pada suatu malam buta, rumah gubuk yang kita tempati bersama orang tua dan adik-adik kita tiba-tiba digedor dengan keras. Sang ayah, dengan raut wajah yang belum sepenuhnya sadar, membukakan pintu. Ekspresi cemas mulai tergambar di wajah gelapnya.

Dan di luar, kita saksikan beberapa serdadu menghunus senjata. Suara-suara kasar mereka memaksa semua penghuni untuk keluar rumah. Semua gemetar.

Tangan ayah mencoba menepis tangan serdadu yang berusaha menjamah badan Ibu. Pembelaan tanpa daya itu ternyata berakibat fatal. Senjata api di tangan serdadu itu langsung menyalak. Letupan merobek dada ayah yang langsung terkapar.

Tangis pun meledak. Hanya dalam hitungan menit, perintah keluar rumah itu berlanjut dengan pembakaran. Gubug sederhana, satu-satunya tempat kita berlindung, sholat berjamaah diimami ayah, seketika berkobar dimakan api yang dinyalakan sang durjana.

Ini bukan cerita fiksi. Episode di atas benar-benar nyata. Hanya dalam waktu kurang dari lima pekan, sejak konflik meletup lagi pada 25 Agustus 2017, setengah juga pengungsi baru Rohingya dipaksa pergi dari tanah kelahiran mereka di Maungdaw. Juga dari beberapa kampong lain di Rakhine State, Myanmar. Rumah-rumah habis dibakar tak bersisa.

Dalam malam gelap itu, ibu-ibu, anak-anak, dan balita, mungkin jumlahnya lebih dari seribu jiwa, diusir dari kampungnya tanpa alasan yang jelas. Mereka tidak boleh lagi menginjak tanah kelahirannya.

Serdadu-serdau beringas itu tidak peduli meski ada bayi merah yang baru lahir sehari sebelum pembakaran rumah dan kampong. Sang ibu terpaksa membawa pergi bayi yang belum sempat diberi nama oleh almarhum suami yang telah menjadi martirnya. Yang penting segera keluar kampong, menyelamatkan jiwa.

Di mana tempat yang aman? Tak ada jalan lain kecuali menyeberangi perbatasan Bangladesh. Antara Maungdaw dan negeri Bangladesh hanya dibatasi aliran sungai Naf yang lebar dengan arus yang cukup deras. Pilihannya hanya tenggelam menyeberangi sungai atau menggunakan perahu kayu yang rapuh untuk melintasi batas nan lebar, sungai yang dikenal dengan sebutan sungai Naf.

Sampai di seberang, di Shah Porir Dwip, mereka ditunggu sebuah status baru yang sungguh tidak enak didengar: pengungsi peperangan.

Di mana arti kemanusiaan? Tim ACT menemukan seorang ibu menggendong bayinya yang belum lagi berumur 3 pekan. Bayi itu masih merah, bahkan belum diberi nama. Suaminya tidak diketahui nasibnya. Kemungkinan sudah diberondong peluru oleh serdadu Myanmar.

Ibu dan bayi merah ini telah menempuh perjalanan selama 7 hari. Tertatih dengan kakinya yang kotor, dilanjutkan menumpang sebuah perahu rapuh.

Shah Porir Dwip adalah titik perbatasan antara Bangladesh dengan Myanmar. Dari sisi geografis, wilayah ini berada di ujung selatan Bangladesh. Gerbang perbatasan ini pula yang menjadi area paling dekat dengan Maungdaw, kampong dari setengah juta lebih muslim Rohingya. (Nurur/SU02)

Tulisan terbaru Nurur Widodo (semua)

Komentar

BACA JUGA

Ratusan Bangunan Warisan Budaya, Belum Dapat Rekomendasi Cagar Budaya

 KULON PROGO, SERUJI.CO.ID - Sebanyak 300 bangunan warisan budaya yang tersebar di 12 kecamatan, di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, belum mendapat rekomendasi...

Gunakan Ijaazah Palsu, KPU Tak Loloskan Kandidat Petahana

SENTANI, SERUJI.CO.ID - Kandidat petahana dalam Pilkada Mimika yakni Eltinus Omaleng yang berpasangan dengan Johanes Rettob, dinyatakan tidak memenuhi syarat menjadi peserta pilkada serentak...

Dua Pemukiman Terbakar Akibat Karhutla, Polisi Tindak Tegas Pelaku

PONTIANAK, SERUJI.CO.ID - Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat, Irjen Pol Didi Haryono mengatakan telah memerintahkan seluruh jajaran untuk menangkap pelaku pembakaran lahan dan menindak...

Bawaslu: Kabupaten Badung Rawan Pelanggaran Pilkada Bali

DENPASAR, SERUJI.CO.ID - Badan Pengawas Pemilu Provinsi Bali menyatakan Kabupaten Badung menjadi daerah yang paling rawan terjadi pelanggaran Pilkada Bali 2018, dibandingan dengan delapan...

Cegah Kenakalan Remaja, Pemkot Berlakukan Jam Malam Pelajar

TERNATE, SERUJI.CO.ID - Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate, Maluku Utara (Malut) akan memberlakukan jam malam kepada pelajar di daerah ini, untuk mencegah mereka melakukan tindakan...
loading...
Ilustrasi

Sudah Tepatkah Berlomba-lomba Membuka Minimarket Ummat?

Gegap gempita ummat berjamaah mendirikan Koperasi dengan usaha minimarket perlu diapresiasi. Pasalnya telah tumbuh kesadaran bagaimana menumbuhkan ekonomi ummat supaya lebih berdaya di negeri...
IMG20180217143208

Mengenal Istana Kuning di Kabupaten Kotawaringin Barat

Kotawaringin Barat - Terlintas dalam benak kita sebutan Istana Kuning maka warnanya akan kuning semua. Namun beda dengan Istana Kuning yang berada di tengah...
IMG_20180214_093436_928

Pilkada Calon Tunggal, Demokratiskah?

Pemilihan kepala daerah serentak sudah dalam hitungan bulan lagi.  Harapan akan pesta demokrasi dengan menggunakan hak pilihnya untuk menentukan calon pemimpin daerahnya.  Begitu juga...