YLKI: Masyarakat Jangan Terpengaruh Promosi Obat Tradisional

MEDAN, SERUJI.CO.ID – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Sumatera Utara meminta masyarakat agar tidak mudah terpengaruh dengan berbagai promosi obat tradisional yang banyak dipasarkan, karena dinilai belum tentu objektif.

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Abubakar Siddik di Medan, Senin (27/11), mengatakan promosi obat tersebut, dinilai sering berlebihan sehingga harus mendapat pengawasan dari Balai Besar Pengawasan Obat Makanan (BBPOM) Medan dan instansi terkait lainnya.

Sebab, menurut dia, banyak ditemui produsen obat tradisional yang mempromosikan produk mereka, dapat menyembuhkan segala jenis penyakit yang diderita masyarakat mau pun konsumen.

“Promosi produsen obat di sejumlah media massa itu juga dapat membingungkan masyarakat,” ujar Abubakar.

Ia mengatakan, selain itu promosi mengenai makanan dan suplemen yang berasal dari luar negeri, juga harus mendapat pengawasan ekstra ketat dari petugas BBPOM Medan.

Karena makanan dan obat-obatan tersebut beredar di berbagai daerah di Provinsi Sumatera Utara, dan diduga tidak memiliki izin edar, serta tanpa diketahui oleh BBPOM Medan.

“Sehubungan dengan itu, petugas BBPOM Medan dapat bekerja sama dengan Kepolisian melaksanakan razia makanan, dan suplemen kesehatan yang dianggap bermasalah, serta dapat merugikan masyarakat,” ucapnya.

Abubakar menyebutkan, pemerintah melalui BBPOM Medan harus bertanggung jawab mengenai peredaran obat herbal, makanan dan suplemen kesehatan yang dianggap bisa menimbulkan risiko bagi konsumen mengonsumsi produk tersebut.

Hal tersebut sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor Tahun 1988 tentang Perlindungan Konsumen. Perlindungan konsumen dan masyarakat harus tetap dijaga agar tidak menimbulkan masalah.

“Pemerintah diharapkan tetap melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap produsen obat tradisional,” kata Ketua YLKI Sumut itu. (Ant/SU02)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Demikian Mudah Dikenali Sebagai Hoaks, Info 7 Kontainer Surat Suara Masih Telan “Korban”

Yang membuat saya heran, kenapa para politisi, terutama yang menyebarkan info hoaks ini di akun media sosial (walau dalam bentuk tanya sekalipun) tidak mengenali bahwa info ini adalah hoaks?

Sambut Konferwil AMSI Jatim, Begini Pesan Kapolda Jawa Timur

"Saya terima kasih teman-teman dari AMSI, mudah-mudahan bisa mengawal suplai berita kepada masyarakat dalam koridor jurnalistik yang tetap menjaga objektifitas. Saya senang sekali bisa audiensi dan bersilaturahmi," kata Irjen Fadil di Mapolda Jatim

Hak Asuh Anak Dalam Perceraian

Retaknya perkawinan yang berujung perceraian sering kali mengakibatkan konflik perebutan hak asuh anak. Dalam artikel kali ini, Ruang Hukum akan menjelaskan tentang hak asuh anak sesuai perundangn yang berlaku dan prosesnya di Pengadilan jika terjadi perselisihan perebutan hak asuh anak. Selamat membaca.....

PR Mendikbud Nadiem: Jadikan Mapel Sejarah Penguat Pendidikan Karakter

Setelah sempat menjadi polemik panas, informasi yang yang menyebutkan mata pelajaran (mapel) Sejarah akan dihapus dari kurikulum sekolah sudah diklarifikasi langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim

Bahagia itu Tidak Bersyarat

Bahagia adalah kata yang tidak asing bagi kita semua. Bahagia merupakan impian semua orang yang hidup di dunia ini. Bahkan tidak hanya di dunia, di Akhirat pun kita mendambakannya. Setiap waktu kita berdoa untuk meraih kebahagian ini, sayang kita tidak pernah belajar bagaimana mencari, menggapai, menemukan kebahagiaan itu.

Diabetes Melitus: Mengingkari Diagnosis Dapat Berakibat Fatal

Bermacam reaksi pasien ketika pertama kali diberitahu bahwa mereka menderita diabetes melitus. Ada pasien yang dapat memerima dengan tenang, memahaminya, ada juga yang kecewa, stress, tidak percaya, marah, tidak menerimanya, atau bahkan mengingkarinya.

Innalillahi, Indonesia Kembali Berduka Mantan Mendiknas Prof Malik Fadjar Wafat

Indonesia kembali kehilangan putra  terbaiknya, hari ini, Senin (7/9), dengan wafatnya Prof Abdul Malik Fadjar, mantan Menteri Pendidikan Nasional (2001-2004).

TERPOPULER