Memasak Sendiri Itu Lebih Sehat

SERUJI.CO.ID – “Masakan bapak enak sekali”, komentar menantu saya. Entah ya, atau tidak komentar itu saya dengar begitu dia mencoba mencicipi makanan yang saya buat pagi itu, sebelum dia berangkat kerja. Tidak berapa lama setelah itu, anak saya yang mendampinginya waktu sarapan juga mengungkapkan hal yang sama, “hmmm sedap pak, tumben bapak bisa masak sekarang”.

Mendapat komentar, pujian seperti itu tentu saja membuat saya senang. Rasa capek, “jet lag” yang saya rasakan, karena saya baru sampai dari Indonesia kemaren malam, seperti hilang begitu saja.

“Dengan siapa bapak belajar, kok bisa ya?” tanya anak saya lagi.

“Lho, itu kan masakan biasa saja, siapapun bisa melakukannya,


Dila- –nama anak saya—juga pasti bisa, persoalannya mau atau tidak. Bapak memang sebelum berangkat ke sini belajar sedikit dari Mama. Bapak takut juga, kalau sampai di sini masakannya tidak sesuai dengan selera bapak. Dila kan tahu bahwa bapak tidak suka makanan model barat seperti itu, apalagi yang namanya “fast food” membuat bapak mual, diare, dan bagi bapak sendiri makanan “fast food” itu juga tidak punya nilai gizi yang baik. Bapak juga pernah membaca suatu tulisan yang mengibaratkan “fast food” itu sebagai makanan sampah”, saya mencoba menjawab.

Masakan yang saya buat sebenarnya sangat sederhana sekali. Waktu saya lihat di lemari es ada ikan salmon, ada buncis, wortel, bawang bombay merah, bawang putih, cabe, tomat, terlintas dalam pikiran saya, woow ini bahan makanan sehat yang harus juga saya olah dengan cara sehat juga. Ikan salmon kata orang kalau di goreng, bila tidak ahli bisa menjadi keras dan tidak enak, dan nilai gizinya juga mungkin berkurang. Pernah suatu kali istri saya menggorengnya dengan tepung, ternyata memang jadi keras dan tidak renyah lagi. Oleh karena itu, “kenapa tidak dikukus saja? Mungkin lebih enak dan nilai gizinya juga tentu lebih baik”, pikir saya.

Kemudian, saya cairkan ikan salmon yang membeku, saya bersihkan buncis, saya potong memanjang wortel, iris bawang bombay, bawang putih, tomat, cabe merah, dan daun bawang. Ikan salmon lalu sedikit saya taburi merica, garam ( saya tidak suka makanan yang asin, karena saya tahu itu tidak baik untuk kesehatan) dan bawang putih yang diiris agak halus.

Untuk memasaknya sebetulnya ada microwave, tapi saya ingat masakan Ibu saya ( Alm) kalau mengukus cukup ditarok di atas nasi yang sedang dimasak. Istilahnya dulu menurut Alm Ibu saya “diuokan” di ateh nasi. Lalu, Ikan salmon yang sudah dibumbui merica, garam dan bawang putih, ditarok di atas alumunium foil—habis daun pisang atau daun labu siam tidak ada— buncis, wortel, tomat, bawang merah, bawang putih, bawang prei, cabe rawit, daun jeruk, daun salam, sedikit sari lemon, serta kunyit yang dihaluskan juga dimasukkan. Setelah dibungkus dengan alumunium foil itu, masukan ke nasi dalam rice cooker yang sudah mau mendidih. Tidak berapa lama setelah nasi masak, kukusan ikan salmon yang ditambah buncis dan wortel ini siap juga dimakan dalam keadaan panas-panas……”Hmmm, makanan yang enak, dan sehat”, gumam saya dalam hati waktu ikut mencobanya.

Memasak itu menurut yang pernah saya baca, bisa menjadi hobi yang menyehatkan, syaratnya memasaklah dengan hati, nikmati prosesnya, dan itu tidak harus dilakukan oleh kaum Ibu. Jangan-jangan umur harapan hidup yang lebih lama pada wanita ada kaitannya dengan kebiasaan Ibu yang suka memasak ini, mana tahu?…hehehe. Di Minangkabau, juru masak yang terkenal itu bukan malah Ibu-Ibu tapi kaum bapak. Rumah makan Padang yang terkenal ahli masaknya sebagian besar juga kaum bapak, yang memasak rendang, gulai kambing, gulai cubadak, dalam pesta-pesta adat bisanya kaum bapak juga.Juru masak di restoran-restoran, hotel-hotel berbintang juga demikian.

Jadi, kembali kepada kukusan ikan salmon, buncis, wortel, yang menurut anak-menantu saya itu enak sekali, ada juga kelebihannya saya lhat, selain mudah, sehat, dalam sekali aktifitas, disamping nasi masak, lauk-pauk sekaligus juga tersedia. Ibaratkan pepatah melayu, “sekali mendayung sampan, dua tiga pulau terlampaui”. Dan, yang lebih penting lagi, saya merasa puas, senang, dan itu pasti membuat saya lebih sehat. Lalu, kalau kebiasaan memasak ini saya teruskan, saya percaya, ini akan menjadi modal yang menyehatkan bagi saya, menjadi gaya hidup yang positip dalam keluarga…Kenapa anda juga tidak mencobanya?

 

*) Penulis adalah dokter spesialis Penyakit Dalam dan pengasuh rubrik “Dokter SERUJI Menjawab“

(Hrn)


Bagi pembaca SERUJI yang ingin konsultasi ke “Dokter SERUJI Menjawab” silahkan menuju ke sini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Nikmat Allah Jangan Dustakan

Kenapa anak itu bahagia? Karena dia tahu berterimakasih dan menghargai hadiah yang didapatnya.

Puasa: Detoksifikasi Dalam Kehidupan Bergelimang Racun

Penelitian juga menunjukkan bahwa pada saat puasa kadar DDT didapatkan meningkat dalam feses, urin dan keringat mereka yang sedang berpuasa. Ini lah salah satu manfaat utama puasa dalam bidang kesehatan, detoksifikasi, purifikasi.

Takut Komplikasi Diabetes? Ketahuilah Kadar Gula Darah Anda

Merasa badan tidak enak, dan kalau gula darah dirasakan tinggi. “Hhmm, apa gula darah yang tinggi dapat dirasakan,” bisik saya dalam hati.

TERPOPULER

Takut Komplikasi Diabetes? Ketahuilah Kadar Gula Darah Anda

Merasa badan tidak enak, dan kalau gula darah dirasakan tinggi. “Hhmm, apa gula darah yang tinggi dapat dirasakan,” bisik saya dalam hati.
close