Puasa, Ukurlah Lebih Dahulu Lingkar Pinggang Anda

SERUJI.CO.ID – Bulan Ramadhan adalah bulan latihan fisik, mental dan spiritual yang dilakukan secara bersamaan, terus menerus dalam satu bulan. Semua latihan itu bertujuan agar kita yang melaksanakannya, seperti Firman Allah dalam Surat Albaqarah ayat 183, akan menjadi orang yang bertaqwa.

Menahan lapar, dahaga, dan hubungan seksual pada siang hari adalah diantara metode latihan yang diperintahkan Tuhan untuk mencapai derajat taqwa yang diinginkan itu. Apa alasan dibaliknya, hanya Tuhan yang tahu. Tapi, seperti diketahui bahwa makan, minum, seks, merupakan penyebab utama seseorang menjadi loba, tamak. Karena dorongan nafsu makan, minum, dan seks yang tidak terkendali seseorang dapat jatuh terpuruk, menjadi serakah dan sebagainya.

Dari aspek kesehatan, meningkatnya penyakit-penyakit yang mengancam kita sekarang, baik langsung atau tidak juga terkait dengan faktor-faktor ini.

Penyakit degeneratif seperti obesitas dengan segala akibat buruknya, diabetes melitus, hipertensi, stroke, keganasan, dan beberapa penyakit paru, rematik, HIV/AIDS, penyakit seks menular lainnya, juga terkait dengan ketidakmampuan kita mengendalikan, mengontrol dorongan nafsu makan, minum dan seks ini juga.


Jadi, puasa dengan metode pengendalian, menahan lapar, haus, hubungan seks pasti mempunyai implikasi terhadap status kesehatan kita. Bila kita melakukannya sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah, InsyaAllah setelah menjalankan puasa kesehatan kita akan jauh lebih baik.

Penelitian yang pernah dilakukan juga menunjukkan hal yang sama. Dari aspek fisik, terdapat penurunan berat badan mereka yang menjalankan Ibadah puasa Ramadhan yang bermakna sebelum dan sesudah puasa, terutama pada mereka yang sebelumnya overweight. Kadar lipid seperti kolesterol total, trigliseride, LDL ( kolesterol jahat ) juga menurun, sementara HDL ( kolesterol baik ) meningkat.

Pada penderita diabetes melitus, terutama penderita diabetes melitus yang terkontrol, penelitian juga menunjukkan hasil yang serupa, kadar gula darah lebih stabil. Penderita hipertensi, terutama hipertensi sistolik juga menunjukkan penurunan yang bermakna setelah menjalankan puasa selama satu bulan

Pengalaman klinis saya, terutama pada pasien rawat jalan, seperti diabetes melitus, hipertensi, hiperlipidemi, gastritis, dipepsia menujukkan perbaikan selama bulan puasa, bahkan kadang-kadang saya harus menurunkan dosis obat yang selama ini dikonsumsi oleh pasien.


Bagi pembaca SERUJI yang ingin konsultasi ke “Dokter SERUJI Menjawab” silahkan menuju ke sini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Bahagia itu Tidak Bersyarat

Bahagia adalah kata yang tidak asing bagi kita semua. Bahagia merupakan impian semua orang yang hidup di dunia ini. Bahkan tidak hanya di dunia, di Akhirat pun kita mendambakannya. Setiap waktu kita berdoa untuk meraih kebahagian ini, sayang kita tidak pernah belajar bagaimana mencari, menggapai, menemukan kebahagiaan itu.

Diabetes Melitus: Mengingkari Diagnosis Dapat Berakibat Fatal

Bermacam reaksi pasien ketika pertama kali diberitahu bahwa mereka menderita diabetes melitus. Ada pasien yang dapat memerima dengan tenang, memahaminya, ada juga yang kecewa, stress, tidak percaya, marah, tidak menerimanya, atau bahkan mengingkarinya.

Berkebun di Halaman Rumah-pun Dapat Membuat Anda Lebih Sehat

Tidak satu jalan ke Roma, begitu juga dengan kesehatan kita. Banyak jalan yang bisa ditempuh menuju sehat yang kita inginkan. Tapi, yang jelas, tidak ada jalan tol, jalan pintas agar kita tetap sehat, semua dimulai dengan hal-hal Kecil.

TERPOPULER

Diabetes Melitus: Mengingkari Diagnosis Dapat Berakibat Fatal

Bermacam reaksi pasien ketika pertama kali diberitahu bahwa mereka menderita diabetes melitus. Ada pasien yang dapat memerima dengan tenang, memahaminya, ada juga yang kecewa, stress, tidak percaya, marah, tidak menerimanya, atau bahkan mengingkarinya.

Bahagia itu Tidak Bersyarat

Bahagia adalah kata yang tidak asing bagi kita semua. Bahagia merupakan impian semua orang yang hidup di dunia ini. Bahkan tidak hanya di dunia, di Akhirat pun kita mendambakannya. Setiap waktu kita berdoa untuk meraih kebahagian ini, sayang kita tidak pernah belajar bagaimana mencari, menggapai, menemukan kebahagiaan itu.