Selain itu, terbukanya daerah terisolasi di daratan Kalimantan bagian timur dan Pulaulaut, serta tumbuh dan bekermbangnya usaha kecil mikro dan menengah UMKM.
Hal yang sama juga telah dilakukan pemerintahan Sayed Jafar-Burhanuddin, yakni Pulaulaut-Pulau Sebuku.
Sayed Jafar menyadari, tahap awal pembukaan pelayaran feri akan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan, karena pendapatan perusahaan belum mampu menutupi biaya operasional pengoperasian kapal feri.
“Seperti yang terjadi pada pelayaran di Pulaulaut-Pulau Sebuku yang pada tahap awal pihak perusahaan harus mensubsidi hingga Rp 42 juta per bulan, karena pendapatan dari tiket penumpang belum bisa untuk menutupi biaya operasional,” terangnya.
Namun subsidi tersebut semakin bulan semakin turun, dan kini berkurang hingga menjadi Rp 25 juta per bulan.
Ia berharap, pengoperasian kapal feri penyeberangan antara daratan Kalimantan dengan Pulaulaut Kotabaru nanti bisa dibiayai dari hasil pendapatan penjualan tiket penumpang. (Ant/SU03)
